Mengapa saya tidak tertarik MLM?

February 6, 2013

saat masih bekerja di www.melayuonline.com

saat masih bekerja di http://www.melayuonline.com

Saya mulai mendengar dan mengenal kata MLM ketika masih sekolah di MAN (setingkat SMA) di Jember, tahun 1996-an. Mengetahuinya sebenarnya tidak sengaja. Kakak kelasku sedang bercerita kepada temannya tentang bisnis yang sedang digeluti kakaknya: sangat mudah dikerjakan tetapi menjanjikan uang berlimpah. Konon, dari usaha yang digelutinya itu, sang kakak sudah hidup nyaman dan mapan di Surabaya: punya rumah bagus dan beberapa mobil. Belakangan saya ketahui, bisnis itu bernama MLM (muti level marketing).

Mendengar cerita teman saya teresebut, si teman tampak antusias. Dia mulai menanyakan apa persyaratannya. Persyaratannya relatif mudah: foto copy KTP dan membeli beberapa produk yang menurut saya relatif mahal. Terus terang, saat itu saya juga tertarik —siapa yang tidak ingin punya rumah, mobil, dan kapal pesiar? Sebagaimana disampaikan oleh kakak kelas saya tersebut? –, namun karena tidak punya uang, saya pendam keinginan saya tersebut. Teman kakak kelas saya tersebut sangat antusias untuk menjajakan produknya. Setiap ketemu orang dia sampaikan “jualannya”. Selang beberapa bulan, teman kakak kelas saya tersebut berhenti sama-sekali dari jualan dagangannya. Ketika saya tanya kenapa berhenti, dia hanya bilang, “capek, gak ada yang tertarik.”

Sampai aku kuliah di Jogja tahun 1997, tidak ada lagi cerita MLM. Sampai suatu ketika, yaitu ketika saya semester 9, teman saya kembali mengenalkan saya dengan sebuah MLM yang sedang berkembang pesat di Jogjakarta. Saya sempat diajak ke kantornya. Disana saya saya di prospek oleh temannya yang konon sudah berpenghasilan minimal 2 juta perminggunya. Dia mulai menjelaskan bahwa MLM yang dijalankannya sudah mendapat sertifikat halal dari MUI, dilanjutkan dengan skema kerja bisnisnya dan keuntungan-keuntungan yang akan didapatkannya: mulai uang yang akan diterima setiap minggu, mobil, rumah, bahkan kapal pesiar. Setelah sisi tanya jawab, saya iseng bertanya, bagaimana dengan orang yang setelah ikut tapi kepentok tidak mendapatkan pengikut? Sang prospekter berkata, “yang mendapatkan untung jelas hanya mereka yang bekerja keras”.

Mendapat jawaban seperti itu, saya yang pada awalnya bersemangat, langsung luruh. Yang pada awalnya sudah berpikir darimana mendapatkan uang untuk membeli produk-produk, langsung tidak minat sama sekali. Ketika teman saya bertanya kapan akan mulai ikut, saya selalu bilang belum punya duit, walau alasan sebenarnya karena tidak lagi tertarik. Bahkan, dia sempat bilang, “atau pinjam dulu duitku, nanti kalo dah berhasil dikembalikan?” mendengar tawaran “kebaikan”nya tersebut, saya semakin ingin segera menjauh. Kesimpulannya, saya tidak ikut MLM tersebut….

Saya kembali diprospek oleh adik temanku ketika kuliah S2 masuk tahun kedua. Saya masih ingat, sore itu saya mengunjungi kostnya untuk menanyakan kabar temanku yang konon sudah bekerja di pabrik kimia di Tangerang. Rupanya, si adik temanku sedang tidur. Aku bangunkan dia, tapi respon yang saya dapatkan sungguh mengejutkan. Bagitu terbangun dan duduk, dia langsung bertanya padaku,”coba bayangkan jika awakmu kuliah S2 tidak dengan biaya sendiri?”, mendapatkan pertanyaan itu, aku langsung jawab, “aku kuliah dengan beasiswa kok.” Dia berkomentar lagi, “jika beasiswamu dapat awakmu simpan, kan lebih baik”.

Mendengar dan melihat betapa bersemangatnya adik temanku bercerita tentang kemandirian, saya langsung bilang, “Kau mau mrospek aku ya…?, ahahahhahaha… emang MLM apa yang kau ikutin?”, setelah dia bilang, aku langsung pamit pulang, karena suasananya sudah tidak nyaman. Dan menjadi lebih tidak nyaman, karena persahabatan kita menjadi modal bagi dia.

Beberapa bulan lalu, ada mahasiswa saya yang sedang sangat bersemangat untuk berbisnis. Bahkan, agenda kuliahnya sempat kacau. Beberapakali tidak masuk kelas karena urusan bisnis. Ketika saya tanya bisnis apa? Dia tidak mau mengaku. Sampai akhirnya saya menerka, ikut MLM ya? Dia dengan ekspresi terkejut mengatakan, “kok tahu?”, saya bilang bahwa banyak mahasiswa baru yang “terbuai” mimpi bisnis MLM, dan kuliahnya hancur.

Rupanya dia tidak terima dengan statemen saya tersebut. Dia bilang bahwa akan mampu mengatur waktu dan bisa kuliah dengan biaya sendiri. Melihat tekadnya, saya acungi jempol, Cuma bisa berkomentar, “biasanya kita tidak mampu meraih dua hal dengan hasil maksimal secara bersamaan. Biasanya, salah satu harus dikorbankan.”

Dia terus menyakinkan bahwa dia akan dapat menjalani bisnis dan kuliahnya dengan baik. Tapi lama-kelamaan, nampaknya dia mulai panik dengan bisnis dan kuliahnya. Dia mulai sibuk mengatur waktu antara berbisnis dan kuliah. Dia mulai meluangkan waktu untuk tidak kuliah, dan banyak menghabiskan waktunya untuk berbisnis. Dia pun kelihatan mulai keteteran.

Tapi yang membuatku heran, kenapa dia bersikeras terus melanjutkan bisnisnya yang menurutku “tidak” terlalu jelas hasilnya? Usut punya usut, ternyata untuk ikut bisnis MLM-nya tersebut dia telah menggadaikan Laptopnya. “Kalau saya berhenti, gimana dengan laptopku?, ortuku juga gak tahu kalo laptopku aku gadain.” “Ooo… gitu toh?”, gumammku tanpa bisa memberikan soslusi.

Itu beberapa cerita persinggunganku dengan bisnis yang menjual mimpi, MLM. Dari beberapa pengalaman bertemu dengan “korban” MLM (karena saya belum pernah ketemu dengan yang sukses), ada beberapa hal yang menjadi catatan dan membuat saya kurang suka dengan bisnis ini.

  • Bisnis MLM senantiasa menjadikan anggota terbaru sebagai kaki untuk menghidupi anggota yang lebih dahulu. Bohong jika bisnis ini bertujuan membangun solidaritas dan kebersamaan.
  • Prinsip dasarnya setiap teman/kerabat/saudara adalah modal. Jangan heran yang menjadi korban pertama dari bisnis ini adalah orang-orang terdekatnya. Ini yang saya sangat tidak suka.
  • Ceritanya monoton. Kemana-kemana dia hanya akan cerita bisnisnya itu,dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mungkin jika tidurnya bisa cerita, dia akan cerita sambil tidur. Jadi bohong jika bisnis MLM itu bisnis sampingan.
  • Berdasarkan pengalaman, orang yang tertarik adalah mahasiswa semester awal dan akhir (baru lulus). Mahasiswa semester awal biasanya diberi mimpi tentang kuliah mandiri dan tdak beragntung lagi pada orang tua. Niatnya baik, tapi prakteknya tidaklah mudah. Sedangkan mahasiswa baru lulus, biasanya akan ikut karena tidak ada jalan lain.
  • Menciptakan posisi tergantung. Orang yang mencari anggota akan bersuka hati memberikan pinjaman modal untuk calon anggota baru. Akibatnya, mau tidak mau si anggota baru harus bekerja ekstra keras untuk mengembalikan modalnya.

Ada banyak lagi alasan mengapa saya kurang suka dengan bisnis model MLM. Walaupun tidak suka, saya akan tetap hormat terhadap mereka yang dengan senang hati ikut dan menjalankan bisnis ini.

6 Responses to “Mengapa saya tidak tertarik MLM?”

  1. ESKA said

    karena alasan syariah, meski katanya ada yg bersyariah, tapi dalam pandanganku nggak syariah juga. yang kedua mending jualan jagung jelas untungnya, tanpa menggantung. just simple

  2. elsya said

    HAloo…salam kenal .. saya ingin memberikan info yang bisa anda pelajari .. bila ada kecocokan saya berharap kita bisa menjadi partner

  3. bahtiar said

    MLM = dodolan menungso🙂

  4. annonymous said

    ooohhhhhh seperti ituuu tooh,, alasan kenapa orang tidak berminat dengan MLM? itu kan MONEY GAME bukan MLM😀

  5. rudi uday said

    Pendapatnya ada yang benar dan menyesatkan

  6. rudi uday said

    Pendapatnya ada yang benar dan ada yang menyesatkan. Di mlm ada yg berhasil dan ada yg gagal begitu juga di bisnis konvensional. Di mlm ada oknumnya artinya bicara bohong dan menipu. Di bisnis konvensional pun sama. Masalahnya seberapa banyak punya informasi ttg mlm itu artinya kita harus selektif dalam memilih mlm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: