Seorang gadis sedang membuat tenun Lampung

Seorang gadis sedang membuat tenun Lampung

A. Asal-usul

Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung berbentuk kain sarung yang dibuat dari tenunan benang kapas dengan motif-motif seperti motif alam, flora, dan fauna yang disulam (sistim cucuk) dengan benang emas dan benang perak. Tenunan ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah (http://www.visitlampung2009.com).

Menurut Van der Hoop, sebagaimana disebutkan http://www.visitlampung2009.com, sejak abad II masehi orang-orang lampung telah menenun kain brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai. Kedua hasil tenunan tersebut memiliki motif-motif seperti motif kait dan konci, pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal, binatang, matahari, bulan, serta bunga melati. Setelah melewati rentang waktu yang cukup panjang, akhirnya lahirlah kain tapis Lampung. Orang-orang Lampung terus mengembangkan Kain Tapis sesuai dengan perkembangan zaman, baik pada aspek teknik dan keterampilan pembuatannya, bentuk motifnya, maupun metode penerapan motif pada kain dasar Tapis (http://lili.staff.uns.ac.id). Read the rest of this entry »

Advertisements

100_6113

Ramadhan memberikan kebahagiaan yang tiada terkira. Putri cantikku Alisha, di bulan yang suci ini telah mulai melangkah untuk menapak perjalanan panjangnya. Cerita tentang mulainya Alisha melangkahkan kakinya, berawal dari di jemputnya Alisha oleh adikku Sigit Mustofa untuk dibawa ke Jember, karena kakek-neneknya di Jember sangat merindukan tawa renyah dan binar matanya. Read the rest of this entry »

Jejak Kejayaan Kesultanan Deli: Masjid Raya Al Mahsun dan Istana Maimoon

Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun

Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun

Dari Museum Langkat, tim BKPBM bergerak menuju kota Medan yang jaraknya sekitar 80 km dari Tanjungpura. Waktu yang sangat terbatas menuntut tim BKPBM tidak saja bergerak cepat, tetapi juga merencanakan dengan cermat daerah-daerah yang hendak dikunjungi. Jika dipagi hari tim BKPBM meningglkan kota Medan untuk menyusuri kejayaan Kesultanan Langkat, maka siang menjelang sore (28 Juli 2009) kami kembali ke Kota Medan untuk mengenang kejayaan Kesultanan Deli.

Menurut catatan sejarah, Kesultanan Deli berdiri tahun 1630 M. Berdirinya kesultanan Deli, ditandai oleh pengangkatan Laksamana Gocah Pahlawan oleh empat Raja Urang Batak Karo. Walaupun telah menjadi sebuah kesultanan, Deli masih berada dibawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Kondisi Kesultanan Aceh yang terus melemah menginspirasi Kesultanan Deli untuk memisahkan diri. Akhirnya pada tahun 1669 M, Kesultanan Deli memisahkan diri dari Aceh. Read the rest of this entry »

Menyusuri Jejak Kejayaan Kesultanan Langkat

Di depan Masjid Azizi-Tangjungpura, Langkat

Di depan Masjid Azizi-Tangjungpura, Langkat

Setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 20 km dari Stabat, Ibukota Kabupaten Langkat, akhirnya tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pemangku BKPBM dan Pimpinan Umum MelayuOnline.com), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog UGM dan Konsultan MelayuOnline.com), Yuhastina Sinaro, SST.Par (Humas MelayuOnline.com), Ahmad Salehudin, MA. (Redaktur MelayuOnline.com dan Pimred RajaAliHaji.com), Aam Ito Tistomo (Fotografer), dan Harris (driver) sampai di Kecamatan Tanjungpura.

Tanjungpura pada zaman dahulu merupakan Ibukota Kesultanan Langkat. Sebagai pusat pemerintahan, daerah ini merupakan kawasan sangat penting, khususnya ketika Kesultanan Langkat mencapai kemajuan yang sangat siginifikan dalam bidang ekonomi akibat dibukanya pertambangan dan perkebunan. Namun seiring berakhirnya kejayaan Kesultanan Langkat, dan juga kesultanan-kesultanan Melayu lainnya di Sumatra Utara, akibat Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 dan revolusi sosial tahun 1946, posisi penting Tanjungpura sedikit demi sedikit meredup. Saat ini, kita hanya dapat menyaksikan kejayaan ekonomi Kesultanan Langkat kala itu melalui bangunan-bangunannya yang sangat monumental, salah satunya adalah Masjid Azizi. Read the rest of this entry »

Menikmati Keanggunan MABMI dan Kekokohan Manumen Tengku Amir Hamzah

Tim BKPBM di Depan Monumen Tengku Amir Hamzah - Stabat

Tim BKPBM di Depan Monumen Tengku Amir Hamzah - Stabat

Setelah menimati keagungan Melayu dalam perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang yang diisi dengan Perhelatan Agung II dan penganugrahan Gelar Adat pada malam sebelumnya, pagi harinya sekitar pukul 09.30 WIB (selasa, 28/07/2008) tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dengan ditemani Bang Harris (driver) meninggalkan hotel tempat kami menginap menuju Kabupaten Langkat. Menurut rencana, kami akan mengunjungi tugu Tengku Amir Hamzah dan Majlis Budaya Melayu Langkat di Stabat, Masjid Azizi, pusara Tengku Amir Hamzah, dan Museum Langkat di Tanjungpura. Read the rest of this entry »

Eksotisme Melayu dalam Perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang

Tim BKPBM bersama Sultan Serdang dan permaisurinya

Tim BKPBM bersama Sultan Serdang dan permaisurinya

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 19.00  (27 Juli 2009) kami bergegas menuju Hotel Tiara Medan untuk menghadiri Hari Keputraan Kesultanan Serdang atau ulang tahun Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II, yang ke-76. Dalam undangan yang kami terima, pada Hari Keputraan tersebut akan diselenggarakan Perhelatan Agung II dan Anugrah Adat Kesultanan Serdang kepada para tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa. Salah satu tokoh yang akan mendapatkan Anugrah Adat adalah Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, SH. MM. Read the rest of this entry »

Medan: Sebuah “Kota Tua”

6

Sejak Senin, 27 Juli sampai Kamis, 30 Juli 2009, Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., (Pemangku BKPBM), Yuhastina Sinaro, S.STPar. (Humas BKPBM), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog Universitas Gadjah Mada dan Konsultan Melayuonline.com), Ahmad Salehudin, MA., (redaktur Melayuonline.com), dan Aam Ito Tistomo (Fotografer) melakukan muhibah budaya di Sumatra Utara (Medan, Langkat, dan Serdang Bedagai). Muhibah ini bertujuan untuk menyusuri jejak kejayaan Melayu di Sumatra Utara dan merangkainya menjadi permadani kebudayaan sehingga dapat dijadikan sarana untuk belajar, dikembangkan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, dan didayagunakan untuk menopang kesejahteraan masyarakat. Aktivitas Tim BKPBM di Sumatra Utara akan dilaporkan dalam beberapa tulisan bersambung.

Jarum jam menunjukkan pukul 13.15 wib, ketika pesawat yang ditumpangi tim BKPBM  mendarat di Bandara Polonia Medan, Senin, 27 Juli 2009. Setelah mengurus barang bawaan, kami bergegas menuju pintu ke luar dan menemui Bang Aris yang mendapat tugas dari Tengku Mira Sinar (Putri Bungsu Sultan Serdang) untuk menemani dan mengantar kami melakukan ziarah kebudayaan di Sumatra Utara. Read the rest of this entry »

Jejak Kejayaan Kesultanan Deli: Masjid Raya Al Mahsun dan Istana Maimoon

Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun

Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun

Dari Museum Langkat, tim BKPBM bergerak menuju kota Medan yang jaraknya sekitar 80 km dari Tanjungpura. Waktu yang sangat terbatas menuntut tim BKPBM tidak saja bergerak cepat, tetapi juga merencanakan dengan cermat daerah-daerah yang hendak dikunjungi. Jika dipagi hari tim BKPBM meningglkan kota Medan untuk menyusuri kejayaan Kesultanan Langkat, maka siang menjelang sore (28 Juli 2009) kami kembali ke Kota Medan untuk mengenang kejayaan Kesultanan Deli. Read the rest of this entry »

Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta

Ketika di hati sepasang pemuda muncul benih-benih cinta

A. Asal-usul

Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960 (http://www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com). Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari (www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com; Sinar, 2009: 48). Read the rest of this entry »

Tenun Buton

April 24, 2009

Seorang pengrajin sedang membuat Tenun Buton

Seorang pengrajin sedang membuat Tenun Buton

A. Asal-Usul

Sampai tahun 1960 yang dimaksud dengan orang-orang Buton menurut JW Schoorl, sebagaimana dikutip Yamin Indas, adalah mereka yang tinggal di Kesultanan Buton, yang meliputi pulau Buton, Muna, Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, Rumbia dan Poleang di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara (Kompas, 22 Jul 2005). Saat ini, wilayah Kesultanan Buton telah terbagi-bagi ke dalam beberapa kabupaten dan kota, yaitu kota Bau-Bau, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, dan Kabupaten Buton sendiri. Tidak hanya itu, seiring meningkatnya mobilitas orang akibat semakin mudahnya alat-alat transportasi, masyarakat Buton juga ternyata telah mendiami daerah-daerah di luar kawasan Kesultanan Buton. Uniknya, walaupun berbeda secara geografis dan administrasi pemerintahan, secara kultural mereka tetap satu. Hal ini terjadi karena masyarakat Buton mempunyai nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pengikat dan perekat hubungan sosial antarmasyarakat Buton di manapun mereka berada. Menurut Indas, salah satu perekat sosial itu adalah kain tenun tradisional Buton (Indas, Kompas, 22 Juli 2005).

Read the rest of this entry »