Upacara Aruh Ganal: Ungkapan Syukur Masyarakat Dayak

June 23, 2008

1. Asal-Usul

Bahuma atau berladang bagi masyarakat Dayak di Kalimantan tidak semata-mata merupakan aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga aktivitas religius untuk berhubungan dengan Sang Maha Pemberi Rizqi. Ada juga yang menyebutkan bahwa aktivitas bertani yang dijalankan oleh masyarakat Dayak merupakan bagian dari religi huma. Puncak dari tradisi ritual bahuma adalah Aruh Ganal (kenduri besar), yaitu pesta yang diadakan setelah panen raya sebagai ungkapan syukur atas rizqi yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Selain itu, Aruh Ganal juga sebagai permohonan agar hasil pada musim tanam berikutnya semakin melimpah dan dijauhkan dari hama perusak tanaman.

Disebut Aruh Ganal karena upacara ini dirayakan secara besar-besaran selama lima, tujuh, dan atau 12 hari oleh seluRohwarga kampung; dengan mengundang warga dari kampung-kampung lainnya. Bahkan, terkadang juga mengundang aparat pemerintahan. Kemeriahan Aruh Ganal, sepenuhnya tergantung kepada banyak-sedikitnya hasil bahuma masyarakat. Apabila hasil panen banyak dan bagus maka akan diadakanlah upacara Aruh Ganal secara meriah, sebaliknya jika panen kurang berhasil maka cukup diadakan AruhKecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali.

Aruh Ganal disebut juga bawanang banih halin atau upacara mahanyari banih barat, yaitu upacara yang dilaksanakan karena mendapat hasil panen padi yang banyak dan selama bahuma tidak mendapat musibah. Padi yang diikutkan dalam upacara ini adalah padi yang terakhir kali dipanen atau disebut juga hasil panen yang kedua. Beras dari hasil panen tersebut belum boleh dimakan sebelum diupacarai. Dengan kata lain, masyarakat Dayak baru akan menikmati hasil dari bahuma setelah mereka mengucapkan syukur kepada Sang Maha Pemberi Rizqi.

Oleh karena Aruh Ganal merupakan upacara sakral dan bernuansa magis, maka pelaksanaan upacara Aruh Ganal dipimpin oleh Balian. Balian adalah tokoh (pimpinan) adat yang mempunyai pengetahuan luas mengenai seluk beluk adat dan tradisi masyarakat Dayak. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara berguru kepada Balian Tuha (Dukun Tua) dan melakukan Balampah (semacam semedi untuk membangun persahabatan dengan berbagai jenis roh halus sehingga memperoleh kesaktian tertentu).

Balian yang terlibat dalam upacara Aruh Ganal terdiri dari beberapa orang dan dipimpin oleh Pangulu Adat (Penghulu Adat). Dalam menjalankan tugasnya, setiap Balian selalu didampingi oleh Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian, dan pada saat bersamaan dapat mengajukan permohonan atas kehendak masyarakat. Segala permintaan Balian dilayani oleh Panjulang.

To read full article Click here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: