SEMANGAT

October 11, 2008

 

 

 


 

 

Semoga Kehadiranku

Memberimu

Inspirasi

 

 

Advertisements

Alisha menikmati pijetan sang dukun

Terkadang tubuh kita terasa sangat capek dan pegal-pegal. Ketika tubuh dalam kondisi demikian, biasanya kita serba tidak nyaman, mau tidur tidak enak, mau beraktivitas malas, bahkan untuk sekedar berfikirpun terasa malas. Keadaan ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa tetapi juga oleh anak kecil yang baru lahir.

Anakku, Alisha Haura Afiqoh, yang baru berumur 45 hari tiba-tiba menjadi agak rewel. Sebentar-sebentar nangis, dan tidurpun tidak bisa nyenyak. Sebagai seorang ayah yang baru memiliki anak pertama, saya sangat khawatir dengan kondisi Alisha. Ketika jam 11 malam anakku bangun, dan istriku dengan sigap menyusuinya, walau kulihat mukanya sangat lelah, melintas di kepalaku untuk membawa anakku ke dokter walaupun sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan dokter. “Bunda, kayaknya Alisha harus kita bawa ke dokter anak,” kataku pada istriku yang sedang menyusui. Read the rest of this entry »

A. Asal-usul

“Saya tidak ingin menikah dengan seorang laki-laki yang tidak berani mengambil resiko melarikan diri dengan saya. Dia akan kelihatan lemah, baik di mata saya maupun orang lain dari desa saya bila dia meminta izin kepada ayah saya. Sebenarnya ayah saya akan melemparnya ke luar rumah bila dia mencoba melakukan hal itu” (Bartholomen, 2001: 204).

Membicarakan pernikahan Sasak, tidak bisa tidak membicarakan merarik, yaitu melarikan anak gadis untuk dijadikan istri. Merarik sebagai ritual memulai perkawinan merupakan fenomena yang sangat unik, dan mungkin hanya dapat ditemui di masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Begitu mendarah dagingnya tradisi ini dalam masyarakat, sehingga apabila ada orang yang ingin mengetahui status pernikahan seseorang, orang tersebut cukup bertanya apakah yang bersangkutan telah merarik atau belum. Tulisan Bartholomen di atas secara jelas menunjukkan bahwa merarik merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam (Bartholomen, 2001: 195). Read the rest of this entry »

1. Asal-usul

Basunat bagi masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merupakan hal yang sangat penting. Bahkan, keislaman seseorang belum dianggap sempurna apabila orang tersebut belum bersunat. Oleh karenanya, orang-orang Banjar sejak masih anak-anak (laki-laki berumur antara 6 – 12 tahun, dan perempuan biasanya lebih muda) telah disunat (Alfani Daud, 1997: 252). Asa bakalalangan haja kaalah kita (terasa mengganggu perasaan kita), demikian biasanya orang-orang mengomentari orang-orang Islam (bersyahadat) yang belum disunat. Selain dilakukan oleh kalangan orang Islam untuk menyempurnakan keislamannya, ternyata sunat juga dipraktekkan oleh masyarakat lokal yang masih menganut agama Balian maupun yang beragama Kristen (ibid). Namun sayang, belum ada cukup informasi yang menjelaskan mengapa mereka mempraktekkan sunat. Read the rest of this entry »

1. Asal Usul

Hidup di tengah hutan lebat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dihuni oleh beragam macam hewan liar dan buas, telah menginspirasi orang-orang Dayak untuk membuat senjata yang tidak saja mampu melindungi mereka dari ganasnya kehidupan hutan, tetapi juga mampu menjadi penopang kehidupan mereka baik secara materiil maupun moril. Berdasarkan kondisi dan tujuan tersebut, orang Dayak membuat senjata khusus, salah satunya adalah senjata yang cukup unik yang kemudian dikenal dengan nama sumpit atau sumpitan. Read the rest of this entry »