Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian IV)

August 21, 2009

Menyusuri Jejak Kejayaan Kesultanan Langkat

Di depan Masjid Azizi-Tangjungpura, Langkat

Di depan Masjid Azizi-Tangjungpura, Langkat

Setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 20 km dari Stabat, Ibukota Kabupaten Langkat, akhirnya tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pemangku BKPBM dan Pimpinan Umum MelayuOnline.com), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog UGM dan Konsultan MelayuOnline.com), Yuhastina Sinaro, SST.Par (Humas MelayuOnline.com), Ahmad Salehudin, MA. (Redaktur MelayuOnline.com dan Pimred RajaAliHaji.com), Aam Ito Tistomo (Fotografer), dan Harris (driver) sampai di Kecamatan Tanjungpura.

Tanjungpura pada zaman dahulu merupakan Ibukota Kesultanan Langkat. Sebagai pusat pemerintahan, daerah ini merupakan kawasan sangat penting, khususnya ketika Kesultanan Langkat mencapai kemajuan yang sangat siginifikan dalam bidang ekonomi akibat dibukanya pertambangan dan perkebunan. Namun seiring berakhirnya kejayaan Kesultanan Langkat, dan juga kesultanan-kesultanan Melayu lainnya di Sumatra Utara, akibat Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 dan revolusi sosial tahun 1946, posisi penting Tanjungpura sedikit demi sedikit meredup. Saat ini, kita hanya dapat menyaksikan kejayaan ekonomi Kesultanan Langkat kala itu melalui bangunan-bangunannya yang sangat monumental, salah satunya adalah Masjid Azizi.

Menikmati Nuansa Magis Masjid Azizi

Perlahan, mobil yang kami tumpangi memasuki kompleks Masjid Azizi. Beberapa orang memakai sarung dan berkopiah tampak ke luar dari masjid. Dilihat dari tampilannya, nampaknya mereka baru saja selesai menjalankan shalat Dhuhur berjamaah. Setelah mobil diparkir di tempat parkir yang tersedia, kami bergegas turun. Bang MAM, Mas Aris, Mbak Naina, dan tentu saja Mas Aam yang memang fotografer, turun dari mobil sambil membawa tustel masing-masing. Rupanya, bentuk Masjid Azizi yang artistik dan ornamenya yang sangat indah membuat Bang MAM, Mas Aris, Mbak Naina tidak sabar untuk mengabadikannya. Sedangkan Mas Aam memang job desk-nya mengabadikan semua hal yang terkait dengan tempat-tempat yang kami kunjungi.

Masjid Azizi merupakan salah satu bukti yang masih tersisa yang dari kejayaan Kesultanan Langkat. Masjid yang mempunyai corak arsitektur Tiongkok, Persia, Timur Tengah, dan Melayu ini dibangun pada 12 Rabiul Awal 1320 H atau 13 Juni 1902 di atas tanah seluas 18.000 m2, ketika Kesultanan Langkat dipimpin oleh Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927), Sultan Langkat ke-7. Konon, masjid yang masih terlihat megah diusianya yang lebih dari seabad ini dibangun dalam waktu 18 bulan dan menghabiskan biaya 200.000 ringgit. Di sebelah barat kompleks masjid, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Serdang.

Ketika ke luar dari mobil, tepat di depan kami di atas batu pualam terpampang sebuah tulisan “Pusara Pahlawan Nasional T. Amir Hamzah”. Melihat tulisan itu, keinginan untuk segera memasuki Masjid Azizi kami tahan sejenak. Kami beranjak menuju makam Tengku Amir Hamzah yang berada di tengah kompleks pemakaman yang terletak di sebelah barat bagian luar Masjid Azizi.

To read the rest article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: