Putri Pertamaku Lahir: An Amazing Life Experience

August 22, 2008

Beberapa jam setelah anakku lahir

Malam Jum’at (14/08/08), jam baru menunjukkan pukul 19.30 WIB ketika sebuah SMS masuk ke HP-ku. Setelah aku buka, ternyata SMS dari istriku. Isinya sangat-sangat membikin deg-degan. “Ayah, bunda dah bukaan satu”, demikian bunyi sms itu.

Membaca SMS itu, hatiku campur aduk. Akhirnya, tiba saatnya aku menjadi seorang ayah. Pada satu sisi, aku khawatir jika proses persalinan yang akan segera dihadapi istriku tidak berjalan lancar. “Ku pasrahkan semuanya padamu Tuhan,” bisik hatiku dengan pasrah.

Aku pun segera berkemas-kemas, mempersiapkan tas, dan memasukkan beberapa pakaian yang aku butuhkan. Karena mungkin terlalu panik, sampai aku lupa untuk membalas SMS istriku. Tiba-tiba HP-ku berbunyi, ternyata istriku menelpon.

“Kok SMS bunda gak di jawab sih”, katanya dengan suara agak memelas.

“Maaf bunda, ayah deg-degan, sampai lupa tuk membalas SMS Bunda. Ayah bentar lagi berangkat, mungkin tengah malam baru nyampe Madiun. Bunda tenang ya,” ucapku. “Ayah hati-hati ya di jalan”, lanjut istriku sambil menutup telepon.

Istriku bersiap memberi ASI

Setelah selesai berkemas, aku segera menunju Janti. “Lebih cepat nunggu Bis di janti,” pikirku. Segera aku pacu sepeda motor dan memasukkannya ke tempat penitipan. Setelah menunggu sekitar 10 menit, bus yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Untuk mempersingkat waktu, aku turun di Solo dan berganti Bus yang antri dibagian depan.

Selama perjalanan, tak sekejappun aku dapat memejamkan mata. Aku terus berdoa kepada Tuhan, agar proses persalinan istriku berjalan lancer. Untuk menambah rasa PeDe, aku meminta bantuan doa teman-teman dengan menggunakan SMS. Sebelum melanjutkan ceritaku ini, alangkah baiknya jika aku mengucapkan terimakasih kepada para sahabat yang telah ikut membantu berdoa sehingga proses persalinan berlangsung lancar.

Pukul 00.43 WIB, aku sampai di Madiun. Baru menjejakkan kaki di terminal Madiun, aku agak bingung, naik taksi, ojek, atau menunggu Bus. Setelah mempertimbangkan faktor keamanan, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu bus jurusan Ponorogo. Jika sampai pukul 01.15 bus belum ada, baru aku akan naik taksi.

Untunglah, pukul 01.04 WIB datang sebuah bus jurusan Surabaya-Ponorogo. Aku pun naik. Setelah mendapat tempat duduk, aku SMS istriku. “Bunda, ayah baru brngkt dr trminl Madiun. Mngkin bntr lg nyampe. Bunda istrhat ya…” Tak berapa lama SMS dari istriku masuk, “bunda g’bisa istrhat. Badan bunda sakit semua. Dudukpun sakit.” SMS dari istriku membuat aku semakin deg-degan.

Pukul 01.35 aku sampai di tempat istriku hendak melahirkan. Kulihat istriku tersiksa banget. Dia berjalan mondar-mandir. “Duduklah bunda. Kalo bisa tidur,” kataku sambil mencium keningnya.

“Yah, kalo dibuat duduk, perut bunda sakit banget. Kalo bisa istirahat tentunya aku pingin istirahat. Bunda sebenarnya ngantuk banget,” kata istriku dengan wajah kuyu. Melihat “penderitaan” istriku, rasa capek setelah melakukan perjalanan Yogya-Madiun seolah-olah hilang begitu saja. Aku berusaha mengurangi penderitaan istriku dengan memijit punggung, kaki dan/atau tangannya. Itulah yang aku lakukan sampai sekitar pukul 05.00.

Aku segera sholat subuh, dan istriku ditunggui oleh mertuaku. Selesai sholat, aku berdoa kepada Tuhan agar proses persalinan istriku berjalan lancar dan semuanya selamat. Aku membaca surat-surat pendek al-Quran, membaca shalawat Nabi, dan doa-doa lainnya. Saat itu aku betul nervous, tapi aku berusaha bersikap setenang mungkin ketika berada di samping istriku.

Mulai sekitar pukul 07.47, istriku sudah dalam kondisi siap melahirkan. Aku yang sejak awal menemani istriku, ikut juga merasakan bagaimana hebatnya rasa sakit yang dirasakan istriku. Kondisi fisik istriku sudah nampak mulai lemah setelah semalaman sama sekali tidak istirahat. Syukurlah, akhirnya Jum’at 15 Agustus 2008, pukul 08.40 WIB bayi perempuan putih bermatan tajam nan cantik lahir dari rahim istriku dengan lancar dan selamat, beratnya 3,1 kg dan panjangnya 48 cm.

Anakku sedang digendong Tante Ani (Istri Kakak Iparku)

Lahirnya bayi perempuan dari rahim istriku cukup membuat aku dan semua yang hadir kaget. Walaupun beberapa kali telah di USG, tapi kami minta kepada dokter untuk tidak menyebutkan jenis kelamin bayi yang dikandung istriku. “Biar hal itu tetap menjadi misteri” demikian jawabku ketika ada para saudara dan sahabat menanyakan. Menurut perkiraan ku dan juga beberapa orang, setelah memperhatikan kebiasaan istriku, anak dalam kandungan istriku berjenis kelamin laki-laki. Hanya ayahku, walaupun tidak pernah melihat fisik istriku saat hamil, yang mengatakan bahwa anakku perempuan.

Akhinya, kami benar-benar dibuat kaget. Anakku pertama berjenis kelamin perempuan. Kesalahan prediksi ini, juga berimbas pada tertundanya memberi nama pada anak pertamaku karena aku hanya menyiapkan nama untuk anak laki-laki. Syukur kepada-Mu Tuhan, kami telah diijinkan untuk merawat titipan-Mu.

7 Responses to “Putri Pertamaku Lahir: An Amazing Life Experience”

  1. wah…..saya kapan ya…………. (nikah aja belum kok………..hehehehe) selamat ya….semoga sehat…. dan tumbuh dewasa😉 GBU

  2. La said

    barakallahh yagh mas.. snang banget dengar perjalanan waktu yang tlah dilalui… moga menjadi zuriat yang sholehah… namanya sesuai dengan anaknya.. cup syang buat d baby.. n lam juag buat nyonya.. heee

  3. trimaksih atas doanya…

  4. nina said

    alhamdulillah baby lahir ke dunia dengan selamat,
    saya ucapkan selamat menjadi ayah…..
    babynya cantik banget,,,,,,,mudah2an menjadi anak yang sholeha,,,berbakti pada ayah&bundanya…..aq pengen banget merasakan gmn rasanya melahirkan baby ke dunia…tapi nikah aja belum,,,,,,,,

  5. tanjung said

    apa nama puteri sulung? saya pun kepingin hendak menyelimuti anak dengan kain batik sebagaimana diperlakukan anakanda tuan yang di tatang tantenya. saya juga ingin menamakan anak perempuan dengan nama tanjung (yang saya pinjam dijadikan username.. heheh… angan2!) sejak 10 tahu kebelakangan ini saya amat menjiwai jiwa melayu saya, sebelumnya saya hanya seorang modernis. sekarang sangat bercita2 hendak mendirikan, memiliki dan mendiami rumah tradisi melayu tapi terhalang oleh faktor kewangan.kayu asli malaysia sangat mahal. mungkin boleh import kayu dari indonesia, bila saya benar2 bersedia?maka sebab itulah saya terjumpa blog tuan saleh ini. rumah riau yg tuan postkan di sini bagaikan gambarnya diambil di kampung2 malaysia aje.tapi tak ramai tukang rumah mahir yang masih berbaki di malaysia. syabas atas usaha tuan memartabatkan rumah tradisi. terima kasih dari saya atas penerangan filosofi di sebalik pembinaan rumah melayu. tuan sendiri dari suku melayu juga kah?

  6. terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Insyaallah, Gusti Allah akan mengabulkan cita-cita tuan/puan Tanjung. dengan senantiasa berikhtiar dan berserah diri kepada Allah SWT, keinginan tuan/puan tanjung untuk memiliki putra/putri akan segera tercapai. saya kira, nama tanjung merupakan nama yang sangat cantik..

  7. […] juga proses menuju kelahirannya juga relatif berliku. Berbeda dengan putri kami yang pertama, Alisha Haura Afiqoh, dimana istriku dalam proses menunggu kelahiran berada di Madiun Jawa Timur, sehingga saya tidak […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: