Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian I)

August 18, 2009

Medan: Sebuah “Kota Tua”

6

Sejak Senin, 27 Juli sampai Kamis, 30 Juli 2009, Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., (Pemangku BKPBM), Yuhastina Sinaro, S.STPar. (Humas BKPBM), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog Universitas Gadjah Mada dan Konsultan Melayuonline.com), Ahmad Salehudin, MA., (redaktur Melayuonline.com), dan Aam Ito Tistomo (Fotografer) melakukan muhibah budaya di Sumatra Utara (Medan, Langkat, dan Serdang Bedagai). Muhibah ini bertujuan untuk menyusuri jejak kejayaan Melayu di Sumatra Utara dan merangkainya menjadi permadani kebudayaan sehingga dapat dijadikan sarana untuk belajar, dikembangkan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, dan didayagunakan untuk menopang kesejahteraan masyarakat. Aktivitas Tim BKPBM di Sumatra Utara akan dilaporkan dalam beberapa tulisan bersambung.

Jarum jam menunjukkan pukul 13.15 wib, ketika pesawat yang ditumpangi tim BKPBM  mendarat di Bandara Polonia Medan, Senin, 27 Juli 2009. Setelah mengurus barang bawaan, kami bergegas menuju pintu ke luar dan menemui Bang Aris yang mendapat tugas dari Tengku Mira Sinar (Putri Bungsu Sultan Serdang) untuk menemani dan mengantar kami melakukan ziarah kebudayaan di Sumatra Utara.

Keluar dari kawasan Bandara Polonia dan memasuki kota medan kami disambut oleh arus lalu lintas yang agak macet. Namun, kemacetan itu tidak terasa menjemukan karena mata kami dimanjakan oleh bangunan-bangunan kuno peninggalan abad XIX menjulang tinggi di kanan dan kiri jalan-jalan yang kami lalui. Menyusuri jalan-jalan di kota Medan membuat perasaan seolah-olah terbang jauh menuju abad XIX. Inilah awal perjalanan kami melakukan ziarah budaya di ”kota tua” Medan.

Selain keberadaan Istana Maimoon, Masjid Raya Al Mashun, stasiun kereta api, dan menara air peninggalan Belanda yang kini dimiliki Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi, identitas Medan sebagai “kota tua” juga diperkuat oleh puluhan gedung tua yang menyebar rata di sudut kota. Gedung-gedung tersebut saat ini sebagian masih difungsikan, namun ada juga yang dibiarkan tak terurus, bahkan tidak sedikit yang dihancurkan dan diganti dengan bangunan baru.

Gedung-gedung kuno bersejarah itu tidak saja menghadirkan suasana “kuno”, tetapi juga kegemilangan Medan di masa lalu. Gedung-gedung itu seolah-olah bercerita tentang suatu masa di mana Medan meraih kejayaannya. Selain itu, gedung-gedung kuno itu juga menjadi jembatan penghubung antargenerasi kota medan. Oleh karena itulah, keberadaan gedung-gedung kuno tersebut mutlak untuk dilestarikan. Para stakeholder (pemerintah, pihak swasta, pemangku adat, dan pemangku kepentingan lainnya) harus bersama-sama menjaga agar bangunan-bangunan kuno tersebut tidak ditelan arus modernisme dan kerakusan kapitalisme.

Berdasarkan laporan beberapa media massa, tidak sedikit bangunan-bangunan berumur di atas lima puluh dan ratusan tahun di kota Medan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dihancurkan. Alasan klasik yang diajukan dalam proses penghancuran itu, yaitu untuk modernisasi kota Medan. Semua aktivitas yang dilakukan guna menyokong modernisasi, seperti pelebaran jalan, pendirian pusat-pusat perdagangan, gedung-gedung baru atas nama dinamika perputaran ekonomi, tidak jarang harus mengorbankan gedung-gedung lama yang dianggap sebagai penghambat pembangunan.

Banyak gedung-gedung tua yang menandai proses perjalanan sejarah kota Medan kini hanya dapat disaksikan dalam bingkai foto bisu. Foto-foto itu bertutur tentang kejayaan masa lalu, bercerita tentang sebuah masa di mana kota Medan menjadi pusat modernisasi di Sumatra. Gedung-gedung tua yang kini hanya dapat ditemui dalam catatan sejarah di antaranya adalah Gedung PT Mega Eltra, bekas Kantor Bupati Deli Serdang, Gedung South East Asia Bank, Kantor Dinas Pekerjaan Umum Medan, bangunan bersejarah Balai Kerapatan Adat, bekas kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD), dan gedung eks Bank Modern.

Gedung-gedung kuno yang telah dihancurkan tersebut memiliki nilai sejarah yang cukup penting, tidak saja bagi perkembangan kota Medan, tetapi juga bangsa Indonesia. Gedung BKD misalnya, berfungsi cukup penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indoensia.  Tempat ini digunakan oleh Mohammad Hasan dari Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Sumatra Utara (Sumut), untuk mengabarkan adanya proklamasi kemerdekaan RI kepada para raja dan sultan di daerah Sumut.

Kami seolah-olah tersadar dan kembali dari berziarah ke masa lalu ketika mobil yang kami tumpangi memasuki halaman rumah kediaman Sultan Serdang yang juga sejarawan Melayu, Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II. Di depan pintu rumah, Tuanku Luckman yang masih kelihatan gagah diusia 76 tahun nampak berdiri bersama beberapa anggota keluarga. Beliau mempersilahkan kami memasuki ruang tamu.

Secara khusus, Tuanku Luckman mengajak Mahyudin ke ruang dalam. Rupanya, Tuanku Luckman menyampaikan hal-hal khusus yang harus dipersiapkan terkait rencana pemberian Gelar Adat Kesultanan Serdang kepada Mahyudin yang akan dilakukan pada malam harinya. Setelah dirasa cukup, kami mohon diri untuk segera ke hotel yang telah disediakan dan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan dalam Perhelatan Agung II dan Anugerah Adat Kesultanan Serdang, yang akan dilaksanakan pukul 20.00 wib.

To read the rest article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: