Memberi Nama Anakku

September 2, 2008

Keenggananku untuk mengetahui jenis kelamin anakku saat di USG, karena ingin surprise, ternyata betul-betul membuatku surprise dan kelabakan. Berdasarkan tanda-tanda yang umum terjadi, misalnya istriku tidak suka macak (berhias), gerakan yang hebat, dan beberapa terkaan tetangga dan saudara, aku beranggapan bahwa anakku adalah laki-laki. Oleh karenanya, dengan persetujuan istri mempersiapkan beberapa nama hanya untuk anak laki-laki. Walaupun selalu aku bilang kepada saudara-saudara, kawan-kawan, dan tetangga bahwa anak laki-laki maupun perempuan sama saja, semuanya adalah karunia dan kepercayaan Tuhan kepada kami.

Surprise betul-betul terjadi ketika pada tanggal 15 Agustus 2008, jam 08.40 anakku lahir berjenis kelamin perempuan. “Cantik banget.” Bisik hatiku sambil aku memeluk kepala istriku dan mencium keningnya yang basah penuh keringat. Keringat yang menghantarkannya mendapatkan status sebagai seorang ibu. “Tuhan, trimakasih enkau telah mempercayakan kepada kami seorang bayi perempuan yang cantik dan bermata tajam. Semoga aku sanggup membimbingnya menjadi perempuan solihah yang menjadi penerang bagi seluruh umat manusia.” Doaku sambil membopong anakku beberapa saat setelah dibersihkan dari darah yang menempel ditubuhnya dan dibungkus dengan jarik.


Tiba-tiba HP-ku berbunyi, rupanya ada SMS dari adikku Sigit Mustofa yang menanyakan anakku sudah lahir atau belum. Memang, sejak aku beritahu bahwa istriku hendak melahirkan, setiap beberapa menit adikku selalu SMS dan telepon menanyakan perkembangan proses persalinan istriku.

Segera setelah itu, aku telepon dia. “lek, tang anak la lahir, binik (Dik, anakku sudah lahir, perempuan)” kataku pada adikku yang langsung berucap “al-Hamdulillah”. “Namanya siapa kak”, kata adikku dengan nada sangat-sangat gembira. Mendengar pertanyaan adikku, aku baru tersadar bahwa aku belum menyiapkan nama untuk anakku. Adikku Sigit Mustofa merupakan salah seorang yang menerka bahwa anakku akan lahir laki-laki. Hanya Ayah dan Ibuku yang mengatakan bahwa anakku akan lahir perempuan. Mengapa ayah dan ibuku menerka demikian, menurut hematku karena dia sangat ingin dalam keluarga ada anak perempuan. Akhirnya terbukti, doa ayah dan ibuku (kakek dan nenek anakku) yang ternyata dikabulkan Tuhan.

Ayah, Ibu, Adikku Sigit, dan Simbahku yang sedang sakit sengaja menelponku berlama-lama hanya untuk mendengar tangisan cucu/keponakan/cicitnya. ”Kak, anakmu di cubit lah, aku pingin denger anakmu nangis”, kata adikku. ”Biarkan anakmu nangis, Aku ingin mendengarkannya,” kata ayahku. Bahkan, menurut cerita sigit, setiap orang yang berkunjung ke rumah di Jember selalu diberi tahu oleh Ibu, kalau dia sudah punya cucu, cucu perempuan. Kegembiraan keluarga di Jember merupakan sesuatu yang wajar, karena anakku merupakan cucu pertama dalam keluarga besarku.

Sejak kelahiran anakku itu, HP-ku seolah tak pernah berhenti berdering baik sekedar SMS atau untuk telepon. Baik dari keluarga Jember maupun saudara-saudara dan sahabatku-sahabatku yang lain. Bahkan, seorang kawan yang sedang kuliah mengambil program master komunikasi di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Mela Melani, menyempatkan diri untuk telepon. Rata-rata temen-temen yang SMS dan telepon mengucapkan selamat atas kelahiran putriku dan, ini yang membuat aku agak bingung, menanyakan nama anakku.

Hari Ahad, 17 Agustus 2008, ada SMS masuk dari Mas Rido, Pimred www.melayuonline.com, yang menginformasikan bahwa hari Senin, 18 Agustus 2008, kantor masuk seperti biasa. ”Waduh, aku harus berangkat ke jogja dan melupakan sementara tangisan anakku.” Bisik hatiku. Padahal aku sudah merencanakan pulang Senin sore, karena pada hari Senin kalender di rumah berwarna merah. Namun karena ternyata kantor tidak libur, dan aku hanya mendapat ijin cuti kelahiran dua hari, maka mau tidak mau aku harus mempercepat kepulanganku ke Yogya. Ketika aku sampaikan kabar ini ke Istri, dia bilang, ”Kan besok tanggal merah Yah”, katanya dengan nada agak berat. Setelah aku sampaikan alasannya, dia pun memahami dan berpesan agar segera mencarikan nama untuk putri kecil kami.

Ahad, sekitar pukul 11 siang aku berangkat ke Yogyakarta. ”Nama anak adalah doa orang tuanya”, suara itu seolah-olah memenuhi telingaku dalam perjalanan dari Madiun ke Yogyakarta. Segera setelah aku sampai di Yogya, aku segera ke warnet dan tanya ke mbah google nama yang cocok untuk anakku. Ketika aku sedang browsing nama anak, aku teringat dengan kesan pertama pada anakku. Kulitnya putih dan matanya jernih berbinar-binar menatapku tajam.


Setelah sekian lama mencari, dan berdiskusi dengan istri dan adikku, akhirnya mengkristal dua nama, yaitu Alisha Haura Afiqoh dan Adelia Filia Afiqoh. Alisha Haura Afiqoh artinya perempuan mulia berkulit putih dan bermata tajam yang berpengetahuan sangat luas, sedangkan nama kedua Adelia Filia Afiqoh berarti Pemimpin mulia yang berpengetahuan sangat luas. Akhirnya, Rabu pagi diputuskan bahwa anak kami diberi nama ”Alisha Haura Afiqoh artinya perempuan mulia berkulit putih dan bermata tajam yang berpengetahuan sangat luas.

Nama anakku ini kemudian diresmikan bersamaan dengan selamatan sepasar (lima hari) anakku. Oleh karena anakku lahir pada hari Jumat Kliwon, maka sepasarnya jatuh pada hari Rabu Kliwon. Dan agar tidak terlalu banyak gawe (acara), maka pada selametan sepasar anakku juga dilakukan upacara aqiqoh, yang ditandai dengan penyembelihan kambing. Menurut kebiasaan, jika bayi yang lahir laki-laki, maka kambing yang harus disembelih sebanyak dua ekor. Dan jika yang lahir bayi perempuan, maka cukup satu kambing. Aku tidak cukup mengerti mengapa bayi laki-laki dengan dua kambing, sedangkan bayi perempuan satu kambing, tapi karena adat masyarakat demikian, maka aku mengikutinya saja.


Saat itu aku sangat-sangat sedih, karena tidak bisa menghadiri selamatan aqiqoh anakku. ”Apa kata orang-orang jika tidak hadir dalam acara aqiqoh-an anakku”, bisik hatiku. Tetapi pilihan-pilihan harus dipilih, dan konsekuensi dari pilihan itu harus aku terima. Akhirnya, setelah ngomong sama istri dan mertuaku via telepon, dan mereka tidak ”mempermasalahkan” ketidak hadiranku, maka aku memutuskan untuk tidak hadir dalam acara pensakralan nama anakku yang ditandai pemotongan rambut anakku, pembacaan shalawat, dan pembacaan asyarakal yang diiringi oleh terbang. Sungguh berat, bahkan sangat-sangat berat pilihan yang harus aku pilih. Ketika orang lain meluangkan waktu untuk mendoakan anakku, aku memilih untuk terus bekerja. Bukan aku tidak sayang anakku, tapi kondisi dan situasi yang memaksa aku melakukan itu semua. Putriku, dari jauh aku berdoa untukmu. ”Ya Allah, jadikanlah putriku perempuan yang solihah. Ya Allah, jadikanlah putriku perempuan mulia yang senantiasa menjauhkan diri dari dosa, sehingga kulitnya tetap putih bersih dari noda, Ya Allah, jadikanlah putriku perempuan bermata tajam yang mampu mengayomi orang lain, mampu melihat kemungkaran dan merubahnya menjadi kebaikan. Ya Allah, jadikanlah putriku perempuan yang mencintai ilmu pengetahuan sehingga berpengetahuan luas dan mampu menjadi penerang dunia. Ya Allah….Iyyaakana’budu wa iyyaakanastain.”

2 Responses to “Memberi Nama Anakku”

  1. […] nama adalah kesan pertama kali terhadap anakku. Misal anakku yang pertama, diberi nama Alisha Haura Afiqoh karena kesan pertama atasnya adalah: aku melihat matanya berkilat dan sangat tajam, serta kulitnya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: