Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian II)

August 18, 2009

Eksotisme Melayu dalam Perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang

Tim BKPBM bersama Sultan Serdang dan permaisurinya

Tim BKPBM bersama Sultan Serdang dan permaisurinya

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 19.00  (27 Juli 2009) kami bergegas menuju Hotel Tiara Medan untuk menghadiri Hari Keputraan Kesultanan Serdang atau ulang tahun Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II, yang ke-76. Dalam undangan yang kami terima, pada Hari Keputraan tersebut akan diselenggarakan Perhelatan Agung II dan Anugrah Adat Kesultanan Serdang kepada para tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa. Salah satu tokoh yang akan mendapatkan Anugrah Adat adalah Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, SH. MM.

Mobil yang kami tumpangi dengan kecepatan meluncur membelah malam kota Medan yang saat itu diguyur hujan cukup deras. Tak berapa lama kemudian, mobil yang kami naiki memasuki area hotel. Sejak memasuki area hotel, kemegahan perayaan Hari Keputraan sangat terasa. Puluhan karangan bunga berukuran besar dari para pejabat pemerintah Provinsi Sumatra Utara, Bupati dan walikota se Sumatra Utara, perusahan-perusahaan, dan tokoh masyarakat yang berisi ucapan selamat dan doa kepada Tuanku Luckman berjejar rapi sejak dari pintu masuk hingga ruang lobi hotel.

Memasuki lobi hotel, kemegahan itu kian terasa. Umbul-umbul kebesaran Kesultanan Serdang yang didominasi warna kuning berpadu dengan lalu lalang orang-orang berpakaian khas Melayu Serdang. Bang MAM sebagai salah satu penerima Anugrah Adat juga memakai pakaian adat khas Kesultanan Serdang: berbaju Teluk Belanga warna hitam yang dipadu dengan tanjak dan selempang berwarna kuning, serta keris Melayu terselip di bagian depan. Melihat tampilan Bang MAM saat itu, nampaknya tak berlebihan jika sahabat-sahabatnya menyebutnya ”Sultan Melayu Virtual”. Hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Sumatra Utara, H. Syamsul Arifin, bupati dan walikota se Sumatra Utara, anggota DPRD tingkat I dan II, para pemangku adat, kerabat dan keluarga Kesultanan Serdang, perwakilan ormas se Sumatra Utara, dan masyarakat umum.

Memasuki ruang acara, lagi-lagi kami dibuat kagum. Walaupun dilaksanakan dalam ruang convention hotel, tapi suasana kesultanan agung sangat terasa. Di garis lurus jalan masuk ruangan, terdapat Singgasana Sultan yang dipadu dengan kain-kain berwarna kuning yang disulam dengan benang emas. Di bagian belakang singgasana, terdapat logo kesultanan bertuliskan Kesultanan Serdang. Jadilah, Convention Hall Hotel Tiara Medan berubah menjadi balairung Kesultanan Serdang.

Setelah para undangan menyantap hidangan yang disediakan, sekitar pukul 20.00 wib Sultan Serdang memasuki ruangan acara. Didahului oleh para pengawal yang memeragakan jurus-jurus silat, Tuanku Luckman dengan memakai pakaian kebesaran Kesultanan Serdang melangkah tegap menuju singgasana yang telah disediakan. Tatkala Tuanku Luckman telah duduk di Singgasananya, enam orang gadis cantik berpakaian adat membawakan tarian sakral ”Menjunjung Duli”. Tarian ini bercerita tentang ucapan terimakasih dan penghormatan rakyat kepada sultannya.

To read the rest article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: