Basunat : Simbol Pengislaman Anak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

October 10, 2008

1. Asal-usul

Basunat bagi masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merupakan hal yang sangat penting. Bahkan, keislaman seseorang belum dianggap sempurna apabila orang tersebut belum bersunat. Oleh karenanya, orang-orang Banjar sejak masih anak-anak (laki-laki berumur antara 6 – 12 tahun, dan perempuan biasanya lebih muda) telah disunat (Alfani Daud, 1997: 252). Asa bakalalangan haja kaalah kita (terasa mengganggu perasaan kita), demikian biasanya orang-orang mengomentari orang-orang Islam (bersyahadat) yang belum disunat. Selain dilakukan oleh kalangan orang Islam untuk menyempurnakan keislamannya, ternyata sunat juga dipraktekkan oleh masyarakat lokal yang masih menganut agama Balian maupun yang beragama Kristen (ibid). Namun sayang, belum ada cukup informasi yang menjelaskan mengapa mereka mempraktekkan sunat.

Sunat bagi laki-laki dan perempuan pada prakteknya tidak sama. Sunat untuk laki-laki, adalah membuang kulit kemaluan (kulup) yang menutupi kepala kemaluan laki-laki. Sedangkan bagi perempuan, sunat adalah pemotongan sebagian jaringan clitoris. Di kalangan masyarakat Banjar, dikenal tiga metode menyunat untuk laki-laki, yaitu: (1) basupit. Disebut basupit karena kulit zakar yang harus dibuang dijepit dengan supitan yang terbuat dari kayu yang keras atau bambu selama dua sampai tiga minggu. Pemotongan dilakukan setelah kulup yang dijepit tersebut kering. Cara ini menimbulkan penderitaan yang luar biasa pada orang yang disunat, baik sebelum disunat maupun setelahnya. Metode basupit ini masih dijalankan oleh masyarakat Banjar sampai tahun 1940-an. 2) basunat. Metode ini merupakan kelanjutan dari metode basupit. Jika pada basupit kulup zakar harus dijepit dalam waktu 2-3 minggu, maka dalam basunat kulup dijepit hanya pada saat dipotong. Dengan cara ini, penderiataan orang yang bersunat jauh berkurang. (3) Penyunatan oleh dokter atau mantri kesehatan. Cara ini merupakan metode penyunatan paling modern. Jika pada basupit dan basunat orang yang melakukan adalah ahli sunat yang mendapat keahlian melalui pewarisan dari orang tuanya, maka pada metode yang terakhir orang yang melakukan penyunatan mendapat keahlian melalui pendidikan formal (ibid, 252-253).

Jika pada laki-laki basunat identik dengan pemotongan kulup zakar, maka pada perempuan lebih pada pengurangan jaringan clitoris dengan cara mengerik dengan menggunakan silet (lebih lanjut akan dijelaskan pada prosesi penyunatan). Oleh karena dengan cara mengerik, maka anak perempuan yang disunat tidak akan mengalami penderitaan akibat rasa sakit sebagaimana pada anak laki-laki. Bahkan, mereka dapat langsung bermain setelah prosesi penyunatan.

Akhir-akhir ini, sunat perempuan tidak sedikit mendapat penetangan, khususnya dari kalangan feminis. Bahkan, secara formal penentangan terhadap praktek sunat perempuan juga dilakukan sepuluh Kelompok badan PBB, yaitu United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS), United Nation Development Program (UNDP), United Nation Economic Commission for Africa (UNECA), United Nation Educational, Scientific and Cultural Organizations (UNESCO), United Nation Population Fund (UNFPA), Office of the High Commissioner on Human Rights (OHCHR), United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR), United Nation Children Fund (UNICEF), United Nation Development Fund for Women (UNIFEM), dan World Health Organization (WHO) (http://www.antara.co.id/). Kelompok penentang ini beralasan bahwa pemotongan terhadap clitoris perempuan (female genetical mutilation/FGM) merupakan kekerasan yang disengaja terhadap perempuan. Pada saat dewasa, anak perempuan yang dipotong clitorisnya akan mengalami bergabai gangguan infertilitas, terserang pembengkakan pada area genitalnya, mengalami sakit luar biasa saat melahirkan, sulit mengontrol kencingnya, dan parahnya lagi perempuan tersebut tidak bisa menikmati hubungan seksual dengan pasangannya (http://www.conectique.com/).

Namun ada juga yang menentang pelarangan tersebut dengan alasan agama. Kelompok ini biasanya mengambil argumen bahwa sunat perempuan yang dilarang adalah model sunat yang dilakukan di daerah Afrika, yaitu dengan memotong klitoris. Bagaimanakah dengan sunat perempuan yng dilakukan oleh masyarakat Banjarmasin? Apakah sunat yang dilakukan merusak organ reproduksi sehingga dapat dikategorikan kekerasan? Berikut ini akan dipaparkan bagaimana praktek sunat terhadap perempuan di Banjarmasin, sehingga dapat dijadikan referensi untuk mendukung atau menolak sunat terhadap perempuan.

To read a complete article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: