Memasukkan jenazah ke liang lahat

Memasukkan jenazah ke liang lahat

1. Asal-usul

Bagi masyarakat Banjar, kematian tidak sekedar persoalan keluarnya ruh dari raga, tetapi juga merupakan peristiwa sakral yang menjadi pintu masuk manusia ke alam selanjutnya. Kematian bukan akhir dari perjalanan hidup manusia, tetapi ia adalah awal dari kehidupan yang lain. Sebagai awal dari sebuah kehidupan baru, maka sudah sewajarnya jika mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan dalam kehidupan yang baru kelak. Dalam kata lain, kematian adalah peristiwa yang memerlukan bekal untuk menopang kehidupan barunya. Apa saja bekal yang harus dipersiapkan dan bagimana mempersiapkan bekal mati tersebut sepenuhnya terkait dengan kepercayaan dan keyakinan setiap individu. Read the rest of this entry »

Advertisements

A. Asal-usul

“Saya tidak ingin menikah dengan seorang laki-laki yang tidak berani mengambil resiko melarikan diri dengan saya. Dia akan kelihatan lemah, baik di mata saya maupun orang lain dari desa saya bila dia meminta izin kepada ayah saya. Sebenarnya ayah saya akan melemparnya ke luar rumah bila dia mencoba melakukan hal itu” (Bartholomen, 2001: 204).

Membicarakan pernikahan Sasak, tidak bisa tidak membicarakan merarik, yaitu melarikan anak gadis untuk dijadikan istri. Merarik sebagai ritual memulai perkawinan merupakan fenomena yang sangat unik, dan mungkin hanya dapat ditemui di masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Begitu mendarah dagingnya tradisi ini dalam masyarakat, sehingga apabila ada orang yang ingin mengetahui status pernikahan seseorang, orang tersebut cukup bertanya apakah yang bersangkutan telah merarik atau belum. Tulisan Bartholomen di atas secara jelas menunjukkan bahwa merarik merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam (Bartholomen, 2001: 195). Read the rest of this entry »

1. Asal-usul

Basunat bagi masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merupakan hal yang sangat penting. Bahkan, keislaman seseorang belum dianggap sempurna apabila orang tersebut belum bersunat. Oleh karenanya, orang-orang Banjar sejak masih anak-anak (laki-laki berumur antara 6 – 12 tahun, dan perempuan biasanya lebih muda) telah disunat (Alfani Daud, 1997: 252). Asa bakalalangan haja kaalah kita (terasa mengganggu perasaan kita), demikian biasanya orang-orang mengomentari orang-orang Islam (bersyahadat) yang belum disunat. Selain dilakukan oleh kalangan orang Islam untuk menyempurnakan keislamannya, ternyata sunat juga dipraktekkan oleh masyarakat lokal yang masih menganut agama Balian maupun yang beragama Kristen (ibid). Namun sayang, belum ada cukup informasi yang menjelaskan mengapa mereka mempraktekkan sunat. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Idul Fitri adalah hari kemenangan, di mana umat Islam difitrahkan (disucikan) kembali setelah menjalankan ibadah puasa. Kesadaran akan capaian mereka kembali kepada jati diri nan fitri itu diharapkan akan menjadi semacam pengawasan yang melekat dan bahkan spirit dari dalam diri yang kuat untuk terus meningkatkan kualitas hidupnya, sebagaimana telah dilakukan pada bulan puasa. Setelah dididik melalui momentum puasa, maka untuk merayakannya umat Islam mengadakan syukuran atas nikmat fitri (kesucian seperti bayi yang baru lahir) yang dikaruniakan Allah melalui Idul Fitri.

Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Ramadhan merupakan bulan istimewa. Bak seorang tamu agung dan suci, Ramadan selalu disambut penuh antusias oleh umat Muslim. Masyarakat di berbagai daerah memiliki cara-cara yang berbeda untuk menyambutnya. Perbedaan cara tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan latar belakang sejarah yang menyertai masyarakat serta, secara khusus, persepsi dan pengharapan terhadap bulan Ramadhan itu sendiri. Karena prosesnya berlangsung sejak lama dan bersifat turun-temurun, maka formalisasi cara-cara tersebut menjadikannya sebagai sebuah tradisi. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Pernikahan tidak saja merupakan cara yang paling bermartabat untuk menjamin keberadaan manusia di atas muka bumi, tetapi juga sebagai pengejawantahan dan pewarisan nilai-nilai yang dianut oleh sebuah komunitas (masyarakat). Dengan kata lain, melalui perkawinan masyarakat menjamin keberlangsungannya, dan sekaligus melestarikan, mewariskan dan membentuk peradabannya. Hal itulah yang dapat kita lihat pada pernikahan komunitas Talang Mamak yang hidup di pedalaman Provinsi Riau dan Provinsi Jambi.

Komunitas Talang Mamak merupakan proto Melayu (Melayu tua). Setelah masuknya Islam, komunitas Talang Mamak menyingkir ke daerah pedalaman. Jika Melayu secara umum identik dengan Islam, maka bagi komunitas Talang Mamak, kemelayuan identik dengan adat-istiadatnya (tradisi). Oleh karenanya, upacara pernikahanya sedikit banyak memiliki kesamaan dengan upacara pernikahan Melayu pada umumnya. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Bulan Rabiul Awwal merupakan salah satu bulan bersejarah dalam kalender Islam. Pada bulan ini, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awwal nabi Muhammad SAW, lahir ke muka bumi. Oleh karena itu, bulan Rabiul Awwal oleh sebagain umat Islam disebut juga dengan nama bulan maulud atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran Nabi Muhammad merupakan salah satu nikmat terbesar bagi umat Islam. Bekait dengan hal tersebut, pada bulan ini, tepatnya setiap tanggal 12 Rabiul Awwal, ada sebagian umat Islam yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan khusus untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, seperti upacara Baayun Mulud yang diadakan oleh masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Bahuma atau berladang bagi masyarakat Dayak di Kalimantan tidak semata-mata merupakan aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga aktivitas religius untuk berhubungan dengan Sang Maha Pemberi Rizqi. Ada juga yang menyebutkan bahwa aktivitas bertani yang dijalankan oleh masyarakat Dayak merupakan bagian dari religi huma. Puncak dari tradisi ritual bahuma adalah Aruh Ganal (kenduri besar), yaitu pesta yang diadakan setelah panen raya sebagai ungkapan syukur atas rizqi yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Selain itu, Aruh Ganal juga sebagai permohonan agar hasil pada musim tanam berikutnya semakin melimpah dan dijauhkan dari hama perusak tanaman. Read the rest of this entry »