Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VII – Habis )

October 28, 2009

Menyerap Spirit Patriotisme Kesultanan Serdang

1

Istana Kesultanan Serdang

Setelah meninggalkan kompleks Istana Maimoon, tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bergerak menuju Kabupaten Serdang Bedagai untuk menapak tilasi sejarah kebesaran Kesultanan Serdang. Sebagaimana telah disampaikan pada laporan perjalanan sebelumnya, tamasya budaya untuk menapak tilasi kebesaran Kesultanan Serdang tidak akan diikuti oleh Pemangku BKPBM, karena pada saat bersamaan harus menemui Tuanku Lukman Sinar Basarsyah II untuk mematangkan rencana kerjasama BKPBM dengan Kesultanan Serdang.

Sebelum berangkat ke Perbaungan, Bang MAM (pangilan akrab Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH. MM.) mengatakan bahwa walaupun Kesultanan Serdang juga mencapai kemakmuran ekonomi sebagaimana Kesulatan Deli, tapi di Perbaungan tim BKPBM tidak akan menemukan sebuah istana megah sebagaimana Istana Maimoon. Menurut Bang MAM, yang tersisa dari sejarah kejayaan Kesultanan Serdang adalah Masjid dan kompleks makam Raja-raja dan para pembesar kesultanan.

Setelah mengantarkan Bang MAM menemui Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II, tim BKPBM bergerak menuju ke Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, tempat Istana Darul Arif dulunya berada. Istana ini, walaupun sisa-sisa kejayaannya hanya dapat dinikmati dalam foto hitam putih, merupakan salah satu simbol perlawanan Kesultnan Serdang kepada kolonialisme Belanda.

Sebelum sampai di Perbaungan, tim BKPBM terlebih dahulu menuju pelabuhan Belawan. Pelabuhan ini pada zaman kejayaan kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatra Timur merupakan kawasan yang sangat penting. Melalui pelabuhan ini, barang-barang dari eropa masuk ke Sumatra bagian timur, dan dari pelabuhan ini juga barang-barang dari perkebunan Sumatra Timur, seperti Tembakau Deli, memenuhi pasaran Eropa.

Waktu kami memasuki kawasan pelabuhan, waktu sudah relatif sore dan kondisinya juga sangat sepi. Pelayanan telah berhenti dan pintu pelabuhan juga telah terkunci rapat. Kami segera menemui petugas yang berjaga di tempat itu, dan menyampaikan maksud kedatangan kami. Si petugas yang bernama Syahrul Chan menjelaskan kepada kami bahwa jam pelayanan telah tutup. Namun karena tujuan Tim BKPBM untuk melakukan penelitian terhadap sejarah perkembangan Medan, dari zaman kerajaan-kerajaan hingga saat ini, maka setelah berkoordinasi dengan petugas yang lain, Pak Chan mengantar kami melihat-lihat pelabuhan Belawan. “Lewat sini aja, biar cepat,” ujar Pak Chan mengajak Tim BKPBM melewati jalan VIP pelabuhan.

Suasana di pelabuhan saat itu relatif sepi. Tidak ada aktivitas pelabuhan yang mencolok mata, selain hanya beberapa kabar tanpak bersandar dikejauhan. Bayangan tentang sebuah pelabuh yang ramai dengan lalu lalang kapal-kapal besar karena merupakan pintu gerbang untuk memasuki kesultanan-kesultanan di Sumatra Timur saat itu sama sekali tidak kelihatan. Menurut Pak Chan, sejak dibukanya pelabuhan di Batam, bongkar muat di Pelabuhan Belawan menurun drastis.

Setelah beberapa saat menikmati terpaan angin laut Pelabuhan Belawan, Tim BKPBM bergerak menuju Deli Serdang. Beberapa agenda yang masih belum terselesaikan dan ketersediaan waktu yang semakin terbatas, mendorong sang driver memacu mobil yang kami tumpangi dengan sangat cepat. Tidak jarang, kami harus menahan nafas, karena mobil yang kami tumpangi nyaris berciuman dengan kendaraan lainnya, baik yang melaju di depan kami dan tiba-tiba memperlambat laju mobilnya, atau kendaraan dari arah depan yang terkadang tidak mau mengalah. Semua itu, hanya untuk menapak-tilasi kejayaan Kesultanan Serdang.

Kesultanan Serdang

Kesultanan Serdang secara geneologis masih bersaudara dengan Kesultanan Deli. Kedua kesultanan ini lahir dari rahim yang sama, yaitu Kesultanan Deli. Pada tahun 1723, Kesultanan Deli mengalami kemelut yang cukup rumit akibat mangkatnya Tuanku Panglima Paderap, Raja Deli ke-3. Seharusnya yang menggantikannya adalah putra tertua Tuanku Panglima Paderap, yaitu Tuanku Jalaludin. Namun karena memiliki cacat fisik, Tuanku Jalaludin terhalang menjadi sultan. Jabatan sultan kemudian diambil alih oleh putra keduanya yang bernama Tuanku Pasutan.

Pengambilalihan jabatan kesultanan oleh Tuanku Pasutan merupakan pangkal dari kemelut di Kesultanan Deli. Menurut adat Melayu, sebenarnya yang berhak menduduki jabatan kasultanan sebagai pengganti Tuanku Paderap adalah Tuanku Umar Johan yang saat itu masih kecil, karena ia merupakan putera garaha (permaisuri). Sedangkan Tuanku Pasutan putra Tuanku Paderap dari seorang selir.

Setelah berhasil menjadi Sultan Deli, Tuanku Pasutan mengusir Tuanku Umar Johan bersama ibundanya Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang. Pengusiran ini ibarat api dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat membara, karena besar kemungkinan Tuanku Umar Johan akan menuntut haknya bila kelak telah dewasa. Jika Tuanku Umar Johan benar-benar menuntut haknya, bukan mustahil akan terjadi perang saudara antara ahli waris Kesultanan Deli.

Melihat kondisi yang dapat berubah menjadi sangat berbahaya ini, empat orang besar, yaitu Raja Urung Sunggal, Raja Urung Senembal, Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu) merajakan Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah Kejuruan Junjungan sebagai Sultan Serdang pertama tahun 1723. Sejak saat itulah, sejarah Kesultanan Serdang dimulai dengan pusat pemerintahan di Kampung Besar tempat ibundanya tinggal.

Tuanku Umar Johan kemudian digantikan oleh putra keduanya, yaitu Tuanku Ainan Johan Alamsyah (1767-1817). Hal ini terjadi karena putra pertama Tuanku Umar Johan, yaitu Tuanku Malim, tidak bersedia dilantik menjadi raja. Pada masa pemerintahan   Tuanku Ainan Johan Alamsyah ini, posisi Kesultanan Serdang menjadi semakin kuat karena bergabungnya kerajaan Perbaungan menjadi bagian dari Kesultann Serdang. Bergabungnya kerajaan Perbaungan karena Raja Perbaungan tidak mempunyai keturunan laki-laki, dan pada saat bersamaan salah satu putrinya, Tuanku Puan Sri Alam, menjadi permaisuri dari Tuanku Ainan Johan Alamsyah.

Pengganti Tuanku Ainan Johan Alamsyah adalah Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah (1817-1850 M), putra kedua sultan. Seharusnya, yang mengantikan Tuanku Ainan Johan Alamsyah adalah putra tertuanya, yaitu Tuanku Zainal Abidin. Namun, karena Tuanku Zainal Abidin terbunuh ketika berperang di Langkat, maka yang dirajakan adalah adiknya sendiri, yaitu Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah.

Pada masa pemerintahan Sultan Thaf Sinar Basarshah, perekonomian Kesultanan Serdang tumbuh cukup pesat, dengan hasil-hasil perkebunan sebagai komoditi ekspor sebagai penopangnya. Berkat pencapaian dalam bidang ekonomi ini, nama Kesultanan Serdang sangat termasyur hingga ke Semenanjung Tanah Melayu. Banyak kerajaan-kerajaan lain, seperti Padang, Bedagai, dan Senembah, yang meminta bantuan militer dari Kesultanan Serdang. Oleh karena pencapaiannya itulah, Sultan Thaf Sinar Baharshah disebut sebagai Sultan Besar Serdang.

Sultan Thaf Sinar Baharshah adalah putranya yang tertua, yaitu Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah (1819-1880). Pada masa Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah berkuasa, Kesultanan Serdang sering diwarnai peperangan baik dengan kesultanan sekitar maupun dengan pihak Belanda. Khusus dengan Belanda, ternyata Kesultanan Serdang tidak mampu menghadapi sehingga takluk pada 1862. Sejak saat itulah, Kesultanan Serdang menjadi salah satu daerah kekuasaan Belanda di Sumtra Timur.

Setelah Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah wafat (1880), Kesultanan Serdang dipimpin oleh Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Namun karena masih sangat muda (umur 13 tahun), pengelolaan pemerintahan kesultanan untuk sementara diserahkan kepada pamannya, yaitu Tengku Raja Muda Mustafa. Dalam memimpin Kesultanan Sedang, Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah terkenal sangat anti Belanda. Oleh karena sikapnya tersebut, pengukuhan Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah sebagai Sultan Serdang tidak serta merta mendapat pengakuan dari Belanda yang kala itu berkuasa atas Serdang.

Ada beberapa indikasi dari ketidak-sukaan Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Pertama, sultan tidak menghiraukan 3 persyaratan yang diajukan oleh Belanda agar mendapatkan pengakuan dari raja: Serdang tidak menuntut daerah-daerah yang telah dirampas Belanda; penetapan tapal batas antara Deli dan Serdang; dan Sultan harus tunduk pada kekuasaan Belanda.

Kedua, tahun 1891 Kontrolir Belanda, Douwes Dekker memindahkan ibukota Kesultanan Serdang ke Lubuk Pakam karena Rantau Panjang selalu mengalami banjir. Namun Sultan Sulaiman malah memilih untuk menetap di istana yang ia bangun di persimpangan tiga Perbaungan. Untuk menopang pembangunan istana baru tersebut, sultan kemudian membangun kedai, pasar dan pertokoan sehingga ramai.

Ketiga, puncak dari sikap antipati terhadap Belanda ia tunjukkan ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia di Jakarta. Serta merta, Sultan mengirimkan telegram kepada Presiden Soekarno yang isinya menyatakan bahwa kesultanan Serdang serta seluruh daerah taklukannya mengakui kekuasaan pemerintah Republik Indonesia dan dengan segala kekuatan akan mendukungnya.

To read the rest article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: