Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VI)

October 28, 2009

Istana Maimoon: Cerita Kejayaan yang Hampir Terlupakan

Tim BKPBM bersama pengurus YASMAR di depan Istana Maimoon

Pagi itu (29 Juli 2009) sekitar pukul 09.30 WIB, tim BKPBM yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., Dr. Aris Arif Mundayat, Yuhastina Sinaro, SST.Par., Ahmad Salehudin, MA., dan Aam Ito Tistomo ditemani Bang Harris (driver) kembali memasuki kompleks Istana Maimoon.

 

Jika pada hari sebelumnya kami menikmati keindahan Istana Maimoon dalam balutan sinar mentari senja, maka pagi ini kami menyaksikan istana yang didirikan oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah ini dalam terpaan kemilau mentari pagi. Sinar mentari pagi yang sangat cerah menjadikan Istana Maimoon yang berbalut warna kuning keemasan terlihat sangat anggun. Rumput menghijau di halaman istana dan beberapa pohon palm yang menjulang tinggi menghadirkan suasana sejuk dan teduh. Sungguh sebuah pemandangan di pagi hari yang sangat luar biasa indahnya.

 

Setelah turun dari mobil, kami segera menuju pintu masuk Istana Maimoon. Konon, Istana yang dibangun di atas tanah seluas 2.772 m2 ini di arsiteki oleh seorang tentara KNIL, Kapten Th. van Erp, dan dikerjakan oleh pemborong Italia. Biaya pembangun istana yang sebagian material bangunannya didatangkan dari Eropa ini menghabiskan biaya sebanyak Fl. 100.000 (atau setara 1 juta gulden Belanda). Menurut prasasti berupa batu marmer yang terletak di bagian bawah tiang penyangga pintu masuk, peletakan batu pertama dilaksanakan tanggal 26 Agustus 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alam Shah, dan mulai ditempati tanggal 18 Mei 1891. Jadi, usia istana ini sekarang sudah lebih dari satu abad.

 

Sejak 1946, istana ini ditempati oleh para ahli waris Kesultanan Deli. hal ini nampaknya berhubungan erat dengan peristiwa revolusi sosial yang terjadi di Sumatra Utara. Pada revolusi sosial 1946 tersebut, semua istana-istana Melayu di Sumatra Utara dijarah dan dibakar massa, termasuk kompleks tempat tinggal Sultan Deli yang berada di dekat Masjid Raya Al Mahsun yang jaraknya hanya 200 meter dari Istana Maimoon. Istana Maimoon, merupakan satu-satunya istana yang selamat karena pada saat terjadinya revolusi dijaga oleh tentara Gurkha Inggris yang dikirim oleh Sultan Perak. Oleh karena tidak lagi mempunyai tempat tinggal, para ahli waris tersebut mendiami Istana Maimoon.

 

Kemudian kami segera bergegas manaiki undakan untuk menuju ruang depan istana. Begitu melewati undakan yang jumlahnya sekitar 13 tersebut, kami berada di berada depan Istana Maimoon. Dikiri kanan beranda terdapat meja kursi untuk tempat istirahat jika pengunjung kelelahan. Lantai istana terbuat dari batu mamer yang didatangkan dari Eropa. “Ini semuanya masih asli,” kata salah seorang guide kepada kami.

 

Kami terus beranjak menuju ruang depan istana. Setelah mengisi buku tamu, kami melangkah menuju ruang pertemuan istana (balairung). Balairung pada zaman dahulu merupakan tempat sultan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kesultanan, mulai dari pelaksanaan upacara adat sampai menerima tamu-tamu penting. Saat ini, menurut salah seorang guide, balairung hanya digunakan dua kali dalam setahun, yaitu pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

 

Memasuki balairung Istana Maimoon yang memiliki luas 412 m¬¬2 ini, hati kami bergetar dan mata kami tercekat melihat keindahannya. Arsitektur istana dengan lengkung yang sangat tinggi, dan ragam hias yang sangat artistik menjadikan ruangan ini kelihatan sangat berwibawa. Keberwibawaan tersebut semakin terasa kuat dengan keberadaan beberapa peninggalan Kesultanan Deli, seperti singgasana kesultanan, lampu kristal besar bergaya Eropa yang tergantung di depan singgasana, foto-foto sultan dan keluarganya yang ditempel pada dinding ruangan, perabot rumah tangga Belanda kuno, berbagai jenis duplikat senjata, dan beberapa perlengkapan upacara adat.

 

Tentu saja, yang menjadi pusat keindahan ruangan Balairung ini adalah keberadaan singgsana kesultanan Deli. Singgasana yang sangat artistik tersebut berbalut warna keagungan Melayu, warna kuning. Mencoba berlama-lama melihat singgasana ini, hayalan kami seolah-olah terseret arus menuju masa seratus tahun silam, yaitu ketika Kesultanan Deli mengalami masa kejayaan dalam bidang ekonomi akibat harga tembakau yang menjadi komoditas utama perkebunan Deli menjadi favorit di daratan Eropa. Karena pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat itulah, Deli saat itu menjadi wilayah tujuan orang-orang dari wilayah jajahan Belanda lainnya untuk mencari kerja.

 

Melalui sebuah gang beratap lengkungan lunas perahu terbalik yang berhiaskan floralistis dan geometris, kami sampai pada sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang istana. Ruangan ini pada zaman dahulu digunakan sebagai ruang makan keluarga sultan. Makanan sultan dan keluarganya biasanya dipersiapkan dan dilayani oleh para dayang yang menempati 2 kamar kecil di sebelah kiri dan kanan di antara Balairung dan ruang makan. Dua kamar kecil ini, saat ini digunakan untuk berjualan cendera hati. Di ruang belakang ini, terdapat dua buah kursi pemberian ratu Belanda. Selain itu, juga terdapat pakaian adat Deli yang disewakan kepada siapapun yang ingin berfoto menggunakan pakaian adat.

 

Dari ruang belakang ini, kami bergerak menuju sayap kanan dan terus berkeliling sampai di sayap kiri. Jika pada bagian depan dan ruang utama Istana Maimoon lantainya terbuat dari batu marmer, maka pada sayap kanan dan kiri terbuat dari kayu Beli atau Besi. Menerut guide yang menemani kami, kayu yang digunakan sebagai lantai sayap istana diambil dari hutan Kalimantan.

 

To read the rest article click here

One Response to “Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VI)”

  1. tutut said

    kang, masih ada batu berat e ora… aku kesana tahun 2000.. gratisan dari kampus..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: