Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian V)

August 1, 2009

Jejak Kejayaan Kesultanan Deli: Masjid Raya Al Mahsun dan Istana Maimoon

Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun

Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun

Dari Museum Langkat, tim BKPBM bergerak menuju kota Medan yang jaraknya sekitar 80 km dari Tanjungpura. Waktu yang sangat terbatas menuntut tim BKPBM tidak saja bergerak cepat, tetapi juga merencanakan dengan cermat daerah-daerah yang hendak dikunjungi. Jika dipagi hari tim BKPBM meningglkan kota Medan untuk menyusuri kejayaan Kesultanan Langkat, maka siang menjelang sore (28 Juli 2009) kami kembali ke Kota Medan untuk mengenang kejayaan Kesultanan Deli.

Menurut catatan sejarah, Kesultanan Deli berdiri tahun 1630 M. Berdirinya kesultanan Deli, ditandai oleh pengangkatan Laksamana Gocah Pahlawan oleh empat Raja Urang Batak Karo. Walaupun telah menjadi sebuah kesultanan, Deli masih berada dibawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Kondisi Kesultanan Aceh yang terus melemah menginspirasi Kesultanan Deli untuk memisahkan diri. Akhirnya pada tahun 1669 M, Kesultanan Deli memisahkan diri dari Aceh.

Setelah Gocah Pahlawan meninggal dunia, kepemimpinan kesultanan Deli dilanjutkan oleh putranya, Tuanku Panglima Perunggit yang bergelar “Kejeruan Padang”. Beliau memerintah hingga tahun 1700 M, dan dilanjutkan oleh Tuanku Panglima Paderap yang memerintah hingga tahun 1723 M. Wafatnya Tuanku Panglima Paderap memunculkan konflik internal di Kesultanan Deli. Kesultanan Deli terpecah menjadi dua, yaitu Kesultanan Deli dan Kesultaan Serdang.

Sejak itu, Kesultanan Deli secara bergantian dikuasai oleh Kesultanan Aceh dan Siak Sri Inderapura. Sampai akhirnya pada tahun 1858 Sultan Siak menyerahkan Kesultanan Deli kepada Belanda. Pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara resmi diakui merdeka dari Siak maupun Aceh. “Kemerdekaan” ini memberikan peluang kepada Sultan Deli untuk mengelolanya kekayaannya sendiri, termasuk memberikan hak-hak pemanfaatan lahan kepada Belanda maupun perusahaan-perusahaan luar negeri lainnya.

Belanda menggunakan lahan-lahan yang dia kuasai untuk membuka perkebunan tembakau secara luas. Ternyata, tembakau Deli sangat diminati oleh orang-orang Eropa. Sejak itulah, perekonomian di Deli berkembang sangat pesat. Berkat perkebunan tembakau tersebut, Kesultanan Deli yang berkongsi dengan Belanda dalam membuka dan mengelola lahan perkebunan juga menjadi kaya raya. Dengan kekayaan yang melimpah ini, para sultan kemudian membangun gedung-gedung yang mewah dan indah. Di antara tapak kejayaan Kesultanan Deli yang masih dapat kita jumpai hingga saat ini adalah Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimoon yang keduanya berada di kota Medan.

Mengunjungi kedua peningalan sejarah Kesultanan Deli tersebut merupakan agenda tim BKPBM sore itu. Jarak kedua bangunan bersejarah tersebut hanya sekitar 200 meter. Kami sempat bingung manakah yang akan kami kunjungi pertama kali, Masjid Al Mahsun ataukah Istana Maimoon. Setelah mendapatkan masukan dari sang fotografer (Mas Aam) terkait dengan pencahayaan untuk pengambilan foto, akhirnya diputuskan untuk mengunjungi Masjid Al Mahsun terlebih dahulu.

Al Mahsun: Masjid Segi Delapan Nan Eksotis

Sekitar pukul 16.00 WIB, tim BKPBM tiba di depan pintu gerbang masuk Masjid Al Mahsun. Begitu keluar dari mobil yang kami tumpangi, mata kami pun terpaku melihat sebuah bangunan yang sangat indah. Jika sebelumnya kami menyaksikan indahnya Masjid Azizi di Langkat, maka kini di kota Medan kami melihat sebuah masjid masjid yang sangat eksotis. ”Inilah Masjid Raya Al Mahsun. Siapapun yang pernah ke masjid ini, pasti akan selalu dibelenggu oleh keinginan untuk kembali ke tempat ini,” ungkap Bang MAM yang sudah beberapa kali mengunjungi masjid ini.

Namun keinginan hati untuk sesegera mungkin memasuki kompleks masjid harus kami tahan terlebih dahulu. Perjalanan menempuh jarak kurang lebih 80 km dari Langkat ternyata cukup menguras energi. Kondisi ini juga semakin diperparah oleh cuaca kota Medan saat itu yang sangat panas membuat kerongkongan kami terasa sangat kering. Oleh karena itu, sebelum masuk ke area masjid, kami terlebih dahulu membeli beberapa botol air mineral dari pedagang kaki lima yang mangkal di depan gerbang masjid.

Setelah meminum beberapa tegukan air yang baru kami beli, kami bergegas hendak memasuki area masjid. Di pintu gerbang masuk, terdapat sebuah papan pengumunan yang kondisinya sudah agak lusuh. Pada papan pengumuman tersebut terdapat tulisan ”Anda Memasuki Kawasan Wajib Berbusana Muslim”. Ada 7 larangan yang juga tertulis dalam papan pengumuman tersebut, yaitu: dilarang masuk bagi segala jenis kendaraan, dilarang memakai alas kaki, dilarang berjualan di dalam kompleks, dilarang bermain segala jenis olahraga, dilarang meludah di atas lantai, dilarang membuang sampah sembarangan, dan dilarang merokok.

Di bawah ketujuh larangan tersebut, tertulis ”Bagi yang melanggar aturan tersebut di atas, akan dituntut melanggar pasal 406 ayat 1 KUHP, dengan ancaman 2 tahun dan 8 bulan penjara (pengrusakan tempat ibadah).

Membaca tulisan itu, kami cukup ragu untuk segera melangkah masuk. Apalagi, salah satu anggota tim BKPBM, Mbak Naina, tidak memakai jilbab. Setelah berembuk sebentar dengan anggota tim, kami memutuskan untuk bergerak memasuki gerbang apapun konsekuensinya. Di kiri-kanan gerbang masuk ada beberapa pengemis. Sebagaimana kita jumpai di tempat-tempat lain, di depan mereka terdapat wadah berisi uang pecahan dari seratus hingga seribuan.

To read a complete article, click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: