1. Asal-Usul

Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu (magon) yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung (bubungan) atapnya melentik ke atas. Read the rest of this entry »

Advertisements

1. Asal-Usul

Kepulauan Riau merupakan salah satu satu provinsi di Indonesia. Daerah ini merupakan gugusan pulau yang tersebar di perairan selat Malaka dan laut Cina selatan. Keadaan pulau-pulau itu berbukit dengan pantai landai dan terjal. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sedangkan agama yang dianut oleh sebagian besar dari mereka adalah Islam. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Kepercayaan individu atau masyarakat dan kondisi alam di mana individu atau masyarakat hidup mempunyai pengaruh signifikan terhadap bentuk arsitektur bangunan, rumah, yang dibuat. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Rumoh Aceh, Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Indonesia. Rumoh Aceh merupakan rumah panggung dengan tinggi tiang antara 2,50-3 meter, terdiri dari tiga atau lima ruang, dengan satu ruang utama yang dinamakan rambat. Rumoh dengan tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan Rumoh dengan lima ruang memiliki 24 tiang. Modifikasi dari tiga ke lima ruang atau sebaliknya bisa dilakukan dengan mudah, tinggal menambah atau menghilangkan bagian yang ada di sisi kiri atau kanan rumah. Bagian ini biasa disebut sramoe likot atau serambi belakang dan sramoe reunyeun atau serambi bertangga, yaitu tempat masuk ke Rumoh yang selalu berada di sebelah timur. Read the rest of this entry »

1. Asal Usul

Kain Sasirangan merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun (http://www.pintunet.com). Kain ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk membuat pakaian adat, yaitu pakaian yang digunakan orang-orang Banjar baik oleh kalangan rakyat biasa maupun keturunan para bangsawan untuk melaksanakan upacara-upacara adat (http://rubiyah.com). Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Kondisi alam akan mengajarkan manusia bagaimana cara untuk bertahan hidup. Oleh karenanya, setiap masyarakat mempunyai cara unik untuk mempertahankan hidup. Demikian juga dengan masyarakat Mandar. Jika lautan dalam dan ombak besar telah mengilhami masyarakat Mandar untuk membuat alat transportasi Perahu Sandeq, maka laut itu juga telah mengajarkan mereka bagaimana mendapatkan dan memanfaatkan kekayaan (baca: ikan) yang terdapat di dalamnya. Salah satu hasil dari pembelajaran tersebut adalah terciptanya alat bantu penangkap ikan yang khas masyarakat nelayan Mandar, yaitu roppo atau roppong. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di Nusantara yang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Lautan dalam merupakan halaman rumah-rumah mereka. Begitu mereka bangun dari tidur, mereka akan disapa oleh gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut. Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim, struggle for survival), dan membangun kebudayaannya. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Pernikahan tidak saja merupakan cara yang paling bermartabat untuk menjamin keberadaan manusia di atas muka bumi, tetapi juga sebagai pengejawantahan dan pewarisan nilai-nilai yang dianut oleh sebuah komunitas (masyarakat). Dengan kata lain, melalui perkawinan masyarakat menjamin keberlangsungannya, dan sekaligus melestarikan, mewariskan dan membentuk peradabannya. Hal itulah yang dapat kita lihat pada pernikahan komunitas Talang Mamak yang hidup di pedalaman Provinsi Riau dan Provinsi Jambi.

Komunitas Talang Mamak merupakan proto Melayu (Melayu tua). Setelah masuknya Islam, komunitas Talang Mamak menyingkir ke daerah pedalaman. Jika Melayu secara umum identik dengan Islam, maka bagi komunitas Talang Mamak, kemelayuan identik dengan adat-istiadatnya (tradisi). Oleh karenanya, upacara pernikahanya sedikit banyak memiliki kesamaan dengan upacara pernikahan Melayu pada umumnya. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Bulan Rabiul Awwal merupakan salah satu bulan bersejarah dalam kalender Islam. Pada bulan ini, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awwal nabi Muhammad SAW, lahir ke muka bumi. Oleh karena itu, bulan Rabiul Awwal oleh sebagain umat Islam disebut juga dengan nama bulan maulud atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran Nabi Muhammad merupakan salah satu nikmat terbesar bagi umat Islam. Bekait dengan hal tersebut, pada bulan ini, tepatnya setiap tanggal 12 Rabiul Awwal, ada sebagian umat Islam yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan khusus untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, seperti upacara Baayun Mulud yang diadakan oleh masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Read the rest of this entry »

1. Asal-Usul

Bahuma atau berladang bagi masyarakat Dayak di Kalimantan tidak semata-mata merupakan aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga aktivitas religius untuk berhubungan dengan Sang Maha Pemberi Rizqi. Ada juga yang menyebutkan bahwa aktivitas bertani yang dijalankan oleh masyarakat Dayak merupakan bagian dari religi huma. Puncak dari tradisi ritual bahuma adalah Aruh Ganal (kenduri besar), yaitu pesta yang diadakan setelah panen raya sebagai ungkapan syukur atas rizqi yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Selain itu, Aruh Ganal juga sebagai permohonan agar hasil pada musim tanam berikutnya semakin melimpah dan dijauhkan dari hama perusak tanaman. Read the rest of this entry »