Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian III)

August 18, 2009

Menikmati Keanggunan MABMI dan Kekokohan Manumen Tengku Amir Hamzah

Tim BKPBM di Depan Monumen Tengku Amir Hamzah - Stabat

Tim BKPBM di Depan Monumen Tengku Amir Hamzah - Stabat

Setelah menimati keagungan Melayu dalam perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang yang diisi dengan Perhelatan Agung II dan penganugrahan Gelar Adat pada malam sebelumnya, pagi harinya sekitar pukul 09.30 WIB (selasa, 28/07/2008) tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dengan ditemani Bang Harris (driver) meninggalkan hotel tempat kami menginap menuju Kabupaten Langkat. Menurut rencana, kami akan mengunjungi tugu Tengku Amir Hamzah dan Majlis Budaya Melayu Langkat di Stabat, Masjid Azizi, pusara Tengku Amir Hamzah, dan Museum Langkat di Tanjungpura.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 60 km dari Medan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, tim BKPM sampai di daerah Stabat, yaitu ibu kota kabupaten Langkat. Dari sinilah, perjalanan menyusuri jejak kejayaan kesultanan Langkat dimulai. Namun sebelumnya, kami terlebih dahulu singgah digedung Majlis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kabupaten Langkat yang terletak di Jalan Proklamasi, Stabat.

Gedung MABMI

Dari luar pagar, gedung MABMI yang berupa rumah panggung terlihat gagah dan indah. Beton-beton yang menyangganya seolah-olah ingin menunjukkan betapa kokohnya gedung itu. Sedangkan ragam hias pucuk rebung yang memenuhi beton-beton penyangga dan tembok-temboknya, serta hiasan kandang rasi yang menjadi pembatas lantai atas menampilkan keindahan yang sangat mengangumkan.

Pagar pintu masuk terbuka sedikit, hanya cukup untuk pejalan kaki. Lalu Bang Harris dengan sigap turun dari mobil, dan berusaha membukanya lebar-lebar. Nampaknya, dia cukup kesulitan untuk membukanya. Mas Aam pun turun membantunya. Akhirnya, setelah didorong berdua, sedikit demi sedikit pintu pagar terbuka. Rupanya karat yang menempel di roda pintu masuk yang menjadi penyebabnya. Nampaknya, karat-karat yang menempel tersebut merupakan penanda kalau pintu pagar tersebut jarang dibuka atau kurang mendapat perawatan. Setelah pintu terbuka cukup lebar, mobil yang kami tumpangi bergerak masuk. Di sisi kiri pintu masuk, terdapat pos jaga yang tidak ada penjaganya.

Setelah parkir, kami bergerak menuju gedung yang cukup megah tersebut. Nampak di lantai bawah yang terbuka, seseorang sedang tiduran dengan nyenyaknya. Dia seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran kami. Kami menaiki tangga menuju lantai dua untuk mengumpulkan data-data tentang bangunan tersebut. Namun, harapan untuk mendapatkan informasi tentang bangunan tersebut harus sedikit dipendam. Selain apa yang kami lihat, tidak ada data-data tertulis tentang bangunan yang menjadi pusat kegiatan orang Melayu tersebut. Untunglah, dengan kamera yang selalu digantung di lehernya, Mas Aam dengan cekatan mendokumentasikannya, dari posisi landscape, sampai bagian detailnya.

Waktu yang sangat terbatas memaksa kami untuk segera meninggalkan gedung MABMI ini. Jika pada saat hendak masuk cukup kesulitan untuk membuka pintu, maka hal serupa juga kami rasakan ketika hendak menutup pintu. Perlu tenaga dua orang untuk menutupnya kembali. Dari gedung MABMI, mobil yang kami tumpangi meluncur menuju monumen Pahlawan Nasional Tengku Amir Hamzah yang posisinya juga berada di jalan Proklamasi, tepatnya di depan kantor Bupati Langkat.

To read the rest article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: