Muktamar NU 33: Eksotis, Dinamis, dan Mencerdaskan

August 7, 2015

Jamaah Nahdliyin Mataram di Arena Musyawarah Anak Muda NU

Jamaah Nahdliyin Mataram di Arena Musyawarah Anak Muda NU

Siang menjelang Ashar, di Senin 3 Agustus 2015, di sisi utara Masjid Alon-alon Jombang. Nampak seorang pengendara motor sedang “berdebat” dengan seorang tukang parkir. Melihatnya aku berusaha mendekat. Rupanya si pengendara sepeda motor sedang memaksa agar diijinkan parkir di tempat tersebut. Di tengah adu argumen tersebut, aku mendengan si pengendara mengucapkan mantra ampuh, “Saya peserta Muktamar”. Namun, si tukang parkir tidak mau kalah. Dia bilang, “semua yang parkir di sini juga peserta muktamar pak, katanya dengan tersenyum. Si Bapak pengendara motor ngeloyor pergi, dan aku pun belalu sambil ngakak, hahahahah…..

Aku sebenarnya tidak ingin mendekat ke arena Muktamar NU. Aku hadir di Jombang hanya untuk menghadiri Musyawarah Kaum Muda NU yang diselenggarakan di kompleks UNWAHA Tambak Beras, tidak lebih. Jika pun harus melakukan aktivitas lainnya, maka yang akan saya lakukan adalah ziarah ke makam muasis Nahdlatul Ulama.

Ziarah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, dan KH Hasyim Asyarie di Tebuireng

Ziarah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, dan KH Hasyim Asyarie di Tebuireng

Ketika kawan-kawan ngajak untuk “mendistribusikan” buku “Jalan Kulturan Islam Nusantara”, yang merupakan karya sahabat-sahabat muda Jamaah Nahdlitin Mataram (JNM), aku pun memilih untuk tetap diam di penginapan. “Ahh, paling ya ngono kui, di jogja hal tersebut biasa aja.” kataku dalam hati. Bahkan ketika Presiden Jokowi dengan memakai sarong warna merah maron hadir di alon-alon Jombang untuk membuka acara Muktamar NU, saya memilih untuk tinggal di tempat nginap. Padahal di sekitaran tempatku menginap, orang-orang berbondong menuju alon-alon. Seorang kawan lama di Jombang melalui WA menyampaikan orang menyemut sejak 3 km dari lokasi acara. Mereka berjalan kaki. Luar biasa.

Namun, keenggananku untuk menghindar dari lokasi muktamar akhirnya sirna juga. Pemberitaan mass media, baik cetak maupun online dan elektronik, membetot dan mendorongku untuk merapat ke Muktamar. Dorongan itu semakin tak terbendung ketika sebuah media cetak yang berbasis di Jawa Timur menurunkan berita yang sangat provokatif, “Muktamar NU gaduh, Muhammadiyah Teduh”. Belum lagi berita-berita lain dengan judul yang menggetarkan.

Sesaat setelah pembacaan tahlil sebagai acara penutup musyawarah kamu muda NU

Sesaat setelah pembacaan tahlil sebagai acara penutup musyawarah kamu muda NU

Tak pelak, berita itu membuatku bertanya-tanya, benarkah situasi Muktamar kacau balau? Padahal di Tambak Beras yang menjadi lokasi musyawarah kaum muda NU, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari alon-alon, suasananya sangat-sangat nyaman. Anak-anak yang jumlah resminya sekitar 1800 orang (belum termasuk yang romli…. ) tumplek blek mendiskusikan NU dan bangsa. KH Maimun Zubair hadir memberikan tausyiah, suasana guyub, dinamis, dan mencerdaskan.

Tak kuat dengan bombardir berita-berita tersebut, pada 3 Agustus 2015, sekitar pukul 11 , aku meninggalkan lokasi Musyawarah Kaum Muda NU. Dengan nebeng mobil seorang sahabat, meluncur ke lokasi muktamar NU ke-33, Alon-alon Jombang. Sahabat saya kesulitan mencari lokasi parkir. Sekitaran alon-alon penuh dengan kendaran parkir. Akhirnya, dengan arahan pak Polisi, mobil sahabat saya berhasil parkir.

11825198_10206227226552858_7248945432811374574_n

Perjalanan menuju lokasi muktamar sungguh menarik. Jejeran orang berjualan memenuhi kiri-kanan jalan. Mulai dari yang berjualan makanan, pakaian, sampai yang membuat tersenyum, seperti gurah mata, jasa pijet dan canduk pinggir jalan, dan banyak lagi yang “aneh-aneh”. Intinya, sampai masuk lokasi muktamar, saya belum merasakan suasana Muktamar NU yang chaos, sebagaimana digambarkan beberapa media massa.

Action dulu hheheeh

Action dulu hheheeh

Akhirnya aku tiba di media center yang berada persis di sebelah tenda muktamar. Media center menjadi tempat orang-orang bersantai, ngobrol sambil rokoan, dan tidak sedikit yang dlosor, tidur. Ada yang pakai ID Card peserta, namun lebih banyak yang tidak memakai identitas apapun. Padahal, di media center ini semua informasi tentang “kekisruhan” muktamar diberitakan. Namun, aku sama sekali tidak merasakannya.

Iseng-iseng aku tanya pada seorang bapak yang sudah agak tua, yang di lehernya tergantung ID Card sebagai peserta berasal dari Kuantan Sangigi. “Bapak, katanya muktmar Kisruh ya..?”, tanyaku. “Saya juga tidak tahu. Saya tahunya adanya kisruh setelah di telp keluarga di rumah,” kata si Bapak yang terlihat lelah.

Aneh memang, banhkan pesertapun “ada” yang tidak tahu adanya kekisruhan itu. Lah jika demikian, benarkah ada “kekisruhan” itu..? Aku bersama sahabatku kemudian bergeser dari Media Center menuju arena Muktamar, sebuah tenda yang sangat besar. Penjagaannya sangat ketat. Hampir mustahil ada orang “asing” tanpa ID Card yang bisa masuk. Banser layak mendapat acungan jempol atas dedikasinya mengamankan Muktamar. Adanya cerita bahwa baser melarang seorang kyai untuk masuk dan sempat kontak fisik dengan pengawal sang kyai, sebenarnya hanya masalah miskomunikasi saja. Banser menjalankan tugasnya, sedangkan pengawal sang kyai ingin agar kyainya lansung masuk. Setelah miskomunikasi terselesaikan, salah satu pengawal kyai bilang, “Di Jawa, banyak terdapat kyai, dimana-mana ada kyai, kalau di tempat kami, beliaulah kyai satu-satunya.”

Suasana Muktamar NU, selamat bermuktamar untuk meneguhkan Islam Nusantara

Suasana Muktamar NU,
selamat bermuktamar untuk meneguhkan Islam Nusantara

Aku dan sahabatku bisa masuk dengan “diantar” Banser masuk arena Muktamar. Di dalam suasana sedang tidak ada sidang. Sedang break, karena para Rais sedang bertemu dengan PJ Rais Rais KH. Mustofa Bisri di Pendopo Kabupaten Jombang. Lebih masuk ke dalam, saya melihat Ketua Panitia, KH. Drs. Imam Aziz sedang ngorborol nyantai dengan pimred NU Online Savik Ali dan beberapa peserta.

Terlihat mas Imam sangat sangat rilex. Sesekali tertawa. Biasa saja, sepertinya tidak terjadi apa-apa. Ketika aku bertanya tentang berita di media yang menggambarkan seolah-olah Muktamar kacau dan NU akan pecah, mas Imam dengan tersenyum bilang, ya memang ada dinamika forum. Inilah model demokrasi ala NU, sangat demokratis. Siapapun boleh menyampaikan pendapatnya, bahkan boleh berbeda pendapat dengan siapa saja. Itu hanya sekedar dinamika forum. Orang yang tidak memahami NU akan kaget melihat dinamika forum-forum NU.

KH Imam Aziz, Ketua Panitia Pusat Muktamar NU 33 di Jombang

KH Imam Aziz, Ketua Panitia Pusat Muktamar NU 33 di Jombang

Setelah ngobrol dengan Mas Imam hampir 30 menit, anggota Banser yang ngawal kami dengan tersenyum menghampiri, “Bapak, apakah sudah cukup? Jika sudah, mohon segera keluar karena peserta muktamar sudah mulai berdatangan,”. Aku pun keluar, dengan satu prasangka, bahwa ada upaya-upaya pihak tertentu untuk “mencitrakan” buruk Muktamar NU 33 di Jombang.

Nyelfie dulu...

Nyelfie dulu…

Apa yang terjadi sebenarnya hanya dinamika saja, bukan substansinya. Gonjang-ganjing tiba-tiba hilang sama sekali ketika PJ Rais Amm KH Mustofa Bisri menyampaikan pidatonya. Bekas-bekas perbedaan pendapat seolah-olah sirna, habis sama sekali. Inilah pola rekonsiliasi ala NU. Dan semua orang yang tidak memahami NU, KEMBALI TERKAGET-KAGET !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: