Athalia Humaira Pramodawardhani

April 18, 2013

Humaira lagi action mau difoto ayahnya

Humaira lagi action mau difoto ayahnya

“Adiknya Alisha namanya siapa?” demikian bunyi SMS, BBM, inbox dan wall FB yang selalu menyapaku. Pertanyaan bertubi-tubi tentang siapa nama putri keduaku, membuatku semakin bingung untuk memberinya nama. Bingung karena saya termasuk orang yang percaya bahwa nama adalah doa dan harapan kedua orang tuanya. Oleh karena itu, menurut saya, nama tidak boleh hanya bagus untuk diucapkan, tapi juga harus memiliki “jiwa” dan “tuah”. Yach “jiwa” dan “tuah” yang dengannya seorang anak akan bangga dengan namanya; seorang anak akan “menjadi,” seperti nilai “doa” yang ada dalam namanya.

“Nama anak harus Islami,” demikian salah satu SMS seorang kawan. Saya sepakat dengan saran itu, tapi mungkin sedikit berbeda dalam menafsiri kata Islami. Islami tidak harus Arab. Islami dapat dari bahasa apa saja; seperti Jawa, Indonesia, Melayu, dan Sansekerta. Bagiku, yang penting sebuah nama mengandung “doa” harapan baik, dan merasa senang menyandang nama tersebut.

Setelah merenung dan memohon petunjuk dari Gusti Allah, akhirnya diputuskan putri kedua ku diberi nama Athalia Humaira Pramodawardhani, yang artinya perempuan agung berpipi merah yang memiliki kebahagiaan selalu bertumbuh. Proses mendapatkan nama tersebut tidak mudah, tetapi melalui proses penenunan yang agak rumit dan memerlukan waktu yang relatif lama.

Berikut saya akan ceritakan proses penenunan untuk nama anakku yang kedua. Prinsip dasar yang saya anut dalam dalam mempertimbangkan nama adalah kesan pertama kali terhadap anakku. Misal anakku yang pertama, diberi nama Alisha Haura Afiqoh karena kesan pertama atasnya adalah: aku melihat matanya berkilat dan sangat tajam, serta kulitnya putih.

Humaira ditemani kakak Haura

Humaira ditemani kakak Haura

Demikian juga dengan putri keduaku. Kesan pertama ketika melihatnya, pipinya kemerahan, kulitnya putih, dan cantik. Kesan ini juga didapatkan oleh sahabat baikku, Yuhastina –Naina—Sinaro. Oleh karena kesan tersebut, maka sejak baru lahir, dia telah kami panggil Humaira (maira). Nama Humaira juga merupakan ekspresi sayang sebagaimana dilakukan oleh Baginda Kanjeng Nabi Muhammad kepada Istrinya Siti Aisyah. Dan mengikuti suasana hati Kanjeng Nabi Muhammad, nama Humaira digunakan untuk putri kedua kami.

Selanjutnya nama Pramodawardhani. Pramodawardhani merupakan bahasa sansekerta yang terdiri dari kata pramoda dan wardhani. Promoda bermakna kebahagiaan dan wardhani bermakna selalu bertumbuh. Jika digabungkan, maka bermakna kebahagiaan yang selalu bertumbuh. Namun keinginan kali pertama menggunakan Pramodawardhani bukan karena maknanya tersebut, tetapi ketokohan dari Pramodawardhani, yang merupakan putri mahkota Wangsa Syailendra dan bersuamikan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya.

Ketertarikan menggunakan nama Pramodawardhani terinspirasi dari sebuah buku yang saya baca dalam rangka pembuatan Preleminary Papers untuk disertasiku. Salah satu bagian dari buku itu menceritakan sejarah Jawa pada masa pembangunan Candi Prambanan dan Candi Brobudur. Menurut buku tersebut, Pramodawardhani adalah seorang ratu perempuan yang sangat cantik dan religius, dan merupakan tokoh kunci dibalik berdirinya Candi Brobudur dan Candi Prambanan, serta beberapa candi yang berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Pramodawardani adalah putri seorang raja dari Wangsa Syailendra yang beragama Hindu. Dia kemudian menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang beragama Buddha, dan merupakan inisiator dari pendirian Candi Borobudur. Titik penting keberadaan Pramodawardhani adalah dia seorang ratu yang menjembatani “bertemunya” agama Hindu dan agama Buddha. Jika berkunjung ke kompleks percandian di Prambanan –perbatasan Yogya dan Klaten–, maka disitu kita lihat adanya Candi Prambanan, yang  merupakan candi Hindu, berdiri yang sangat megah. Dan tidak jauh disebelah utaranya ada Candi Plaosan nan eksotik yang merupakan Candi Buddha. Hal menarik lainnya dari candi Plaosan adalah arsitekturnya yang menggabungan –mensinkretikkan—corak candi Hindu dan candi Buddha.

Athalia Humaira Pramodawardhani tidur nyenyak

Athalia Humaira Pramodawardhani tidur nyenyak

Kemudian nama Athalia. Nama ini dipilih selain karena memiliki makna yang bagus, yakni bermakna perempuan agung, sehingga dapat menopang spirit yang terkandung dalam kata Humaira dan Pramodawardhani, juga karena memiliki aspek bunyi yang sama dengan kakaknya, Alisha. Dalam proses penenunan nama putri keduaku ini, saya hampir tidak menggunakan kata Athalia, tetapi malah diprotes oleh Alisha. “Athalia harus tetap digunakan, Yah…!,” kata Alisha saat itu.

Berdasarkan berbagai macam pertimabngan tersebut, maka putri kedua kami diberi nama Athalia Humaira Pramodawardhani. Mohon bantuan doa dari sahabat-sahabat agar kelak dia menjadi manusia yang kehadirannya membawa kebaikan, kebahagaian, dan kesejahteraan bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya, serta Mahluk Tuhan semuanya.

Akhirnya, kepada semua pihak yang telah terlibat dan melibatkan diri dalam proses pemberian nama kepada putri kedua ku, baik secara sengaja atau tidak sengaja, kami ucapkan banyak terimaksih. Nanti kita akan bertemu kembali dalam tulisan tentang slematan Aqiqahan dari Athalia Humaira Pramodawardhani, yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

One Response to “Athalia Humaira Pramodawardhani”

  1. wiehab moeslem said

    Tante lebih suka panggil Aira …. sebagaimana penggilan cucu pertama Orang No 1 di Indonesia …. hehhehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: