Bersembunyi di Rumah Sakit…. (lanjutan)

April 5, 2013

Humaira umur sehari

Humaira umur sehari

Sesaat setelah anakku lahir, aku segera kirimkan fotonya kebeberapa sahabat, baik yang ada di Yogya maupun di luar Jogja, baik dengan SMS, BBM, maupun Facebook. Tak lupa juga aku bilang, “telah lahir putri kedua kami, Berat Badan 3,4 Kg, dan Panjang Badan 49 cm. Terikasih atas support dan doanya.” Sangat banyak yang mengucapkan selamat atas kelahiran putri kami, dan atas itu semua saya membalas dengan ucapan terimaksih.

Satu hal yang tidak mampu  kami jawab (baca: menghindar) adalah jika ada yang menanyakan dimana istriku melahirkan. Semua SMS, BBM, wall FB dan Inbox FB yang menanyakan hal tersebut dengan sangat terpaksa tidak saya jawab. Bahkan selama seminggu di Rumah Sakit, saya bertahan untuk tidak mengangkat telp. Ada satu cerita yang sangat mengharukan, dimana dengan sangat terpaksa harus menekan perasaan ketika sahabat-sahabat dari Center for Entrepreneurship Studies (CENDI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yaitu direktur Cendi Mas Abdur Rozaki, Sekjen Cendi Mbak Ruspita Rani Pertiwi, Menteri Keuangan Cendi Mbak Siti Rohaya, dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Mas Noor Syaif M Musafi secara mendadak datang ke sebuah Balai Bersalin di kawasan Babarsari Yogyakarta. Tentu saja tidak akan ketemu dengan kami, karena kami memang tidak disitu.  Sebenarnya cukup beralasan kenapa punggawa Cendi ke Babarsari, karena selama pemeriksaan kandungan kami memang disana.

Menurut cerita, semua kamar di Babarsari dicek, apakah kami disitu. Tidak berhenti disitu, mas Rozaki, Mbak Yaya, Mbak Pita, dan Mas Syaif secara bergantian SMS, BBM, dan telp.  Sebenarnya sangat ingin menjawab, tapi jika dijawab, tentu terbongkar tempat “persembunyian” kami. Terkait hal tersebut, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Demikian juga dengan sahabat-sahabat lainnya… sekali lagi, kami mohon maaf. Bahkan agar tempat persembunyian kami tetap aman, Alisha untuk sementara “dilarang” sekolah.

Saya melakukan itu, karena saya ingin agar istri saya betul-betul tenang dalm proses pemulihannya. Saya sangat merasakan betapa “tersiksanya” dia setelah proses melahirkan dengan cesar. Oleh karenanya, mohon dimaklumi. Selama proses pemulihan, kami ditemani oleh Ibu Mertua dari Madiun dan putri pertamaku Alisha Haura Afiqoh. Dan secara berkala dibantu oleh dua orang mahasiswa, yaitu mas Hanif dan Mas Mufid. Pesen kami kepada mas Hanif dan Mas Mufid, tolong jangan cerita ke kawan-kawan mahasiswa yang lain, dan saya sangat bangga karena mereka berdua amanah.

Berempat (Saya, Istri, Alisha, dan Ibu Mertua) di rumah sakit emang berat, tapi cukup mengasikkan dan banyak pelajaran yang ku dapat. Setiap pagi setelah salat subuh, saya pulang ke rumah untuk mematikan lampu, mencuci popok dan gedong, dan kembai ke Rumah Sakit sambil membawa popok dan gedong pengganti. Dan tentu saja menyediakan makan untuk Alisha dan Ibu Mertua. Sore hari, saya kembali ke rumah untuk menghidupkan listrik, membeli makan, dan mengambil gedong dan popok. Begitulah setiap harinya…

Setelah seminggu, akhirnya kami bisa keluar dari rumah sakit, dan alhamdulillah Istri dan anak kami sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: