Sumpit: Senjata Khas Masyarakat Dayak

October 9, 2008

1. Asal Usul

Hidup di tengah hutan lebat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dihuni oleh beragam macam hewan liar dan buas, telah menginspirasi orang-orang Dayak untuk membuat senjata yang tidak saja mampu melindungi mereka dari ganasnya kehidupan hutan, tetapi juga mampu menjadi penopang kehidupan mereka baik secara materiil maupun moril. Berdasarkan kondisi dan tujuan tersebut, orang Dayak membuat senjata khusus, salah satunya adalah senjata yang cukup unik yang kemudian dikenal dengan nama sumpit atau sumpitan.

Sumpit atau sumpitan adalah senjata khas masyarakat Dayak yang terdiri dari tiga bagian, yaitu batang (pipa) sumpit, damek (anak sumpit), dan sangkoh (mata tombak terbuat dari besi atau batu gunung yang diikatkan pada ujung pipa sumpit). Senjata yang mengandalkan kekuatan meniup ini dapat mengenai sasaran dari jarak yang cukup jauh, yaitu sekitar 30 meter untuk posisi vertikal dan 25 meter untuk posisi horisontal (http://www.kipde-ketapang.go.id) tergantung kemampuan si penyumpitnya.

Dengan senjata ini, orang Dayak dapat melumpuhkan musuh dan hewan-hewan buruan baik yang berada di atas pohon, seperti burung-burung, maupun hewan-hewan buas yang hidup di darat dari, jarak yang relatif jauh. Dengan kemampuan melumpuhkan binatang buruan dan musuh dari jarak jauh, maka orang Dayak telah menciptakan alat proteksi diri yang cukup canggih. Jika ternyata bidikan pertama tidak mengenai sasaran, dan sebaliknya binatang buas atau musuh menyerang balik dari jarak yang cukup dekat sehingga damek tidak dapat digunakan secara efektif atau tidak sempat memasang damek, maka pipa sumpit yang terbuat dari kayu belian dengan sangkoh di ujungnya menjadi senjata cadangan yang sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari jarak dekat. Keberadaan sangkoh diujung pipa sumpit ibarat sangkur pada ujung bedil, atau mata tombak yang siap menunggu serangan musuh.

Untuk lebih mengefektifkan fungsi dari senjata ini, khususnya untuk keperluan berburu atau melawan musuh, orang-orang Dayak melumuri damek (anak sumpitnya) dengan racun yang terbuat dari getah tumbuhan. Konon, racun pada anak sumpit tidak ada penawarnya, sehingga orang atau binatang yang terkena senjata ini walaupun hanya tergores dapat menyebabkan kematian. Namun yang cukup unik, binatang apapun yang mati oleh senjata ini dagingnya tidak beracun dan cukup aman untuk dikonsumsi (Kompas, 24 Desember 2004). Selain jangkauan dan racunnya yang cukup mematikan, kelebihan lain alat ini adalah pada saat digunakan tidak menimbulkan bunyi. Unsur senyap ini sangat penting saat mengincar binatang buruan atau musuh yang sedang lengah. Selain untuk berburu dan berperang, sumpit juga digunakan untuk perlengkapan upacara adat atau sebagai mas kawin dalam pernikahan adat Dayak (Kompas, 24 Desember 2004).

Perubahan pola pikir dan kondisi alam tempat tinggal orang Dayak ternyata berpengaruh terhadap eksistensi sumpitan. Alat ini lambat laun mulai ditinggalkan oleh masyarakat dan sedang menuju kepunahan. Oleh karenanya, perlu segera dilakukan tindakan-tindakan pelestarian sehingga peralatan tradisional yang merupakan ciri khas Dayak ini tetap terjaga eksistensinya. Tentu saja, pelestarian harus berlandaskan pada perkembangan zaman. Secara garis besar, ada dua pola pelestarian yang dapat dilakukan untuk menjaga eksistensi sumpit, yaitu pelestarian secara pasif dan aktif. Pelestarian secara pasif misalnya dengan melakukan duplikasi dan replikasi sumpit. Sedangkan pelestarian secara aktif dapat dilakukan dengan melakukan revitalisasi sumpit sehingga sumpit dan nilai-nilai yang dikandungnya tetap sesuai dengan gerak langkah perkembangan zaman. Adapun bentuk pelestarian secara aktif yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menjadikan sumpit sebagai cendera hati untuk keperluan wisata. Dengan cara ini, sumpit tidak saja lestari, tetapi juga dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat;
  • Menjadikan sumpit sebagai bagian dari bahan ajar pendidikan, yaitu mata pelajaran muatan lokal. Dengan cara ini, akan muncul kesadaran dalam diri anak didik untuk melestarikan sumpit;
  • Menjadikan kegiatan menyumpit sebagai olah raga yang diperlombakan, misalnya dalam Pekan Olah Raga Daerah (PORDA) dan Pekan Olah Raga Nasional (PON). Dengan cara diperlombakan, maka sumpit dengan sendirinya akan lestari. Tentu saja, jika digunakan untuk perlombaan, maka damek tidak perlu dilumuri dengan racun.

Jika pelestarian ini dilakukan, maka generasi mendatang akan mengetahui apa senjata khas Dayak, dan juga perkembangan indigenous technology yang dicapai oleh masyarakat Dayak.

To read a complete article click here

One Response to “Sumpit: Senjata Khas Masyarakat Dayak”

  1. wow ini bagus sekali ini bisa menambah ilmu pengetahuanku sehingga aku bisa jadi pintar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: