Detik-detik Persalinan Putri Kedua

March 30, 2013

sesaat setelahhumaira lahir

sesaat setelahhumaira lahir

25 Maret 2013, pukul 08.55, telah lahir putri kedua kami secara cesar, dengan Berat Badan 3,4 kg dan Panjang Badan 49 cm. Ada banyak cerita dibalik kelahiran putri kedua kami tersebut, selain karena lahir dengan cesar, juga proses menuju kelahirannya juga relatif berliku. Berbeda dengan putri kami yang pertama, Alisha Haura Afiqoh, dimana istriku dalam proses menunggu kelahiran berada di Madiun Jawa Timur, sehingga saya tidak bisa mendampingi istri setiap hari, kehamilan untuk putri kedua kami, istri saya tetap tinggal di jogjakarta.

Humaira bersama kakaknya (Haura)

Humaira bersama kakaknya (Haura)

Konsekuensi atas keputusan melahirkan di Yogyakarta, salah satunya adalah keharusan saya untuk mendampinginya secara penuh, mulai dari men-take over hampir semua pekerjaan istri –nganter anak pertama sekolah, mencuci, dan masak–, periksa dokter, mencari dan memutuskan dimana kelak akan melahirkan. Men-take over sebagian saja dari pekerjaan rumah tangga yang setiap hari dijalani istri ternyata sangat berat, dan butuh kesabaran ekstra.

Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang tidak pernah berakhir. Jika kita masak, maka sebelum masak kita harus mempersiapkan semua bahan yang hendak dimasak –meracik bumbu, membeli lauk-pauk–, dan tentu saja peralatan masaknya. Pada saat memasak, kita juga harus benar-benar “siaga” agar masakan kita layak dimakan, minimal sebagaimana telah dilakukan oleh istri setiap harinya. Setelah selesai masak, peralatan masak harus segera dibersihkan agar jika mau memasak lagi kita tidak kesulitan –berbeda dulu dengan ketika di pondok, dimana jika selesai masak peralatan dibiarkan berserakan.

Setelah masak, maka waktunya makan. Setelah makan, pekerjaan rumah tangga kembali menumpuk, berupa cucian piring kotor dan kawan-kawannya. Setelah mencuci piring, maka pekerjaan lain sudah siap menunggu, mencuci pakaian kotor. Mencuci pakaian kotor, sebenarnya cukup mengasikkan dan dapat menjadi cara untuk refresing, tapi ketika menjadi rutinitas terkadang menjadi persoalan tersendiri. Selesai mencuci, saatnya membersihkan rumah. Setelah itu baru nganter dan jemput anak sekolah, and ngampus.

Beberapa bulan men-take over pekerjaan rumah tangga membuatku lebih memahami dan menyadari betapa hebatnya perempuan yang memilih “bekerja” di keluarganya. Pilihannya untuk “bekerja” dalam rumah adalah sebuah pilihan bervisi-misi jangka panjang, menjamin agar anak-anaknya —-tentu dengan suaminya—akan mendapatkan kehangatan keluarga, kasih sayang, dan pendidikan paling fundamental dalam kehidupan anak-anak. Tentu saja, para ibu yang memilih bekerja di luar rumah juga hebat.

Bayi Kami Sungsang

Kembali pada pokok tulisan ini, yaitu tentang kehamilan istri saya yang kedua. Terus terang, menunggu kelahiran anak kedua membuat saya agak nervous, apalagi sejak 6 bulan hasil USG menunjukkan bayi kami posisinya sungsang. Saran dokter, harus sering sujud. Dokter juga mengajarkan bagaimana “sujud” yang benar. Mulailah, istri membiasakan diri untuk sujud. Saya juga setiap pulang kerja, atau saat ada kesempatan juga mengingatkan agar sujud. Memasuki bulan ke tujuh, posisi bayi kami sudah sesuai, artinya kepala di bawah. Namun, menjelang bulan ke delapan, berdasarkan hasil USG, bayi kami kembali sungsang. Saat itu istri agak panik, kenapa sungsang lagi.

Istri semakin bersemangat untuk sujud, bahkan menurut saya sudah terlalu banyak. Rupanya istri tidak ingin anaknya lahir dengan cesar, tapi ingin melahirkan secara normal. Menginjak bulan ke 9, berdasar hasil USG, bayi kami tetap sungsang. Istri kelihatan sangat kecewa karena usahanya tidak membuahkan hasil. Tugas saya adalah menguatkan istri saya agar mau menerima “kenyataan” melahirkan dengan cesar.

Bersiap Operasi Cesar

Sehari sebelum HPL (hari perkiraan lahir) 23 Maret 2013, atau tepatnya Jumat, 22 Maret 2013, saya kembali mengantar istri untuk periksa dokter. Hasil USG masih sama, bayi masih sungsang maka harus operasi. Istri sudah dapat menerima kenyataan tersebut. Kemudian dokter membuat surat pengantar untuk lahir pada hari senin, 25 Maret 2013, atau dua hari lebih dari tanggal HPLnya. Alasannya, karena 23 dan 24 (Sabtu dan Ahad) rumah sakit libur.

Setelah membuat keputusan untuk melahirkan 25 Maret 2013, istri menjalani serangkaian pemeriksaan, seperti jantung, darah, dan dalam. Semuanya baik, dan siap untuk operasi. Kami pulang dan mempersiapkan semua keperluan untuk melahirkan, terutam untuk keperluan bayi. Ahad sore atau malam senin, kami masuk rumah sakit. Alisha (putri pertama) hanya mengantar sebentar, dan tinggal di rumah bersama utinya (nenek) dari madiun.

Oleh karena operasi operasi akan dilaksanakan pukul 08.30, maka sejak pukul 01.00, istri saya diminta untuk puasa. Malam itu, hampir tak sekejab pun mata dapat terpejam. Saya ikut merasakan kegelisahan yang dialami istri saya. Dengan berbekal keterangan dokter, bahwa operasi cesar relatif aman, dan sangat sedikit yang bermasalah, saya terus meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Malam itu, yang bisa dilakukan adalah berdoa dan berdoa, semoga proses operasi berjalan lancar, istri dan si jabang bayi sehat dan selamat.

Pukul 05.00, sebagaimana disarankan para perawat, istri saya mandi dan membersihkan semua hal yang perlu dibersihkan. Selesai mandi, peralatan untuk menopang operasi mulai dipasang, seperti memasang infus, pembalut, dan cateter (saluran untuk kencing). Tidak lupa pula dikasih obat cair, yang konon untuk menghilangkan mual pasca operasi. Sampai tahapan tersebut, saya masih merasa biasa saja.

Waktu terus berjalan, 8.20 perawat mengatakan bahwa operasi akan segera dilakukan. Tiba-tiba aku merasa takut. Sungguh merasa takut, jika operasi tidak berjalan sesuai rencana. Istriku dibawa ke ruang operasi, aku berjalan di sampingnya. Semakin mendekati ruang operasi, aku merasa semakin tidak karuan, semakin bingung. Perawat bilang bahwa saya tidak boleh ikut ke ruang operasi, saya dipersilahkan menunggu di luar ruangan. Hati semakin dag-dig-dug. Bingung mau ngapain.

Pukul 08.30, seorang dokter yang kemudian memperkenalkan diri sebagai dokter Agus, memanggil saya masuk ke ruang operasi. “Saya dokter Agus, saya dokter anastesi. Menurut rencana, istri bapak nanti akan dibius lokal, yaitu dari perut ke bawah. Pembiusan dengan cara demikian, tidak akan berpengaruh terhadap bayi. Namun jika tidak berhasil, akan dilakukan pembiusan total, dan tentu berpengaruh terhadap bayi,” kata dokter sambil melihatku.

Mendengar kata bius total, hatiku menjadi ciut. Teringat beberapa waktu lalu seorang gadis yang koma berhari-hari karena persoalan “pembiusan”. Betul-betul ciut nyaliku, dan hanya mampu bilang, “tolong lakukan yang terbaik dok.” Karena bagaimanapun, proses itu harus tetap dilampaui. Namun karena melihat aura sangat positif dalam perkataan dokter Agus, hatiku menjadi agak tenang. “Semoga semua berjalan lancar dan sesuai rencana dan pengharapan,” gumamku sambil keluar ruang operasi.

Menunggu sungguh tidak nyaman, apalagi dalam kondisi yang demikain. Duduk, berdiri, duduk lagi, dan berdiri lagi, itu yang bisa dilakukan. Ditengah kegundahan tersebut, saya selalu terus membaca, “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin nuri dzatiyyi, wasirri assariyyi fi sairil asma’i wa assifati, waala alihi wasahbihi wasallam”. Terus saya baca untuk mengurangi ketegangan.

Pukul 08.55 terdengar suara tangis bayi. Aku mendekat ke pintu yang yang deket dengan ruang operasi. “Al-Hamdulillah,” ucapku, anak keduaku telah lahir. Namun demikian, dag-dig-dug hatiku belumlah berhenti, karena aku belum melihat anak dan istriku. Sampai akhirnya pukul 09.15, seorang perawat membawa anakku ke luar dengan dibalut kain gedong. “Selamat pak, anaknya cantik, Beratnya 3400 gram, dan Panjangnya 49 cm.” Kata si perawat dengan ramah.

Aku segera mengikuti si perawat yang membawa anakku ke ruang bayi. Setelah itu aku ijin kepada si perawat untuk meng-adzani anakku. Setelah diadzani, anakku dibawa ke kamar untuk menunggu ibunya. Tak berapa lama kemudian, istriku telah datang, dengan senyum tersungging dibibirnya. Walau terlihat gembira, istriku kelihatan sangat capek. “Putri kita yang kedua cantik dan putih, seperti kakaknya,” kata ku sambil menyuruhnya istirahat.

2 Responses to “Detik-detik Persalinan Putri Kedua”

  1. Alhamdulillah…apa masih adakah kelahiran yg ketiga mas..?? jk ada smg putra yg tampan bak ayahandanya…Selamt ya..mas…

  2. mala said

    Selamat ya … Sorry telat ucapinnya, hehehhee ketegangannya mungkin sama spt yg dialami suami aku ya mad. Yg penting sehat semua. Salam utk kelg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: