Tenun Buton

April 24, 2009

Seorang pengrajin sedang membuat Tenun Buton

Seorang pengrajin sedang membuat Tenun Buton

A. Asal-Usul

Sampai tahun 1960 yang dimaksud dengan orang-orang Buton menurut JW Schoorl, sebagaimana dikutip Yamin Indas, adalah mereka yang tinggal di Kesultanan Buton, yang meliputi pulau Buton, Muna, Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, Rumbia dan Poleang di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara (Kompas, 22 Jul 2005). Saat ini, wilayah Kesultanan Buton telah terbagi-bagi ke dalam beberapa kabupaten dan kota, yaitu kota Bau-Bau, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, dan Kabupaten Buton sendiri. Tidak hanya itu, seiring meningkatnya mobilitas orang akibat semakin mudahnya alat-alat transportasi, masyarakat Buton juga ternyata telah mendiami daerah-daerah di luar kawasan Kesultanan Buton. Uniknya, walaupun berbeda secara geografis dan administrasi pemerintahan, secara kultural mereka tetap satu. Hal ini terjadi karena masyarakat Buton mempunyai nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pengikat dan perekat hubungan sosial antarmasyarakat Buton di manapun mereka berada. Menurut Indas, salah satu perekat sosial itu adalah kain tenun tradisional Buton (Indas, Kompas, 22 Juli 2005).

Tenun Buton mampu menjadi perekat sosial bagi masyarakat Buton karena dua hal. Pertama, tenun Buton merupakan pengejawantahan dari penghayatan orang-orang Buton dalam memahami lingkungan alamnya. Hal ini dapat dilihat dari corak dan motif yang terdapat pada tenun Buton. Menurut Hasinu Daa, sebagaimana dikutip Indas (Kompas, 22 Jul 2005), motif tenun Buton dibuat berdasarkan pengamatan dan penghayatan orang Buton terhadap alam sekitarnya. Misalnya, motif betano walona koncuapa yang terinspirasi dari abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak saat membuka ladang; motif colo makbahu atau korek basah, motif delima bongko (delima busuk), motif delima sapuua, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, dengan melihat tenun Buton kita akan mengetahui bagaimana pemahaman orang Buton terhadap alamnya, dan pada saat bersamaan kita diajak bertamasya menikmati alam Buton.

Kedua, tenun Buton sebagai identitas diri dan sosial. Bagi orang Buton, pakaian tidak semata-mata berfungsi sebagai pelindung tubuh dari terik matahari dan dinginnya angin malam, tetapi juga berfungsi sebagai identitas diri dan stratafikasi sosial. Dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita Buton misalnya, kita bisa mengetahui apakah dia telah menikah atau belum. Melalui pakaian, kita juga dapat mengetahui apakah seorang perempuan dari golongan awam atau bangsawan. Misalnya, motif tenun kasopa biasanya dipakai oleh perempuan kebanyakan, sedangkan motif kumbaea yang didominasi warna perak biasanya dipakai oleh perempuan dari golongan bangsawan dengan gelar Wa Ode. Menurut Hasinu Daa sebagaimana dikutip oleh Indas (Kompas, 22 Jul 2005), dengan melihat tenun yang dipakai orang Buton, kita dapat mengetahui kedudukan seseorang dalam masyarakat Buton, seperti sapati atau kenepulu. Sebagai simbol kedirian orang Buton, maka sudah sewajarnya jika orang Buton menjaga agar simbol jati diri sosialnya tetap lestari. Salah satu cara yang digunakan untuk menjaga kelestariannya adalah dengan mengajari perempuan Buton tetanu (menenun) sejak mereka masih kecil, yaitu sekitar umur 10 tahun. Oleh karenanya, tidak heran apabila sebagian besar perempuan Buton, termasuk para istri sultan, mahir menenun (Kompas, 22 Juli 2005 dan 23 Januari 2009; http://produkboeton.blogspot.com).

Selain sebagai perekat sosial, faktor lain yang menjadikan tenun Buton tetap terjaga kelestariannya adalah fungsinya yang sangat vital dalam menopang keyakinan masyarakat Buton, yaitu sebagai pelengkap dalam pelaksanaan ritual masyarakat Buton. Sejak dilahirkan sampai meninggal dunia, orang Buton selalu menggunakan tenun Buton dalam setiap ritual yang dilakukan. Tanpa tenun Buton, kesakralan upacara adat Buton menjadi berkurang (http://orangbuton.wordpress.com).

Problem yang dihadapi oleh tenun Buton sebagaimana kain tradisional lainnya adalah serbuan produk-produk kain yang dihasilkan oleh peralatan modern. Mesin modern tidak saja menghasilkan kain-kain dengan corak yang lebih variatif dan atraktif, tetapi juga lebih efisien dalam waktu pengerjaan dan harganya jauh lebih murah. Dalam kondisi demikian, tenun Buton akan semakin tersisih. Mungkin sebagai perekat solidaritas sosial dan pelengkap ritual tenun Buton akan tetap lestari, tetapi ia akan kesulitan untuk berkembang. Ketika tenun sudah tidak lagi berkembang, maka ia akan tersisih digantikan oleh produk tenun lain dan segera dilupakan orang. Artinya, jika kondisi ini terus menerus dibiarkan bukan tidak mungkin tenun Buton akan hilang sama sekali.

Melihat fungsinya yang sangat besar bagi orang-orang Buton, maka sudah seharusnya semua pihak berpartisipasi untuk melakukan revitalisasi fungsi Tenun Buton. Jika selama ini tenun Buton hanya menjadi simbol perekat sosial orang Buton, penanda stratifikasi sosial, dan pelengkap ritual adat, maka perlu juga dilakukan eksplorasi lebih jauh terhadap nilai ekonomis yang terkandung dalam tenun Buton. Dengan kata lain, perlu upaya kreatif agar tenun Buton tidak sekedar menjadi identitas dan kebanggaan sosial, tetapi juga mampu menjadi sumber penopang ekonomi masyarakat Buton. Jika tenun Buton mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka dengan sendirinya masyarakat akan kembali bergiat untuk belajar menenun dan mengembangkan tenun Buton.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memunculkan potensi ekonomi tenun Buton. Pertama, mendokumentasikan dan memperkenalkan motif tenun Buton. Tenun Buton memiliki potensi ekonomi yang sangat besar untuk potensi ekonomisnya, karena tenun ini mempunyai yang sangat kaya. Konon, motif tenun Buton berjumlah ratusan, tapi belum terdokumentasi dan diketahui oleh masyarakat luas (http://www.sultra.go.id; http://profilesmakassar.blogspot.com; Kompas, 23 Januari 2009). Oleh karenanya, yang perlu dilakukan segera oleh segenap stake holder adalah melakukan inventarisasi terhadap semua motif tenun Buton dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, tenun Buton tidak saja akan lesatri, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai penopang kesejahteraan masyarakat Buton secara lahir dan batin.

Kedua, meningkatkan mutu dan kualitas tenun Buton agar bisa bersaing dengan produk tenun lainnya, misalnya dengan membuat tenunan Buton dari benang sutra. Dengan cara ini, tidak saja kualitas tenun Buton yang meningkat, tapi juga penghasilan para penenun juga akan naik. Harga kain sarung Buton misalnya, paling tinggi harganya Rp 150.000 per lembar, tapi jika dibuat dari benang sutra maka harganya bisa mencapai Rp 400.000 per lembar (http://profilesmakassar.blogspot.com).

Ketiga, memperbanyak jenis derivasi produk tenun Buton. Jika dulunya kain Buton hanya digunakan untuk busana, maka perlu kreativitas agar tenun Buton dapat multifungsi, seperti digunakan untuk membuat gorden, taplak meja, dan alat dekorasi. Semakin banyak fungsi yang dimiliki oleh Tenun Buton, maka semakin banyak manfaat yang bisa diambil dari tenun Buton. Jika tenun Buton semakin bermanfaat, khususnya sebagai penopang ekonomi masyarakat, maka akan semakin banyak orang atau kelompok yang akan ikut menjaga, melestarikan, dan mengembangkannya.

Keempat, memperluas wilayah pemasaran. Agar mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka hasil produk tenun Buton harus dapat diterima oleh masyarakat non Buton. Jika tenun Buton telah diterima oleh masyarakat non Buton, maka dengan sendirinya jumlah permintaan terhadap tenun Buton akan semakin banyak. Bertambahnya jumlah permintaan akan menjamin keberlangsungan produksi tenun Buton. Oleh karena itu, segenap stake holder harus bekerjasama agar tenun Buton bisa dikenal dan diterima oleh masyarakat non Buton, misalnya menjadikan tenun Buton sebagai souvenir resmi pemerintah daerah, aktif mengikuti pameran kain adat, dan lain sebagainya.

Keempat cara untuk menumbuhkan nilai ekonimis yang dikandung tenun Buton di atas akan berhasil jika masyarakat Buton sendiri mempunyai rasa bangga terhadap tenun mereka. Artinya, sebelum orang lain menggunakan tenun Buton, masyarakat Buton sendiri harus menjadi pengguna utama Tenun Buton. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa bangga dan memiliki terhadap tenun Buton, yaitu: pertama, melalui pendidikan, baik formal maupun non formal. Anak-anak Buton harus dikenalkan kembali terhadap khazanah kebudayaan mereka, misalnya melalui mata pelajaran muatan lokal. Mereka harus diajarkan bagaimana bentuk dan motif tenun Buton, makna filosofis yang dikandungnya, dan bagaimana membuatnya. Dengan cara ini, anak-anak akan mempunyai kecintaan dan kepedulian terhadap tenun Buton; kedua, mobilisasi secara formal. Cara ini dapat dilakukan, misalnya, dengan menjadikan tenun Buton sebagai seragam wajib pegawai pemerintah.

To read a rest article click here

One Response to “Tenun Buton”

  1. desy said

    man gambar2nya sih saya ghy butuh,,,,,,,,,,,,,,?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: