Pasca Kelahiran Anakku: Menjalankan Ritual yang tidak Aku Pahami

August 22, 2008

Anakku yang cantik……

Setelah anakku dibersihkan dari darah yang menempel, aku diminta oleh ibu mertuaku untuk meng-adzani kuping sebelah kanan, dan membaca iqomah pada kuping sebelah kiri. “Nak Udin, ayo kuping kanan anakmu di adzani dulu. Trus nanti baca iqomah pada kuping kirinya. Apa nak Udin udah ambil wudhu,” kata ibu mertua sambil menyerahkan anakku.

Para saudara Mengunjungi Anakku

Setelah anaku aku bopong, aku langsung membaca adzan pada kuping sebelah kanan, dan membaca iqomah pada kuping sebelah kiri. Setelah selesai, aku diajak Pak Lik Haji Dar pulang ke rumah untuk menanam (baca: menguburkan) ari-ari anakku yang telah dimasukkan ke dalam wadah terbuat dari tanah. Waktu hendak membawa ari-ari tersebut, Pak Lik Haji Dar mengingatkan aku agar ketika membawa ari-ari menggunakan tangan kanan. “Din, mengko le’ gowo ari-ari kudu nganggu tangan tengen, ojo nganggo kiwo. Le’ nganggo kiwo, mengko anakmu ngede,” kata Pak Dar mengingatkan. Akupun mengikutinya walau kebenarannya belum terbukti. “Ya..itung-itung melestarikan adat,” bisik hatiku.

Semoga menjadi anak yang solehah dan memberikan kebaikan kepada segenap umat manusia

Pemilihan tempat menanam ari-ari ternyata ada aturannya. Kalau seorang anak lahir malam hari, maka tembuninya ditanam di luar rumah. Tapi jika lahir siang hari, tembuninya harus ditanam di dalam rumah. Oleh karena anakku lahir siang hari, maka ari-arinya ditanam di dalam rumah. Setelah ditentukan tempatnya, Pak Dar segera membuat lubang. Sambil menggali lubang, ia memintaku untuk menulis surat Al-Fatihah pada selembar kertas putih. Tanpa bertanya untuk apa, aku segera menulisnya. Setelah lubang dan tulisan surat Al-Fatihan siap, Pak Dar memintaku untuk memasukkan ari-ari yang diletakkan dalam wadah terbuat dari tanah ke dalam lubang itu. Kemudian tulisan surat al-Fatihan tersebut diletakkan di atasnya. Setelah itu, aku di suruh adzan dan iqomah. Setelah itu, lubang tersebut ditimbun dengan tanah. Kemudian tempat ditanamnya ari-ari anakku diberi lampu kecil. Aku berusaha menjalankan kebiasaan yang berada dalam keluarga istriku, tanpa bertanya walaupun aku tidak tahu apa makna yang terkandung di dalamnya. Setelah selesai, aku bersama Pak Dar kembali ke tempat istriku melahirkan.

Bersamaan dengan kelahiran anakku, di rumah juga ikut sibuk mempersiapkan hidangan selametan. Oleh karena ibu mertua menunggui istriku, maka hidangan selamatan dipersiapkan oleh istri kakak iparku dengan dibantu oleh Bu Puh (sebutan untuk istri saudara ayah yang paling tua). Setelah hidangan siap, beberapa orang tetangga diundang untuk mendoakan anakku. Selain itu, makanan lengkap dengan lauk-pauknya juga di antarkan ke beberapa rumah tetangga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: