Kembung, Perut Alisha Diolesi Minyak Telon dan Bawang Merah

November 11, 2008

100_11171

Setelah melakukan perjalanan sekitar 5 Jam, Sabtu, 18 Oktober 2008, jam menunjukkan pukul 19.33 ketika aku sampai di rumah Madiun. Ya…akhirnya setelah satu minggu memendam rindu, aku bertemu lagi dengan anak dan istriku. Setelah mencuci muka, kaki, dan tangan aku segera menuju ke kamar dan menemui anakku, Alisha, yang saat itu sedang dipangku oleh bundanya. Segera aku mencium kening anak dan istriku.

”Ayah, Alisha hari ini belum ee’ (baca: belum berak)”, kata istriku.

”Alisha sakit po? Gimana kalau kita bawa ke dokter” kataku agak khawatir.

”Entahlah, kalau panas badannya sih normal. Kalau besok, belum juga ee’, kita bawa ke dokter” kata istriku melanjutkan.

100_1156

Setelah aku perhatikan, Alisha nampaknya tidak mengalami gangguan apa-apa, akhirnya aku berpikir bahwa mungkin saja Alisha tidak ee’ karena memang tidak ingin ee’. Toh banyak juga orang-orang yang tidak buang air besar sampai dua hari. Mungkin karena terlalu lelah, akhirnya aku tertidur.

Esok harinya, sekitar pukul 4.30, aku terbangun karena Alisa menangis. Segera saja aku membangunkan istriku. Dan dengan sigap, ia mengangkat Alisha. Ternyata Alisha terbangun selain karena haus, juga karena pipis. Dengan mata agak mengantuk, akupun membantu istriku mengganti popok anakku. Setelah popok diganti, Alisha berhenti menangis, dan istriku segera menyusuinya.

100_1106 100_1108

Tidak beberapa lama kemudian, Alisha kembali tertidur. Sekitar pukul 05.00, aku ditemani istriku membawa Alisha ke luar rumah. Menurut ibu mertuaku, membawa bayi dipagi hari (diembun) sangat bagus untuk perkembangan bayi. Dan nampaknya, Alisha juga sangat menikmati udara segar di pagi hari.

Sekitar pukul 07.15 menit, Alisha di mandiin oleh istriku dibantu ibu mertuaku. Aku hanya melihat dan sesekali mengambilkan peralatan-peralatan mandi. Selesai dimandiin, aku teringat bahwa anakku sejak kemarin belum ee’. Lalu aku bilang pada istriku untuk membawa Istriku ke dokter.

”Bunda, kalo sampai pukul 09.00 Alisha belum ee’, kita bawa ke dokter ya…?” kataku.

Belum sempat istriku menjawab, Tante Eni, istri dari kakak iparku menyela. ”Dik Udin, anak kecil biasa seperi itu, gak usah khawatir. Perut Alisha diolesi saja dengan remasan bawang merah yang dicampur dengan minyak telon,” kata kakak iparku yang seolah-olah mengerti kekhawatiranku. Kami pun mengikuti saran dari kakar iparku.

Setelah itu aku mandi. Setelah mandi, aku menggendong Alisha dan istriku gantian mandi. Tidak berapa lama Alisha berada dalam gendonganku, ku dengar perutnya mulai berbunyi. Beberapa kali Alisha sudah mulai kentut. Mendengar itu, hatiku sangat senang. Karena sebentar lagi, Alisha pasti ee’.

Bruuuttt…..!!!!!, tiba-tiba Alisha ngentur sangat keras dan bau ee’ segera menyebar.

Baju dan sarung yang aku kenakan penuh dengan ee’ Alisha.

”Bunda, Alisha ee’. Baju dan sarung ayah penuh ee’ Alisha nih”, kataku pada istriku yang baru saja selesai mandi.

”Ya… begitu aja ayah heboh,” kata istriku.

”Alisha pinter, dah ee’in ayah, ” kata istriku pada Alisha.

100_10481

Terlepas bahwa aku harus ganti baju dan sarung, saat itu aku senang sekali karena Alisha sudah sembuh. Selain itu, aku bersyukur karena Alisha masih terjaga dari tangan dokter dan bahan-bahan kimia.

Pengebotan tradisional walaupun murah meriah, ternyata tidak kalah ampun dengan obat-obatan yang dihasilkan alat-alat modern dan berharga mahal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: