Upacara Pernikahan Komunitas Proto Melayu Talang Mamak

June 24, 2008

1. Asal-Usul

Pernikahan tidak saja merupakan cara yang paling bermartabat untuk menjamin keberadaan manusia di atas muka bumi, tetapi juga sebagai pengejawantahan dan pewarisan nilai-nilai yang dianut oleh sebuah komunitas (masyarakat). Dengan kata lain, melalui perkawinan masyarakat menjamin keberlangsungannya, dan sekaligus melestarikan, mewariskan dan membentuk peradabannya. Hal itulah yang dapat kita lihat pada pernikahan komunitas Talang Mamak yang hidup di pedalaman Provinsi Riau dan Provinsi Jambi.

Komunitas Talang Mamak merupakan proto Melayu (Melayu tua). Setelah masuknya Islam, komunitas Talang Mamak menyingkir ke daerah pedalaman. Jika Melayu secara umum identik dengan Islam, maka bagi komunitas Talang Mamak, kemelayuan identik dengan adat-istiadatnya (tradisi). Oleh karenanya, upacara pernikahanya sedikit banyak memiliki kesamaan dengan upacara pernikahan Melayu pada umumnya.

Dalam kaitannya dengan masuknya Islam, ada dua identifikasi berbeda yang berkembang di komunitas Talang Mamak, yaitu: “langkah baru” dan “langkah lama”. “Langkah baru” artinya orang Talang Mamak yang telah memeluk Agama Islam. Sedangkan “langkah lama” artinya orang Talang Mamak yang menganut animisme dan dinamisme. Namun walaupun seseorang telah melakukan “langkah baru,” nilai-nilai kepercayaan lokal tidak serta merta hilang. Hal ini disebabkan Talang Mamak menggunakan kepercayaan-kepercayaan lama tersebut sebagai point of view untuk memahami agama pendatang. Akibatnya, walaupun telah melakukan “langkah baru,” tetapi keyakinan animisme dan dinamisme masih cukup mewarnai kehidupan sehari-hari komunitas itu.

Pernikahan Talang Mamak sebagai bentuk manifestasi nilai-nilai yang dianut tidak saja mengandung nilai-nilai keduniawian (profane) tetapi juga kesakralan (sacred). Oleh karena itu, dalam upacara pernikahan komunitas Talang Mamak baik dalam fase sebelum, saat atau setelah pernikahan, akan tersaji secara apik bagaimana agama pendatang, khususnya Islam, dan budaya lokal berakulturasi. Dengan kata lain, komunitas ini memperlakukan agama dan budaya lokal dalam posisi saling melengkapi.

To read complete article click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: