Roppo Mandar: Alat Bantu Penangkap Ikan Khas Nelayan Mandar

June 25, 2008

1. Asal-Usul

Kondisi alam akan mengajarkan manusia bagaimana cara untuk bertahan hidup. Oleh karenanya, setiap masyarakat mempunyai cara unik untuk mempertahankan hidup. Demikian juga dengan masyarakat Mandar. Jika lautan dalam dan ombak besar telah mengilhami masyarakat Mandar untuk membuat alat transportasi Perahu Sandeq, maka laut itu juga telah mengajarkan mereka bagaimana mendapatkan dan memanfaatkan kekayaan (baca: ikan) yang terdapat di dalamnya. Salah satu hasil dari pembelajaran tersebut adalah terciptanya alat bantu penangkap ikan yang khas masyarakat nelayan Mandar, yaitu roppo atau roppong.

Kata roppo atau roppong berasal dari bahasa Mandar yang berarti sampah, baik yang ada di daratan maupun di perairan (Alimudin, 2003: 183). Menurut Caron (1937), roppo adalah potongan-potongan bambu panjang yang ditanam di dasar laut, dan diikatkan daun-daun kelapa di ujungnya, yang berfungsi sebagai tempat persembunyian ikan. Menurut Nijhoff (1919), roppo adalah bedekken (menutupi) yang kemudian diartikan sebagai alat untuk menutupi sebatang pohon agar tidak dapat dipanjat; juga dapat diartikan sebagai menutupi suatu jalan agar tidak dapat dilalui orang (Muthalib, 1977). Menurut Lopa (1982), roppo mempunyai dua arti, yaitu batas wilayah teritorial laut beberapa kerajaan di kawasan pesisir barat Pulau Sulawesi, dan alat pengumpul ikan. Sedangkan menurut Alimudin (www.panyingkul.com), roppo adalah alat bantu penangkapan ikan yang terdiri dari pelampung (bambu atau gabus), alat pemikat (daun kelapa yang dipasang di bawah pelampung), dan pemberat (batu).

Masyarakat nelayan Mandar telah mengenal roppo sejak abad X (Lopa, 1982: 3), dan kemudian tekhnik pembuatan dan pemakaian roppo tersebut menyebar ke berbagai daerah di Nusantara (Liebner, 1996; Lampe 1996), bahkan juga ke mancanegara (Alimuddin, 2003: 181). Terbentuknya roppo berawal dari guguran daun-daun kelapa yang berada di sepanjang pantai barat Pulau Sulawesi, khususnya pantai teluk Mandar. Daun-daun kelapa tersebut terbawa air ke laut dan menjadi tempat ikan “berlindung” dan berkumpul. Dan, menjadi tempat para nelayan untuk mencari ikan (Alimudin, 2003: 181). Hasil membaca nelayan Mandar terhadap tempat yang disukai ikan untuk berkumpul, kemudian menghasilkan pengetahuan lokal (local knowledge) yang berbentuk roppo. Dengan kata lain, tekhnik menangkap ikan menggunakan roppo merupakan pengejawantahan dari pembacaan dan pemahaman nelayan Mandar terhadap fenomena yang terjadi di lautan.

Roppo nelayan Mandar, menurut Subani (1972), merupakan roppo dalam. Disebut demikian karena roppo nelayan Mandar hampir semuanya dipasang di laut yang mempunyai kedalaman antara 300 – 2.500 meter. Dalam pemasangan roppo, ada beberapa aturan yang harus ditaati (http://www.panyingkul.com; Alimuddin, 2005: 129-133), yaitu: pertama, Jarak antarroppo. Jarak diatur sedemikian rupa sehingga ketika dilakukan operasi penangkapan ikan secara bersamaan, maka para pemilik roppo tidak saling menggangu. Kedua, pemasang roppo yang pertama mempunyai hak-hak istimewa dalam menyelesaikan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan penempatan roppo, misalnya: apabila ada dua roppo yang saling kait (berhubungan satu sama lain sehingga tidak dapat dipisahkan), nelayan yang lebih dulu memasang berhak memiliki roppo tersebut.

Ketiga, apabila ada roppo yang berpindah, maka: (1) Hak roppo dimiliki oleh pemasang pertama jika bagian-bagian roppo yang melayang/terapung di laut mendekat kepada roppo yang dipasang lebih awal. (2) Hak roppo dimiliki oleh pemilik roppo tanpa memperhitungkan siapa yang pertama kali memasang jika yang berpindah adalah roppo secara keseluruhan, baik yang terapung maupun yang tenggelam. (3) Hak roppo dimiliki oleh orang yang menemukan apabila ada bagian roppo yang terlepas. Keempat, Nelayan lain diijinkan untuk memanfaatkan roppo, baik untuk menambatkan perahu maupun untuk menangkap ikan, selama tidak membahayakan roppo dan alat tangkap yang digunakan tidak berskala besar. Namun jika menggunakan alat tangkap besar, maka harus mengajukan izin terlebih dahulu atau memberitahukan ketika selesai melakukan penangkapan ikan dan membagi hasil tangkapan. Kelima, pemilik roppo harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berlayar dalam wilayah ropponya.

To read a complete article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: