<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Salehudin</title>
	<atom:link href="http://asalehudin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://asalehudin.wordpress.com</link>
	<description>HADIR SEBAGAI SUMBER INSPIRASIMU</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 08:50:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='asalehudin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ahmad Salehudin</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://asalehudin.wordpress.com/osd.xml" title="Ahmad Salehudin" />
	<atom:link rel='hub' href='http://asalehudin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Setahun Belajar Bersama Kawan-kawan Mahasiswa Perbandingan Agama</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2011/02/01/setahun-belajar-bersama-kawan-kawan-mahasiswa-perbandingan-agama/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2011/02/01/setahun-belajar-bersama-kawan-kawan-mahasiswa-perbandingan-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 01:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Begitu tapak kaki memasuki Januari 2011, saat itupula sebuah lintasan perjalanan bersama kawan-kawan mahasiswa Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga Yogyakarta telah terbentang sepanjang 1 tahun. Bukan lintasan yang cukup panjang, tapi saya kira sudah relatif cukup untuk menhasilkan jejak yang tidak terlalu samar. Memang hasil belum dapat dilihat, tapi proses pembelajaran yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=303&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://asalehudin.files.wordpress.com/2011/02/dsc_21503.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-316" title="Pembekalan Wisuda" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2011/02/dsc_21503.jpg?w=460&#038;h=308" alt="Pembekalan Wisudawan-wisudawati Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta" width="460" height="308" /></a></p>
<p>Begitu tapak kaki memasuki Januari 2011, saat itupula sebuah lintasan perjalanan bersama kawan-kawan mahasiswa Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga Yogyakarta telah terbentang sepanjang 1 tahun. Bukan lintasan yang cukup panjang, tapi saya kira sudah relatif cukup untuk menhasilkan jejak yang tidak terlalu samar. Memang hasil belum dapat dilihat, tapi proses pembelajaran yang telah dilakukan perlu direnungkan agar tidak sekedar menjadi ritualitas.<span id="more-303"></span></p>
<p>Menjadi dosen adalah pilihan. Artinya, kita bisa saja memilih posisi yang lain, yaitu posisi yang terbaik dan yang membuat kita merasa nyaman. Harus disadari, ukuran “terbaik” bagi kita, mungkin saja bebeda dengan posisi “terbaik” menurut orang lain.  Demikian juga nyaman menurut kita, mungkin tidak nyaman bagi orang lain. Hal ini dapat dilihat dari keragaman pilihan posisi seseorang. Seorang kawan saya di CRCS Sekolah Pasca Sarjana UGM Yogyakarta misalnya, memilih menjadi “wiraswasta” daripada Pegawai Negeri. Akibat pilihannya itu, dia berkesempatan menjelajahi seluruh kawasan Indonesia dengan gratis. Kawan di S1 Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga demikian. Ketika sebagian teman-temanya sibuk berubut menjadi CPNS dan atau melanjutkan studi S2, dia lebih memilih menjadi pedagang sapi. Hasilnya luar biasa. Ketika teman-temannya masih sibuk membangun hidup dan kehidupan, dia kini telah menjadi juragan sapi yang luar biasa sukses.</p>
<p>Demikian juga pilihan aku untuk menjadi dosen. Setelah menyelesaikan kulian di S1 Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga dan S2 Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, aku bergabung dengan “Datuk Cendikia Hikmatullah” Mahyudin Al Mudra bersama-sama melakukan revitalisasi Melayu melalui Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta. Di BKPBM, saya mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu pimpinan <a href="http://www.melayuonline.com/">www.melayuonline.com</a> dan <a href="http://www.rajaalihaji.com/">www.rajaalihaji.com</a>. Di BKPBM, khususnya di <a href="http://www.melayuonline.com/">www.melayuonline.com</a> dan <a href="http://www.rajaalihaji.com/">www.rajaalihaji.com</a>, aku mendapatkan pengalaman luar biasa, tidak saja dalam mengasah kemampuan melakukan <em>research</em> tentang budaya Melayu, sehingga sedikit banyak mengetahui Melayu, tetapi juga menyadarkanku betapa “tidak siapnya” alumni perguruan tinggi masuk dalam dunia kerja (baca: hidup di masyarakat).</p>
<p>Pengalaman di <a href="http://www.melayuonline.com/">www.melayuonline.com</a> dan <a href="http://www.rajaalihaji.com/">www.rajaalihaji.com</a> menuntunku melakukan sesuatu yang berbeda ketika harus menjadi dosen di Jurusan Perbandingan Agama (PA), Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tantangan yang dihadapi oleh alumni PA saat ini tentu lebih berat daripada tantangan yang aku hadapi 10 tahun yang lalu. “Mau jadi apa lulusan PA?”, kira-kira itulah yang selalu ditanyakan orang jika tahu aku mahasiswa PA kala itu. Dan saya yakin, pertanyaan itu juga akan ditemui oleh mahasiswa PA saat ini, dan mungkin pada masa yang akan datang. Apalagi dijaman yang semuanya serba diukur dengan “skill” yang harus sesuai dengan kepentingan dunia kerja saat ini.</p>
<p>Secara idealitas, orang-orang yang memiliki pola pikir terbuka (<em>open minded</em>) sangat dibutuhkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang multi agama dan multi budaya. Hanya mereka yang open minded, yang dapat menyikapi keragaman agama dan budaya secara positif, dan merajutnya menjadi permadani nan elok dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas hingga pulau Rote. Pribadi-pribadi dengan kualifikasi tersebut, secara akademis, dipersiapkan oleh Jurusan Perbandingan Agama.Sayangnya, realitas tidak terlalu berpihak kepada mereka yang dididik untuk open minded. Yang paling dibutuhkan saat ini bukan mereka yang open minded dan terlalu banyak berpikir, tetapi yang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan hasil-hasil teknologi modern.</p>
<p>Konflik antaragama dan ketegangan antarsuku yang selama ini sering menjadi krikil-krikil tajam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, tentu dapat diminimalisir jika dalam diri setiap warga Negara Indonesia memiliki sikap saling menghormati dan menghargai. Kondisi seperti ini yang seharusnya tercipta seiring semakin berkembang dan menguatnya demokrasi di Indonesia. Hanya saja, nampak jauh panggang dari api. Menguatnya tradisi berdemokrasi ternyata tidak berbanding lurus dengan meningkatnya sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Secara sistem pemerintahan, intoleransi dapat dilihat dari munculnya perundang-undangan yang cenderung intoleran terhadap perbedaan, khususnya perbedaan agama, sehingga hubungan mayoritas-minoritas di beberapa daerah semakin mengeras. Secara budaya, intoleransi dapat dilihat dari maraknya kekerasan yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu terhadap kelompok agama yang lain. Semakin banyaknya simbol-simbol keagamaan diranah publik juga merupakan indikasi semakin memudarnya tradisi saling menghormati dan menghargai.</p>
<p>Dalam dunia minggu terakhir ini, misalnya, kita dikejutkan oleh ditangkapnya beberapa anak muda yang disinyalir menjadi anggota teroris. Menjadi anggota teroris, artinya mereka memiliki sikap enggan berbagi dunia karena intoleran terhadap perbedaan –&#8211;baik yang berbeda agama maupun yang seagama tetapi berbeda keyakinan. Bagai bangsa Indonesia yang multiagama dan multibudaya, tentu sangat mengkhawatirkan jika paham intoleran tersebut telah tertanam di dalam diri anak-anak muda. Mau jadi apa bangsa ini nantinya jika generasi mudanya memiliki worldviews yang intoleran. Bukan mustahil, jika worldviews ini tidak dibendung, maka keragaman yang dapat dirajut menjadi permadani, menjadi sumber pemantik kekacauan.</p>
<p>Adanya intoleransi, baik secara sistem maupun budaya, tersebut sebenarnya dapat diminimlisir jika para guru, para pemimpin politik, para penyelenggara Negara, ormas, dan masyarakat umum memiliki paradigma “perbandingan Agama”. Jika para guru “agama” berparadigma “Perbandingan Agama” tentu mereka tidak akan membajak nilai-nilai keluhuran agama dengan mengajarkan murid-muridnya kebencian terhadap agama lain; jika para penyelenggara Negara dan politisi berparadigma “Perbandingan Agama” tentu mereka tidak akan membuat regulasi yang intoleran terhadap umat beragama, dan lain sebagainya. Mencetak generasi yang memiliki “Paradigma” perbandingan agama itu yang menjadi “niatan” saya ketika memilih menjadi Dosen di Jurusan Perbandingan Agama.</p>
<p><strong>Antara Mimpi dan Kenyataan</strong></p>
<p>Dosen; bukunya se-DOS, gajinya se-SEN, demikian beberapa kawan mengomentari pilihanku menjadi dosen. Walau katanya se-SEN, tentu masih lebih banyak dari mereka yang tidak bekerja. Yang ingin saya katakana adalah bahwasannya dalam setiap pilihan ada harga yang harus dibayar. Menjadi dosen tidak saja harus siap dengan gaji se-SEN, tetapi juga harus meluangkan waktu untuk menambah pengetahuan dengan terus membaca; menjadi mahasiswa harus bersiap untuk membaca referensi minimal yang disarankan dan mengerjakan tugas yang dibebankan oleh dosennya; menjadi tentara harus siap ditugaskan untuk menjaga pulau terluar dan hidup terpisah dari sanak-saudara yang dicintai; dan bakan menjadi Presiden pun juga harus mengurangi waktu untuk sanak-saudaranya, dan meluangkan banyak waktu untuk warganya. Disinilah yang saya maksud dengan bersiap membayar harga dari sebuah pilihan.</p>
<p>Idealisme untuk mengantarkan mahasiswa PA memiliki paradigma Perbandingan Agama “memaksaku” mendesain empat matakuliah selama dua semester dengan sangat serius, baik dari sisi materi maupun metodenya. Secara materi, setiap matakuliah disusun berdasarkan paradigma “ilmu untuk hidup”. Dengan cara ini, dimungkinkan setiap mahasiswa memiliki skill sesuai dengan standar kompetensi yang telah disepakati pada kontrak belajar diawal perkuliahan. Sedangkan pembelajarannya dilakukan secara andragogi &#8212;walau terkadang juga diselingi dengan pedagogy&#8211; atau yang biasa disebut metode  pembelajaran untuk orang dewasa. Standar kompetensi yang telah ditentukan dan metode andragogi yang dipilih tidak saja mensyaratkan dosen harus memahami materi yang akan diajarkan, tetapi juga mensyaratkan partisispasi aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran (<em>active learning</em>).</p>
<p>Agar para mahasiswa dapat berpartisipasi aktif dalam setiap sesi perkuliahan, maka setiap mahasiswa diwajibkan membuat resume materi yang akan dibahas sebanyak satu halaman. Tubuh para mahasiswa boleh tidak berada di kelas, tetapi resume harus sampai di kelas. Resume yang dibikin kawan-kawan mahasiswa kemudian saya beri komentar dan nilai, dan saya kembalikan pada pertemuan berikutnya. Hasil resume mingguan tersebut berbobot 30% dari seluruh penilaian pada akhir perkuliahan. Memang sangat melelahkan dan menghabiskan banyak waktu, tidak saja bagi saya tetapi juga bagi kawan-kawan mahasiswa. Tapi keyakinan saya mengatakan bahwa cara tersebut akan sangat ampuh untuk menyembuhkan penyakit malas membaca dan menulis yang semakin mewabah menjangkiti mahasiswa. Karena, dengan cara tersebut setiap mahasiswa mau tidak mau harus membaca dan menulis.</p>
<p>Dengan terlebih dahulu membaca dan menulis materi yang akan dipelajari bersama, seyogyanya para mahasiswa telah mempersipakan diri dengan bekal yang diperlukan selama proses belajar. Bukankan banyaknya “air” ilmu yang dapat kita tampung, sebesar wadah yang kita siapkan. Jika kita hanya mempersiapkan gelas, maka ilmu yang kita dapat juga hanya segelas. Jika kita mempersiapkan drum, maka ilmu yang kita dapatkan juga bisa sedrum. Dalam pemaknaan inilah, proses membaca dan menulis resume yang tempatkan, yaitu untuk mempersiapkan wadah penampung ilmu dalam proses belajar di kelas. Selain itu, dengan cara ini, dosen tidak lagi menjadi figur sentral di kelas, tetapi sekedar teman untuk melakukan <em>sharing</em> pengetahuan.</p>
<p>Rencana boleh bagus, tapi dilapangan tidak semudah yang direncanakan. Harus ektra sabar. Pertemuan kedua biasanya hanya sedikit yang mengumpulkan resume, apalagi jika mahasiswanya telah semester tua. Tetapi dengan keteguhan berpegang pada aturan, misalnya setiap resume diberi komentar dan nilai, pada akhirnya yang mengumpulkan resume semakin banyak. Demikian juga ketika resume yang dibuat pada awalnya asal-asalan, maka setelah resume ketiga atau keempat biasanya cenderung akan lebih baik. Hanya saja, menerapkan metode ini harus siap untuk dinilai jelek oleh mahasiswa, khususnya oleh mereka yang sejak awal tidak serius untuk kuliah.</p>
<p>Dengan metode pembelajaran seperti ini, sedikitnya ada tiga hal yang saya dapatkan. <em>Pertama</em>, mahasiswa kembali membaca. Semakin menguatnya budaya tutur akibat dari kemajuan teknologi, budaya membaca mahasiswa cenderung menurun. Oleh karena tugas mahasiswa menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya, maka dengan kembali membaca mereka telah menjalankan tugasnya. <em>Kedua</em>, mahasiswa kembali menulis. Teknologi telah membuat mahasiswa hidup dalam kemudahan, khususnya dalam hal tulis menulis. Makalah tinggal copy paste dari data-data yang telah tersimpan di internet. Semuanya mudah dilakukan. Tetapi buruknya, mahasiswa kehilangan kretivitas dan daya kritisnya, khususnya dalam menuangkan ide-idenya. Jika menulis ini tidak kembali dibudayakan, maka jangan heran jika generasi copy paste akan lahir di bumi pertiwi ini. <em>Ketiga</em>, mahasiswa memiliki kemampuan untuk menggunakan teori yang didapat untuk menganalisis fenomena social dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.</p>
<p>Ternyata, walaupun belum maksimal, mimpi itu semakin menjadi kenyataan. Jangan takut untuk bermimpi, karena mereka yang memiliki mimpi tentu tahu cara meraihnya. Untuk kawan-kawan mahasiswa yang telah menemaniku berproses menjadikan mimpiku kenyataan, saya ucapkan terimakasih. Bagi mereka yang merasa kurang nyaman dengan proses tersebut, saya mohon maaf. Tapi saya yakin, jika kini belum mendapatkan manfaat, insyaAllah dikemudian hari manfaat itu akan dirasakan.</p>
<p>Jika ada sumur di ladang                                                                                                bolehlah kita menumpang mandi                                                                                            jika ada umur panjang                                                                                                      insyaalah lain waktu kita bertemu kembali</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/303/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/303/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/303/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=303&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2011/02/01/setahun-belajar-bersama-kawan-kawan-mahasiswa-perbandingan-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2011/02/dsc_21503.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pembekalan Wisuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VII – Habis )</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/28/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-vii-%e2%80%93-habis/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/28/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-vii-%e2%80%93-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 03:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Serdang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Menyerap Spirit Patriotisme Kesultanan Serdang Setelah meninggalkan kompleks Istana Maimoon, tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bergerak menuju Kabupaten Serdang Bedagai untuk menapak tilasi sejarah kebesaran Kesultanan Serdang. Sebagaimana telah disampaikan pada laporan perjalanan sebelumnya, tamasya budaya untuk menapak tilasi kebesaran Kesultanan Serdang tidak akan diikuti oleh Pemangku BKPBM, karena pada saat bersamaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=298&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menyerap Spirit Patriotisme Kesultanan Serdang </strong></p>
<div id="attachment_299" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><img class="size-full wp-image-299" title="1" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/10/13.jpg?w=460&#038;h=319" alt="1" width="460" height="319" /><p class="wp-caption-text">Istana Kesultanan Serdang</p></div>
<p>Setelah meninggalkan kompleks Istana Maimoon, tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) bergerak menuju Kabupaten Serdang Bedagai untuk menapak tilasi sejarah kebesaran Kesultanan Serdang. Sebagaimana telah disampaikan pada laporan perjalanan sebelumnya, tamasya budaya untuk menapak tilasi kebesaran Kesultanan Serdang tidak akan diikuti oleh Pemangku BKPBM, karena pada saat bersamaan harus menemui Tuanku Lukman Sinar Basarsyah II untuk mematangkan rencana kerjasama BKPBM dengan Kesultanan Serdang.<span id="more-298"></span></p>
<p>Sebelum berangkat ke Perbaungan, Bang MAM (pangilan akrab Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH. MM.) mengatakan bahwa walaupun Kesultanan Serdang juga mencapai kemakmuran ekonomi sebagaimana Kesulatan Deli, tapi di Perbaungan tim BKPBM tidak akan menemukan sebuah istana megah sebagaimana Istana Maimoon. Menurut Bang MAM, yang tersisa dari sejarah kejayaan Kesultanan Serdang adalah Masjid dan kompleks makam Raja-raja dan para pembesar kesultanan.</p>
<p>Setelah mengantarkan Bang MAM menemui Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II, tim BKPBM bergerak menuju ke Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, tempat Istana Darul Arif dulunya berada. Istana ini, walaupun sisa-sisa kejayaannya hanya dapat dinikmati dalam foto hitam putih, merupakan salah satu simbol perlawanan Kesultnan Serdang kepada kolonialisme Belanda.</p>
<p>Sebelum sampai di Perbaungan, tim BKPBM terlebih dahulu menuju pelabuhan Belawan. Pelabuhan ini pada zaman kejayaan kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatra Timur merupakan kawasan yang sangat penting. Melalui pelabuhan ini, barang-barang dari eropa masuk ke Sumatra bagian timur, dan dari pelabuhan ini juga barang-barang dari perkebunan Sumatra Timur, seperti Tembakau Deli, memenuhi pasaran Eropa.</p>
<p>Waktu kami memasuki kawasan pelabuhan, waktu sudah relatif sore dan kondisinya juga sangat sepi. Pelayanan telah berhenti dan pintu pelabuhan juga telah terkunci rapat. Kami segera menemui petugas yang berjaga di tempat itu, dan menyampaikan maksud kedatangan kami. Si petugas yang bernama Syahrul Chan menjelaskan kepada kami bahwa jam pelayanan telah tutup. Namun karena tujuan Tim BKPBM untuk melakukan penelitian terhadap sejarah perkembangan Medan, dari zaman kerajaan-kerajaan hingga saat ini, maka setelah berkoordinasi dengan petugas yang lain, Pak Chan mengantar kami melihat-lihat pelabuhan Belawan. “Lewat sini aja, biar cepat,” ujar Pak Chan mengajak Tim BKPBM melewati jalan VIP pelabuhan.</p>
<p>Suasana di pelabuhan saat itu relatif sepi. Tidak ada aktivitas pelabuhan yang mencolok mata, selain hanya beberapa kabar tanpak bersandar dikejauhan. Bayangan tentang sebuah pelabuh yang ramai dengan lalu lalang kapal-kapal besar karena merupakan pintu gerbang untuk memasuki kesultanan-kesultanan di Sumatra Timur saat itu sama sekali tidak kelihatan. Menurut Pak Chan, sejak dibukanya pelabuhan di Batam, bongkar muat di Pelabuhan Belawan menurun drastis.</p>
<p>Setelah beberapa saat menikmati terpaan angin laut Pelabuhan Belawan, Tim BKPBM bergerak menuju Deli Serdang. Beberapa agenda yang masih belum terselesaikan dan ketersediaan waktu yang semakin terbatas, mendorong sang <em>driver</em> memacu mobil yang kami tumpangi dengan sangat cepat. Tidak jarang, kami harus menahan nafas, karena mobil yang kami tumpangi nyaris berciuman dengan kendaraan lainnya, baik yang melaju di depan kami dan tiba-tiba memperlambat laju mobilnya, atau kendaraan dari arah depan yang terkadang tidak mau mengalah. Semua itu, hanya untuk menapak-tilasi kejayaan Kesultanan Serdang.</p>
<p><strong>Kesultanan Serdang</strong></p>
<p>Kesultanan Serdang secara geneologis masih bersaudara dengan Kesultanan Deli. Kedua kesultanan ini lahir dari rahim yang sama, yaitu Kesultanan Deli. Pada tahun 1723, Kesultanan Deli mengalami kemelut yang cukup rumit akibat mangkatnya Tuanku Panglima Paderap, Raja Deli ke-3. Seharusnya yang menggantikannya adalah putra tertua Tuanku Panglima Paderap, yaitu Tuanku Jalaludin. Namun karena memiliki cacat fisik, Tuanku Jalaludin terhalang menjadi sultan. Jabatan sultan kemudian diambil alih oleh putra keduanya yang bernama Tuanku Pasutan.</p>
<p>Pengambilalihan jabatan kesultanan oleh Tuanku Pasutan merupakan pangkal dari kemelut di Kesultanan Deli. Menurut adat Melayu, sebenarnya yang berhak menduduki jabatan kasultanan sebagai pengganti Tuanku Paderap adalah Tuanku Umar Johan yang saat itu masih kecil, karena ia merupakan putera <em>garaha</em> (permaisuri). Sedangkan Tuanku Pasutan putra Tuanku Paderap dari seorang selir.</p>
<p>Setelah berhasil menjadi Sultan Deli, Tuanku Pasutan mengusir Tuanku Umar Johan bersama ibundanya Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang. Pengusiran ini ibarat api dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat membara, karena besar kemungkinan Tuanku Umar Johan akan menuntut haknya bila kelak telah dewasa. Jika Tuanku Umar Johan benar-benar menuntut haknya, bukan mustahil akan terjadi perang saudara antara ahli waris Kesultanan Deli.</p>
<p>Melihat kondisi yang dapat berubah menjadi sangat berbahaya ini, empat orang besar, yaitu Raja Urung Sunggal, Raja Urung Senembal, Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu) merajakan Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah Kejuruan Junjungan sebagai Sultan Serdang pertama tahun 1723. Sejak saat itulah, sejarah Kesultanan Serdang dimulai dengan pusat pemerintahan di Kampung Besar tempat ibundanya tinggal.</p>
<p>Tuanku Umar Johan kemudian digantikan oleh putra keduanya, yaitu Tuanku Ainan Johan Alamsyah (1767-1817). Hal ini terjadi karena putra pertama Tuanku Umar Johan, yaitu Tuanku Malim, tidak bersedia dilantik menjadi raja. Pada masa pemerintahan   Tuanku Ainan Johan Alamsyah ini, posisi Kesultanan Serdang menjadi semakin kuat karena bergabungnya kerajaan Perbaungan menjadi bagian dari Kesultann Serdang. Bergabungnya kerajaan Perbaungan karena Raja Perbaungan tidak mempunyai keturunan laki-laki, dan pada saat bersamaan salah satu putrinya, Tuanku Puan Sri Alam, menjadi permaisuri dari Tuanku Ainan Johan Alamsyah.</p>
<p>Pengganti Tuanku Ainan Johan Alamsyah adalah Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah (1817-1850 M), putra kedua sultan. Seharusnya, yang mengantikan Tuanku Ainan Johan Alamsyah adalah putra tertuanya, yaitu Tuanku Zainal Abidin. Namun, karena Tuanku Zainal Abidin terbunuh ketika berperang di Langkat, maka yang dirajakan adalah adiknya sendiri, yaitu Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Sultan Thaf Sinar Basarshah, perekonomian Kesultanan Serdang tumbuh cukup pesat, dengan hasil-hasil perkebunan sebagai komoditi ekspor sebagai penopangnya. Berkat pencapaian dalam bidang ekonomi ini, nama Kesultanan Serdang sangat termasyur hingga ke Semenanjung Tanah Melayu. Banyak kerajaan-kerajaan lain, seperti Padang, Bedagai, dan Senembah, yang meminta bantuan militer dari Kesultanan Serdang. Oleh karena pencapaiannya itulah, Sultan Thaf Sinar Baharshah disebut sebagai Sultan Besar Serdang.</p>
<p>Sultan Thaf Sinar Baharshah adalah putranya yang tertua, yaitu Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah (1819-1880). Pada masa Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah berkuasa, Kesultanan Serdang sering diwarnai peperangan baik dengan kesultanan sekitar maupun dengan pihak Belanda. Khusus dengan Belanda, ternyata Kesultanan Serdang tidak mampu menghadapi sehingga takluk pada 1862. Sejak saat itulah, Kesultanan Serdang menjadi salah satu daerah kekuasaan Belanda di Sumtra Timur.</p>
<p>Setelah Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah wafat (1880), Kesultanan Serdang dipimpin oleh Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. Namun karena masih sangat muda (umur 13 tahun), pengelolaan pemerintahan kesultanan untuk sementara diserahkan kepada pamannya, yaitu Tengku Raja Muda Mustafa. Dalam memimpin Kesultanan Sedang, Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah terkenal sangat anti Belanda. Oleh karena sikapnya tersebut, pengukuhan Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah sebagai Sultan Serdang tidak serta merta mendapat pengakuan dari Belanda yang kala itu berkuasa atas Serdang.</p>
<p>Ada beberapa indikasi dari ketidak-sukaan Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah. <em>Pertama</em>, sultan tidak menghiraukan 3 persyaratan yang diajukan oleh Belanda agar mendapatkan pengakuan dari raja: Serdang tidak menuntut daerah-daerah yang telah dirampas Belanda; penetapan tapal batas antara Deli dan Serdang; dan Sultan harus tunduk pada kekuasaan Belanda.</p>
<p><em>Kedua</em>, tahun 1891 Kontrolir Belanda, Douwes Dekker memindahkan ibukota Kesultanan Serdang ke Lubuk Pakam karena Rantau Panjang selalu mengalami banjir. Namun Sultan Sulaiman malah memilih untuk menetap di istana yang ia bangun di persimpangan tiga Perbaungan. Untuk menopang pembangunan istana baru tersebut, sultan kemudian membangun kedai, pasar dan pertokoan sehingga ramai.</p>
<p><em>Ketiga</em>, puncak dari sikap antipati terhadap Belanda ia tunjukkan ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia di Jakarta. Serta merta, Sultan mengirimkan telegram kepada Presiden Soekarno yang isinya menyatakan bahwa kesultanan Serdang serta seluruh daerah taklukannya mengakui kekuasaan pemerintah Republik Indonesia dan dengan segala kekuatan akan mendukungnya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>To read the rest article click <a href="http://melayuonline.com/ind/opinion/read/336/tamasya-budaya-di-sumatra-utara" target="_blank">here</a> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=298&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/28/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-vii-%e2%80%93-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/10/13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian VI)</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/28/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-vi/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/28/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-vi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 03:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Istana Maimoon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Istana Maimoon: Cerita Kejayaan yang Hampir Terlupakan Pagi itu (29 Juli 2009) sekitar pukul 09.30 WIB, tim BKPBM yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., Dr. Aris Arif Mundayat, Yuhastina Sinaro, SST.Par., Ahmad Salehudin, MA., dan Aam Ito Tistomo ditemani Bang Harris (driver) kembali memasuki kompleks Istana Maimoon. &#160; Jika pada hari sebelumnya kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=294&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istana Maimoon: Cerita Kejayaan yang Hampir Terlupakan</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-295" title="9" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/10/9.jpg?w=460" alt="Tim BKPBM bersama pengurus YASMAR di depan Istana Maimoon"   /></p>
<p>Pagi itu (29 Juli 2009) sekitar pukul 09.30 WIB, tim BKPBM yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., Dr. Aris Arif Mundayat, Yuhastina Sinaro, SST.Par., Ahmad Salehudin, MA., dan Aam Ito Tistomo ditemani Bang Harris (driver) kembali memasuki kompleks Istana Maimoon.<span id="more-294"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika pada hari sebelumnya kami menikmati keindahan Istana Maimoon dalam balutan sinar mentari senja, maka pagi ini kami menyaksikan istana yang didirikan oleh Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah ini dalam terpaan kemilau mentari pagi. Sinar mentari pagi yang sangat cerah menjadikan Istana Maimoon yang berbalut warna kuning keemasan terlihat sangat anggun. Rumput menghijau di halaman istana dan beberapa pohon palm yang menjulang tinggi menghadirkan suasana sejuk dan teduh. Sungguh sebuah pemandangan di pagi hari yang sangat luar biasa indahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah turun dari mobil, kami segera menuju pintu masuk Istana Maimoon. Konon, Istana yang dibangun di atas tanah seluas 2.772 m2 ini di arsiteki oleh seorang tentara KNIL, Kapten Th. van Erp, dan dikerjakan oleh pemborong Italia. Biaya pembangun istana yang sebagian material bangunannya didatangkan dari Eropa ini menghabiskan biaya sebanyak Fl. 100.000 (atau setara 1 juta gulden Belanda). Menurut prasasti berupa batu marmer yang terletak di bagian bawah tiang penyangga pintu masuk, peletakan batu pertama dilaksanakan tanggal 26 Agustus 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alam Shah, dan mulai ditempati tanggal 18 Mei 1891. Jadi, usia istana ini sekarang sudah lebih dari satu abad.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejak 1946, istana ini ditempati oleh para ahli waris Kesultanan Deli. hal ini nampaknya berhubungan erat dengan peristiwa revolusi sosial yang terjadi di Sumatra Utara. Pada revolusi sosial 1946 tersebut, semua istana-istana Melayu di Sumatra Utara dijarah dan dibakar massa, termasuk kompleks tempat tinggal Sultan Deli yang berada di dekat Masjid Raya Al Mahsun yang jaraknya hanya 200 meter dari Istana Maimoon. Istana Maimoon, merupakan satu-satunya istana yang selamat karena pada saat terjadinya revolusi dijaga oleh tentara Gurkha Inggris yang dikirim oleh Sultan Perak. Oleh karena tidak lagi mempunyai tempat tinggal, para ahli waris tersebut mendiami Istana Maimoon.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemudian kami segera bergegas manaiki undakan untuk menuju ruang depan istana. Begitu melewati undakan yang jumlahnya sekitar 13 tersebut, kami berada di berada depan Istana Maimoon. Dikiri kanan beranda terdapat meja kursi untuk tempat istirahat jika pengunjung kelelahan. Lantai istana terbuat dari batu mamer yang didatangkan dari Eropa. “Ini semuanya masih asli,” kata salah seorang guide kepada kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kami terus beranjak menuju ruang depan istana. Setelah mengisi buku tamu, kami melangkah menuju ruang pertemuan istana (balairung). Balairung pada zaman dahulu merupakan tempat sultan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kesultanan, mulai dari pelaksanaan upacara adat sampai menerima tamu-tamu penting. Saat ini, menurut salah seorang guide, balairung hanya digunakan dua kali dalam setahun, yaitu pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memasuki balairung Istana Maimoon yang memiliki luas 412 m¬¬2 ini, hati kami bergetar dan mata kami tercekat melihat keindahannya. Arsitektur istana dengan lengkung yang sangat tinggi, dan ragam hias yang sangat artistik menjadikan ruangan ini kelihatan sangat berwibawa. Keberwibawaan tersebut semakin terasa kuat dengan keberadaan beberapa peninggalan Kesultanan Deli, seperti singgasana kesultanan, lampu kristal besar bergaya Eropa yang tergantung di depan singgasana, foto-foto sultan dan keluarganya yang ditempel pada dinding ruangan, perabot rumah tangga Belanda kuno, berbagai jenis duplikat senjata, dan beberapa perlengkapan upacara adat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentu saja, yang menjadi pusat keindahan ruangan Balairung ini adalah keberadaan singgsana kesultanan Deli. Singgasana yang sangat artistik tersebut berbalut warna keagungan Melayu, warna kuning. Mencoba berlama-lama melihat singgasana ini, hayalan kami seolah-olah terseret arus menuju masa seratus tahun silam, yaitu ketika Kesultanan Deli mengalami masa kejayaan dalam bidang ekonomi akibat harga tembakau yang menjadi komoditas utama perkebunan Deli menjadi favorit di daratan Eropa. Karena pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat itulah, Deli saat itu menjadi wilayah tujuan orang-orang dari wilayah jajahan Belanda lainnya untuk mencari kerja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melalui sebuah gang beratap lengkungan lunas perahu terbalik yang berhiaskan floralistis dan geometris, kami sampai pada sebuah ruangan yang terletak di bagian belakang istana. Ruangan ini pada zaman dahulu digunakan sebagai ruang makan keluarga sultan. Makanan sultan dan keluarganya biasanya dipersiapkan dan dilayani oleh para dayang yang menempati 2 kamar kecil di sebelah kiri dan kanan di antara Balairung dan ruang makan. Dua kamar kecil ini, saat ini digunakan untuk berjualan cendera hati. Di ruang belakang ini, terdapat dua buah kursi pemberian ratu Belanda. Selain itu, juga terdapat pakaian adat Deli yang disewakan kepada siapapun yang ingin berfoto menggunakan pakaian adat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari ruang belakang ini, kami bergerak menuju sayap kanan dan terus berkeliling sampai di sayap kiri. Jika pada bagian depan dan ruang utama Istana Maimoon lantainya terbuat dari batu marmer, maka pada sayap kanan dan kiri terbuat dari kayu Beli atau Besi. Menerut guide yang menemani kami, kayu yang digunakan sebagai lantai sayap istana diambil dari hutan Kalimantan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>To read the rest article click <a href="http://melayuonline.com/ind/opinion/read/328/tamasya-budaya-di-sumatra-utara" target="_blank">here</a> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/294/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=294&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/28/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-vi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/10/9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kain Tapis: Kain Tradisional Lampung</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/03/kain-tapis-kain-tradisional-lampung/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/03/kain-tapis-kain-tradisional-lampung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 03:06:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kain Adat]]></category>
		<category><![CDATA[adat]]></category>
		<category><![CDATA[cucuk]]></category>
		<category><![CDATA[kain]]></category>
		<category><![CDATA[lampung]]></category>
		<category><![CDATA[pepadun]]></category>
		<category><![CDATA[tapis]]></category>
		<category><![CDATA[tenun]]></category>
		<category><![CDATA[tenun lampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[A. Asal-usul Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung berbentuk kain sarung yang dibuat dari tenunan benang kapas dengan motif-motif seperti motif alam, flora, dan fauna yang disulam (sistim cucuk) dengan benang emas dan benang perak. Tenunan ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah (http://www.visitlampung2009.com). Menurut Van der Hoop, sebagaimana disebutkan http://www.visitlampung2009.com, sejak abad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=288&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_291" class="wp-caption aligncenter" style="width: 308px"><img class="size-full wp-image-291" title="1" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/10/12.jpg?w=460" alt="Seorang gadis sedang membuat tenun Lampung"   /><p class="wp-caption-text">Seorang gadis sedang membuat tenun Lampung</p></div>
<p><strong>A. </strong><strong>Asal-usul</strong></p>
<p>Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung berbentuk kain sarung yang dibuat dari tenunan benang kapas dengan motif-motif seperti motif alam, flora, dan fauna yang disulam (sistim <em>cucuk</em>) dengan benang emas dan benang perak. Tenunan ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah (<a href="http://www.visitlampung2009.com/">http://www.visitlampung2009.com</a>).</p>
<p>Menurut Van der Hoop, sebagaimana disebutkan <a href="http://www.visitlampung2009.com/">http://www.visitlampung2009.com</a>, sejak abad II masehi orang-orang lampung telah menenun kain brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai. Kedua hasil tenunan tersebut memiliki motif-motif seperti motif kait dan konci, pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal, binatang, matahari, bulan, serta bunga melati. Setelah melewati rentang waktu yang cukup panjang, akhirnya lahirlah kain tapis Lampung. Orang-orang Lampung terus mengembangkan Kain Tapis sesuai dengan perkembangan zaman, baik pada aspek teknik dan keterampilan pembuatannya, bentuk motifnya, maupun metode penerapan motif pada kain dasar Tapis (<a href="http://lili.staff.uns.ac.id/">http://lili.staff.uns.ac.id</a>).<span id="more-288"></span></p>
<p>Ragam hias Kain Tapis misalnya, terus berkembang seiring terjalinnya kontak, interaksi, dan komunikasi masyarakat adat Lampung dengan kebudayaan lain. Pertemuan dengan kebudayaan lain tersebut menyebabkan terjadinya akulturasi antara unsur-unsur hias kebudayaan tempatan (lama) dengan unsur-unsur hias kebudayaan asing (baru). Unsur-unsur asing yang datang tidak menghilangkan unsur-unsur lama, akan tetapi semakin memperkaya corak, ragam, dan gaya yang sudah ada. Berbagai kebudayaan tersebut terpadu dan terintegrasi dalam satu konsep utuh yang tidak dapat dipisahkan dan melahirkan corak baru yang unik dan khas. Kebudayaan yang memberikan pengaruh pada pembentukan gaya seni hias kain tapis antara lain, kebudayaan Dongson dari daratan Asia, Hindu-Budha, Islam, dan Eropa (<a href="http://lili.staff.uns.ac.id/">http://lili.staff.uns.ac.id</a>). Dalam perkembangannya, tidak semua orang Lampung menggunakan Kain Tapis. Hanya suku Lampung yang beradat Pepadun yang memproduksi, menggunakan, dan mengembangkan Kain Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup (<a href="http://wisatalampung.com/">http://wisatalampung.com</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/">http://id.wikipedia.org</a>, <a href="http://arthaliwa.wordpress.com/">http://arthaliwa.wordpress.com</a>).</p>
<p>Selain sebagai bukti pencapaian kreatifitas masyarakat Lampung dalam menyerap kebudayaan luar, Kain Tapis bagi masyarakat Lampung juga sebagai simbol kesucian. Artinya, orang-orang Lampung meyakini bahwa dengan memakai kain ini mereka akan terjaga dari segala kotoran luar. Makna simbolis ini terdapat pada kesatuan utuh antara bentuk motif-motifnya dengan kain dasar sebagai wujud kepercayaan yang melambangkan kebesaran Pencipta Alam (<a href="http://lili.staff.uns.ac.id/">http://lili.staff.uns.ac.id</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/">http://id.wikipedia.org</a>, <a href="http://wisatalampung.com/">http://wisatalampung.com</a>, <a href="http://arthaliwa.wordpress.com/">http://arthaliwa.wordpress.com</a>).</p>
<p>Kain Tapis biasanya dipakai dalam setiap upacara adat dan keagamaan, dan merupakan perangkat adat yang serupa pusaka keluarga (<a href="http://lili.staff.uns.ac.id/">http://lili.staff.uns.ac.id</a>). Dalam kegiatan sosial dan keagamaan tersebut, Kain Tapis berfungsi sebagai penanda status sosial pemakainya. Penggunaan Kain Tapis sebagai penanda status sosial dapat dilihat pada masyarakat Lampung yang beradat Pepadun. Dalam kelompok adat ini, masyarakat tersusun dalam tiga tingkatan, yaitu <em>punyimbang</em> marga atau paksi yang membawahi <em>tiyuh</em> (kampung), <em>punyimbang</em> <em>tiyuh</em> yang membawahi beberapa suku atau bilik, dan (3) <em>punyimbang</em> suku yang membawahi beberapa <em>nuwow</em> <em>balak</em> (rumah adat). Tingkatan-tingkatan status sosial tersebut memunculkan aturan pemakaian kain tapis. Dengan kata lain, jenis Kain Tapis yang dipakai harus disesuaikan dengan status sosial seseorang dalam masyarakat (<a href="http://lili.staff.uns.ac.id/">http://lili.staff.uns.ac.id</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/">http://id.wikipedia.org</a>).</p>
<p>Seiring perkembangan zaman, Kain Tapis juga mengalami perkembangan dan perubahan, baik pada aspek makna simbolis-filosofis yang terkandung dalam kain, maupun pada bentuk fisik dan ragam motifnya. Perubahan makna simbolis-filosofis motif Kain Tapis merupakan perubahan hal yang paling esensial. Jika pada awalnya pembuatan motif disesuaikan dengan keperluan-keperluan adat yang spesifik atau mengungkapkan pesan-pesan tertentu, maka saat ini motif Kain Tapis hanya dilihat dari aspek keindahannya semata. Betapa motif pada Kain Tapis mempunyai makna simbolis-filosofis dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.</p>
<p><em>”&#8230;..dulu masyarakat di pesisir Kalianda, Lampung Selatan, hingga pesisir Krui di Lampung Barat menulis kehidupan mereka pada selembar kain. Karena kehidupan mereka dekat dengan laut, gambar yang muncul pun tak jauh dari laut, seperti gambar kapal dan binatang laut.”</em> (<a href="http://www.korantempo.com/">http://www.korantempo.com</a>).</p>
<p>Hilangnya makna simbolis-filosofis merupakan dampak dari, baik langsung atau tidak langsung, berubahnya fungsi Kain Tapis. Kain Tapis yang pada awalnya merupakan benda sakral yang terkait erat dengan adat dan kepercayaan masyarakat Lampung kini berkembang dan berubah menjadi benda profan untuk memenuhi komoditi pasar.</p>
<p>Perkembangan dan perubahan juga terjadi pada bentuk fisik dan ragam motif Kain Tapis. Hal ini secara mudah dapat dilihat dari semakin beragamnya derivasi produk Kain Tapis. Jika pada awalnya produk Kain Tapis hanya berupa kain sarung adat dan dibuat hanya untuk memenuhi keperluan adat, maka saat ini produk Kain Tapis telah mengalami modifikasi dan diversivikasi sehingga tercipta berbagai produk seni kerajinan Kain Tapis, seperti busana muslim, hiasan dinding, kaligrafi, perlengkapan kamar tidur, tas, dompet, kopiah, dan lain sebagainya (<a href="http://lili.staff.uns.ac.id/">http://lili.staff.uns.ac.id</a>).</p>
<p>Beragamnya derivasi produk Kain Tapis merupakan bukti nyata bahwa kain ini selain memiliki nilai budaya tinggi, juga memiliki nilai-nilai ekonomis. Ketika sebuah benda budaya telah teridentifikasi dan disadari mempunyai nilai ekonomis, maka biasanya akan diikuti oleh munculnya klaim-klaim untuk memiliki nilai ekonomis kain tersebut. Oleh karena itu, maka sudah seharusnya jika segenap <em>stake holder</em> berupaya untuk menjaga dan melindungi Kain Tapis, tidak saja pada eksistensinya, tetapi juga nilai-nilai, seperti nilai ekonomis, yang dikandungnya.</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga, melindungi, dan mengembangkan kain tapis, diantaranya adalah mematenkan hak cipta, sosialisasi kain tapis, dan eksplorasi nilai ekonomis Kain Tapis. <em>Pertama</em>, mematenkan hak cipta Kain Tapis. Kelalaian mematenkan hak cipta Kain Tapis tidak saja dapat menghilangkan hak ekonomi yang melekat pada kain, tetapi juga hilangnya kebanggaan masyarakat karena diklaim oleh pihak lain. Seringkali kita sangat bangga dengan banyaknya warisan budaya yang kita miliki, tetapi terkadang hak ekonominya tidak kita miliki sehingga warisan budaya tersebut tidak bisa digunakan untuk menopang kesejahteraan pemilik warisan budaya tersebut.</p>
<p><em>Kedua</em>, Sosialisasi Kain Tapis. Ketika tulisan ini dibuat, cukup sulit untuk mencari referensi tentang Kain Tapis. Dari beberapa referensi yang penulis dapatkan, hampir semua isinya sama. Minimnya referensi tentang Kain Tapis ternyata juga pararel dengan minimnya orang-orang Lampung, khususnya generasi mudanya, yang mengetahui kain ini. Beberapa responden orang Lampung yang dihubungi misalnya hanya mengetahui bahwa Kain Tapis adalah kain tradisional Lampung. Kondisi ini tentu cukup memprihatinkan dan berbahaya terhadap kelangsungan eksistensi Kain Tapis. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan sosialisasi, khususnya kepada siswa-siswa sekolah. Misalnya dengan menjadikan  Kain Tapis sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal. Melalui cara ini, para siswa tidak hanya mengetahui bentuk formal (fisik) Kain Tapis, tetapi juga nilai-nilai yang dikandungnya.</p>
<p><em>Ketiga</em>, agar masyarakat mempunyai ketertarikan untuk melestarikan dan mengembangkan Kain Tapis, maka keberadaan Kain Tapis harus memberikan manfaat bagi peningkatan kesehjateraan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah dan lembaga terkait harus bekerjasama untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan dalam bidang produksi, permodalan, distribusi, dan pemasaran.</p>
<p><strong><em>To read the rest article click <a href="http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2331" target="_blank">here</a></em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/288/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=288&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/10/03/kain-tapis-kain-tradisional-lampung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/10/12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dipijat 3 Kali, Alisha Bisa Berjalan</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/09/28/dipijat-3-kali-alisha-bisa-berjalan/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/09/28/dipijat-3-kali-alisha-bisa-berjalan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 09:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kelahiran Anakku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/2009/09/28/dipijat-3-kali-alisha-bisa-berjalan/</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan memberikan kebahagiaan yang tiada terkira. Putri cantikku Alisha, di bulan yang suci ini telah mulai melangkah untuk menapak perjalanan panjangnya. Cerita tentang mulainya Alisha melangkahkan kakinya, berawal dari di jemputnya Alisha oleh adikku Sigit Mustofa untuk dibawa ke Jember, karena kakek-neneknya di Jember sangat merindukan tawa renyah dan binar matanya. Tepat pada pertengahan puasa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=283&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-284" title="100_6113" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/09/100_6113.jpg?w=300&#038;h=225" alt="100_6113" width="300" height="225" /></p>
<p>Ramadhan memberikan kebahagiaan yang tiada terkira. Putri cantikku Alisha, di bulan yang suci ini telah mulai melangkah untuk menapak perjalanan panjangnya. Cerita tentang mulainya Alisha melangkahkan kakinya, berawal dari di jemputnya Alisha oleh adikku Sigit Mustofa untuk dibawa ke Jember, karena kakek-neneknya di Jember sangat merindukan tawa renyah dan binar matanya.<span id="more-283"></span></p>
<p>Tepat pada pertengahan puasa, atau 6 September 2009, Alisha ma Bundanya dibawa adikku ke Jember. Setelah nyampe Jember, banyak saudara dan tetangga yang ingin melihat Alisha, maklum sejak hadir di dunia ini, ini adalah kali kedua Alisha di Jember. Kali pertama Alisha ke Jember ketika umurnya baru 6 bulan.</p>
<p>Kali ini, ketika di Jember, Alisha sudah memasuki bulan ketiga belas. Alisha tumbuh menjadi anak yang bergerak secara aktif, gesit merangkat, cerewet, dan tentu saja pintar. Menyambut orang-orang yang datang, ia ulurkan tangannya untuk bersalaman, dan ia cium tangan orang yang diajak bersalaman tersebut. Banyak yang heran dengan perkembangan Alisha yang begitu pesat. Entahlah, mungkin saja perkembangan Alisha ini karena sejak lahir hingga ia umur 13 bulan selalu diberi ASI eksklusif.</p>
<p>Ada satu hal yang membuat para sedulur dan para tetangga agak heran, yaitu pada umur 13 bulan Alisha belum berjalan. Menurut mereka, seharusnya Alisha sudah mulai berjalan. Melihat hal ini, mereka menyarankan agar Alisha dipijat agar cepat berjalan.</p>
<p>“<em>Ghibeh ka bu junnah</em> (bawa ke rumah Ibu Jun),” demikian para sedulur dan tetangga memberi saran kepada istriku, Bety Sulistywowati. Bu Jun adalah dukun pijat spesialis menjalankan anak yang “telat” berjalan. Kebetulan Bu Jun masih terhitung saudara dari keluargaku.</p>
<p>Akhirnya, setelah dua hari di Jember, Alisha oleh adik dan istriku dibawa ke rumah Bu Jun untuk di pijat. “<em>ora’ jelennah ce’ delemmah</em> (urat jalannya sangat dalam),” demikian ucap Bu Jun setelah memijat Alisha. Sungguh luar biasa, pada malam harinya, Alisha yang pada awalnya hanya bisa berdiri, mulai berani tiga sampai empat melangkah.</p>
<p>Tiga hari berikutnya, Alisha kembali dipijat. Setelah dipijat yang kedua kalinya ini, Alisha dapat melangkah 2-3 meter. Akhirnya, sehari setelah idul fitri, Alisha dipijat lagi untuk yang ketiga kalinya. Sungguh aneh, pada malam harinya, Alisha dapat berjalan 6-9 meter.</p>
<p>Ternyata, masyarakat mempunyai “kemampuan” lokal yang sangat dahsyat dalam menyikapi keterbatasannya. Namun, seiring “kemajuan” zaman hal-hal demikian semakin ditinggalkan.</p>
<p>Untuk melihat bagaimana Alisha belajat jalan, silahkan klik <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000013819026&amp;ref=ts#/video/video.php?v=1167514081281" target="_blank">disini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/283/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=283&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/09/28/dipijat-3-kali-alisha-bisa-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/09/100_6113.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">100_6113</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian V)</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/31/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-v/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/31/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-v/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 01:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Al Mahsun]]></category>
		<category><![CDATA[Gocah Pahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[Istana]]></category>
		<category><![CDATA[Istana Maimoon]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Deli]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/31/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-v/</guid>
		<description><![CDATA[Jejak Kejayaan Kesultanan Deli: Masjid Raya Al Mahsun dan Istana Maimoon Dari Museum Langkat, tim BKPBM bergerak menuju kota Medan yang jaraknya sekitar 80 km dari Tanjungpura. Waktu yang sangat terbatas menuntut tim BKPBM tidak saja bergerak cepat, tetapi juga merencanakan dengan cermat daerah-daerah yang hendak dikunjungi. Jika dipagi hari tim BKPBM meningglkan kota Medan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=280&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejak Kejayaan Kesultanan Deli: Masjid Raya Al Mahsun dan Istana Maimoon</strong></p>
<div id="attachment_279" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><img class="size-full wp-image-279" title="14" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/14.jpg?w=460&#038;h=345" alt="Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun" width="460" height="345" /><p class="wp-caption-text">Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) di Depan Masjid Al Mahsun</p></div>
<p>Dari Museum Langkat, tim BKPBM bergerak menuju kota Medan yang jaraknya sekitar 80 km dari Tanjungpura. Waktu yang sangat terbatas menuntut tim BKPBM tidak saja bergerak cepat, tetapi juga merencanakan dengan cermat daerah-daerah yang hendak dikunjungi. Jika dipagi hari tim BKPBM meningglkan kota Medan untuk menyusuri kejayaan Kesultanan Langkat, maka siang menjelang sore (28 Juli 2009) kami kembali ke Kota Medan untuk mengenang kejayaan Kesultanan Deli.</p>
<p>Menurut catatan sejarah, Kesultanan Deli berdiri tahun 1630 M. Berdirinya kesultanan Deli, ditandai oleh pengangkatan Laksamana Gocah Pahlawan oleh empat Raja Urang Batak Karo. Walaupun telah menjadi sebuah kesultanan, Deli masih berada dibawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Kondisi Kesultanan Aceh yang terus melemah menginspirasi Kesultanan Deli untuk memisahkan diri. Akhirnya pada tahun 1669 M, Kesultanan Deli memisahkan diri dari Aceh.<span id="more-280"></span></p>
<p>Setelah Gocah Pahlawan meninggal dunia, kepemimpinan kesultanan Deli dilanjutkan oleh putranya, Tuanku Panglima Perunggit yang bergelar “Kejeruan Padang”. Beliau memerintah hingga tahun 1700 M, dan dilanjutkan oleh Tuanku Panglima Paderap yang memerintah hingga tahun 1723 M. Wafatnya Tuanku Panglima Paderap memunculkan konflik internal di Kesultanan Deli. Kesultanan Deli terpecah menjadi dua, yaitu Kesultanan Deli dan Kesultaan Serdang.</p>
<p>Sejak itu, Kesultanan Deli secara bergantian dikuasai oleh Kesultanan Aceh dan Siak Sri Inderapura. Sampai akhirnya pada tahun 1858 Sultan Siak menyerahkan Kesultanan Deli kepada Belanda. Pada tahun 1861, Kesultanan Deli secara resmi diakui merdeka dari Siak maupun Aceh. “Kemerdekaan” ini memberikan peluang kepada Sultan Deli untuk mengelolanya kekayaannya sendiri, termasuk memberikan hak-hak pemanfaatan lahan kepada Belanda maupun perusahaan-perusahaan luar negeri lainnya.</p>
<p>Belanda menggunakan lahan-lahan yang dia kuasai untuk membuka perkebunan tembakau secara luas. Ternyata, tembakau Deli sangat diminati oleh orang-orang Eropa. Sejak itulah, perekonomian di Deli berkembang sangat pesat. Berkat perkebunan tembakau tersebut, Kesultanan Deli yang berkongsi dengan Belanda dalam membuka dan mengelola lahan perkebunan juga menjadi kaya raya. Dengan kekayaan yang melimpah ini, para sultan kemudian membangun gedung-gedung yang mewah dan indah. Di antara tapak kejayaan Kesultanan Deli yang masih dapat kita jumpai hingga saat ini adalah Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimoon yang keduanya berada di kota Medan.</p>
<p>Mengunjungi kedua peningalan sejarah Kesultanan Deli tersebut merupakan agenda tim BKPBM sore itu. Jarak kedua bangunan bersejarah tersebut hanya sekitar 200 meter. Kami sempat bingung manakah yang akan kami kunjungi pertama kali, Masjid Al Mahsun ataukah Istana Maimoon. Setelah mendapatkan masukan dari sang fotografer (Mas Aam) terkait dengan pencahayaan untuk pengambilan foto, akhirnya diputuskan untuk mengunjungi Masjid Al Mahsun terlebih dahulu.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Al Mahsun: Masjid Segi Delapan Nan Eksotis </strong></p>
<p>Sekitar pukul 16.00 WIB, tim BKPBM tiba di depan pintu gerbang masuk Masjid Al Mahsun. Begitu keluar dari mobil yang kami tumpangi, mata kami pun terpaku melihat sebuah bangunan yang sangat indah. Jika sebelumnya kami menyaksikan indahnya Masjid Azizi di Langkat, maka kini di kota Medan kami melihat sebuah masjid masjid yang sangat eksotis. ”Inilah Masjid Raya Al Mahsun. Siapapun yang pernah ke masjid ini, pasti akan selalu dibelenggu oleh keinginan untuk kembali ke tempat ini,” ungkap Bang MAM yang sudah beberapa kali mengunjungi masjid ini.</p>
<p>Namun keinginan hati untuk sesegera mungkin memasuki kompleks masjid harus kami tahan terlebih dahulu. Perjalanan menempuh jarak kurang lebih 80 km dari Langkat ternyata cukup menguras energi. Kondisi ini juga semakin diperparah oleh cuaca kota Medan saat itu yang sangat panas membuat kerongkongan kami terasa sangat kering. Oleh karena itu, sebelum masuk ke area masjid, kami terlebih dahulu membeli beberapa botol air mineral dari pedagang kaki lima yang mangkal di depan gerbang masjid.</p>
<p>Setelah meminum beberapa tegukan air yang baru kami beli, kami bergegas hendak memasuki area masjid. Di pintu gerbang masuk, terdapat sebuah papan pengumunan yang kondisinya sudah agak lusuh. Pada papan pengumuman tersebut terdapat tulisan ”Anda Memasuki Kawasan Wajib Berbusana Muslim”. Ada 7 larangan yang juga tertulis dalam papan pengumuman tersebut, yaitu: dilarang masuk bagi segala jenis kendaraan, dilarang memakai alas kaki, dilarang berjualan di dalam kompleks, dilarang bermain segala jenis olahraga, dilarang meludah di atas lantai, dilarang membuang sampah sembarangan, dan dilarang merokok.</p>
<p>Di bawah ketujuh larangan tersebut, tertulis ”Bagi yang melanggar aturan tersebut di atas, akan dituntut melanggar pasal 406 ayat 1 KUHP, dengan ancaman 2 tahun dan 8 bulan penjara (pengrusakan tempat ibadah).</p>
<p>Membaca tulisan itu, kami cukup ragu untuk segera melangkah masuk. Apalagi, salah satu anggota tim BKPBM, Mbak Naina, tidak memakai jilbab. Setelah berembuk sebentar dengan anggota tim, kami memutuskan untuk bergerak memasuki gerbang apapun konsekuensinya. Di kiri-kanan gerbang masuk ada beberapa pengemis. Sebagaimana kita jumpai di tempat-tempat lain, di depan mereka terdapat wadah berisi uang pecahan dari seratus hingga seribuan.</p>
<p><strong><em>To read a complete article, click <a href="http://melayuonline.com/ind/opinion/read/315/tamasya-budaya-di-sumatra-utara" target="_blank">here</a> </em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/280/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=280&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/31/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/14.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">14</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian IV)</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/21/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-iv/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/21/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 07:35:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Menyusuri Jejak Kejayaan Kesultanan Langkat Setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 20 km dari Stabat, Ibukota Kabupaten Langkat, akhirnya tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pemangku BKPBM dan Pimpinan Umum MelayuOnline.com), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog UGM dan Konsultan MelayuOnline.com), Yuhastina Sinaro, SST.Par (Humas MelayuOnline.com), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=271&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menyusuri Jejak Kejayaan Kesultanan Langkat</strong></p>
<div id="attachment_277" class="wp-caption aligncenter" style="width: 346px"><img class="size-full wp-image-277" title="100_5412" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/100_54121.jpg?w=460" alt="Di depan Masjid Azizi-Tangjungpura, Langkat"   /><p class="wp-caption-text">Di depan Masjid Azizi-Tangjungpura, Langkat</p></div>
<p>Setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 20 km dari Stabat, Ibukota Kabupaten Langkat, akhirnya tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pemangku BKPBM dan Pimpinan Umum <strong><em>MelayuOnline.com</em></strong>), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog UGM dan Konsultan <strong><em>MelayuOnline.com</em></strong>), Yuhastina Sinaro, SST.Par (Humas <strong><em>MelayuOnline.com</em></strong>), Ahmad Salehudin, MA. (Redaktur <strong><em>MelayuOnline.com</em></strong> dan Pimred <strong><em>RajaAliHaji.com</em></strong>), Aam Ito Tistomo (Fotografer), dan Harris (<em>driver</em>) sampai di Kecamatan Tanjungpura.</p>
<p>Tanjungpura pada zaman dahulu merupakan Ibukota Kesultanan Langkat. Sebagai pusat pemerintahan, daerah ini merupakan kawasan sangat penting, khususnya ketika Kesultanan Langkat mencapai kemajuan yang sangat siginifikan dalam bidang ekonomi akibat dibukanya pertambangan dan perkebunan. Namun seiring berakhirnya kejayaan Kesultanan Langkat, dan juga kesultanan-kesultanan Melayu lainnya di Sumatra Utara, akibat Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 dan revolusi sosial tahun 1946, posisi penting Tanjungpura sedikit demi sedikit meredup. Saat ini, kita hanya dapat menyaksikan kejayaan ekonomi Kesultanan Langkat kala itu melalui bangunan-bangunannya yang sangat monumental, salah satunya adalah Masjid Azizi.<span id="more-271"></span></p>
<p><strong>Menikmati Nuansa Magis Masjid Azizi</strong></p>
<p>Perlahan, mobil yang kami tumpangi memasuki kompleks Masjid Azizi. Beberapa orang memakai sarung dan berkopiah tampak ke luar dari masjid. Dilihat dari tampilannya, nampaknya mereka baru saja selesai menjalankan shalat Dhuhur berjamaah. Setelah mobil diparkir di tempat parkir yang tersedia, kami bergegas turun. Bang MAM, Mas Aris, Mbak Naina, dan tentu saja Mas Aam yang memang fotografer, turun dari mobil sambil membawa tustel masing-masing. Rupanya, bentuk Masjid Azizi yang artistik dan ornamenya yang sangat indah membuat Bang MAM, Mas Aris, Mbak Naina tidak sabar untuk mengabadikannya. Sedangkan Mas Aam memang <em>job desk-</em>nya mengabadikan semua hal yang terkait dengan tempat-tempat yang kami kunjungi.</p>
<p>Masjid Azizi merupakan salah satu bukti yang masih tersisa yang dari kejayaan Kesultanan Langkat. Masjid yang mempunyai corak arsitektur Tiongkok, Persia, Timur Tengah, dan Melayu ini dibangun pada 12 Rabiul Awal 1320 H atau 13 Juni 1902 di atas tanah seluas 18.000 m<sup>2</sup>, ketika Kesultanan Langkat dipimpin oleh Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927), Sultan Langkat ke-7. Konon, masjid yang masih terlihat megah diusianya yang lebih dari seabad ini dibangun dalam waktu 18 bulan dan menghabiskan biaya 200.000 ringgit. Di sebelah barat kompleks masjid, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Serdang.</p>
<p>Ketika ke luar dari mobil, tepat di depan kami di atas batu pualam terpampang sebuah tulisan “Pusara Pahlawan Nasional T. Amir Hamzah”. Melihat tulisan itu, keinginan untuk segera memasuki Masjid Azizi kami tahan sejenak. Kami beranjak menuju makam Tengku Amir Hamzah yang berada di tengah kompleks pemakaman yang terletak di sebelah barat bagian luar Masjid Azizi.</p>
<p><strong><em>To read the rest article click <a href="http://melayuonline.com/opinion/?a=Z1JSL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&amp;l=tamasya-budaya-di-sumatra-utara" target="_blank">here</a> </em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=271&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/21/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/100_54121.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">100_5412</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian III)</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-iii/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 06:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Menikmati Keanggunan MABMI dan Kekokohan Manumen Tengku Amir Hamzah Setelah menimati keagungan Melayu dalam perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang yang diisi dengan Perhelatan Agung II dan penganugrahan Gelar Adat pada malam sebelumnya, pagi harinya sekitar pukul 09.30 WIB (selasa, 28/07/2008) tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dengan ditemani Bang Harris (driver) meninggalkan hotel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=264&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menikmati Keanggunan MABMI dan Kekokohan Manumen Tengku Amir Hamzah</strong></p>
<div id="attachment_265" class="wp-caption aligncenter" style="width: 463px"><img class="size-full wp-image-265" title="9" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/9.jpg?w=460" alt="Tim BKPBM di Depan Monumen Tengku Amir Hamzah - Stabat "   /><p class="wp-caption-text">Tim BKPBM di Depan Monumen Tengku Amir Hamzah - Stabat </p></div>
<p>Setelah menimati keagungan Melayu dalam perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang yang diisi dengan Perhelatan Agung II dan penganugrahan Gelar Adat pada malam sebelumnya, pagi harinya sekitar pukul 09.30 WIB (selasa, 28/07/2008) tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dengan ditemani Bang Harris (<em>driver</em>) meninggalkan hotel tempat kami menginap menuju Kabupaten Langkat. Menurut rencana, kami akan mengunjungi tugu Tengku Amir Hamzah dan Majlis Budaya Melayu Langkat di Stabat, Masjid Azizi, pusara Tengku Amir Hamzah, dan Museum Langkat di Tanjungpura.<span id="more-264"></span></p>
<p>Setelah menempuh perjalanan sekitar 60 km dari Medan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, tim BKPM sampai di daerah Stabat, yaitu ibu kota kabupaten Langkat. Dari sinilah, perjalanan menyusuri jejak kejayaan kesultanan Langkat dimulai. Namun sebelumnya, kami terlebih dahulu singgah digedung Majlis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kabupaten Langkat yang terletak di Jalan Proklamasi, Stabat.</p>
<p><strong>Gedung MABMI </strong></p>
<p>Dari luar pagar, gedung MABMI yang berupa rumah panggung terlihat gagah dan indah. Beton-beton yang menyangganya seolah-olah ingin menunjukkan betapa kokohnya gedung itu. Sedangkan ragam hias pucuk rebung yang memenuhi beton-beton penyangga dan tembok-temboknya, serta hiasan kandang rasi yang menjadi pembatas lantai atas menampilkan keindahan yang sangat mengangumkan.</p>
<p>Pagar pintu masuk terbuka sedikit, hanya cukup untuk pejalan kaki. Lalu Bang Harris dengan sigap turun dari mobil, dan berusaha membukanya lebar-lebar. Nampaknya, dia cukup kesulitan untuk membukanya. Mas Aam pun turun membantunya. Akhirnya, setelah didorong berdua, sedikit demi sedikit pintu pagar terbuka. Rupanya karat yang menempel di roda pintu masuk yang menjadi penyebabnya. Nampaknya, karat-karat yang menempel tersebut merupakan penanda kalau pintu pagar tersebut jarang dibuka atau kurang mendapat perawatan. Setelah pintu terbuka cukup lebar, mobil yang kami tumpangi bergerak masuk. Di sisi kiri pintu masuk, terdapat pos jaga yang tidak ada penjaganya.</p>
<p>Setelah parkir, kami bergerak menuju gedung yang cukup megah tersebut. Nampak di lantai bawah yang terbuka, seseorang sedang tiduran dengan nyenyaknya. Dia seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran kami. Kami menaiki tangga menuju lantai dua untuk mengumpulkan data-data tentang bangunan tersebut. Namun, harapan untuk mendapatkan informasi tentang bangunan tersebut harus sedikit dipendam. Selain apa yang kami lihat, tidak ada data-data tertulis tentang bangunan yang menjadi pusat kegiatan orang Melayu tersebut. Untunglah, dengan kamera yang selalu digantung di lehernya, Mas Aam dengan cekatan mendokumentasikannya, dari posisi <em>landscape</em>, sampai bagian detailnya.</p>
<p>Waktu yang sangat terbatas memaksa kami untuk segera meninggalkan gedung MABMI ini. Jika pada saat hendak masuk cukup kesulitan untuk membuka pintu, maka hal serupa juga kami rasakan ketika hendak menutup pintu. Perlu tenaga dua orang untuk menutupnya kembali. Dari gedung MABMI, mobil yang kami tumpangi meluncur menuju monumen Pahlawan Nasional Tengku Amir Hamzah yang posisinya juga berada di jalan Proklamasi, tepatnya di depan kantor Bupati Langkat.</p>
<p><strong><em>To read the rest article click <a href="http://melayuonline.com/opinion/?a=aVJSL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&amp;l=tamasya-budaya-di-sumatra-utara" target="_blank">here</a></em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=264&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian II)</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-ii/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 06:41:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Eksotisme Melayu dalam Perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang Setelah mandi dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 19.00  (27 Juli 2009) kami bergegas menuju Hotel Tiara Medan untuk menghadiri Hari Keputraan Kesultanan Serdang atau ulang tahun Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II, yang ke-76. Dalam undangan yang kami terima, pada Hari Keputraan tersebut akan diselenggarakan Perhelatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=261&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Eksotisme Melayu dalam Perayaan Hari Keputraan Kesultanan Serdang</strong></p>
<div id="attachment_262" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><img class="size-full wp-image-262" title="17" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/17.jpg?w=460" alt="Tim BKPBM bersama Sultan Serdang dan permaisurinya"   /><p class="wp-caption-text">Tim BKPBM bersama Sultan Serdang dan permaisurinya</p></div>
<p>Setelah mandi dan beristirahat sejenak, sekitar pukul 19.00  (27 Juli 2009) kami bergegas menuju Hotel Tiara Medan untuk menghadiri Hari Keputraan Kesultanan Serdang atau ulang tahun Sultan Serdang, Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II, yang ke-76. Dalam undangan yang kami terima, pada Hari Keputraan tersebut akan diselenggarakan Perhelatan Agung II dan Anugrah Adat Kesultanan Serdang kepada para tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa. Salah satu tokoh yang akan mendapatkan Anugrah Adat adalah Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Mahyudin Al Mudra, SH. MM.<span id="more-261"></span></p>
<p>Mobil yang kami tumpangi dengan kecepatan meluncur membelah malam kota Medan yang saat itu diguyur hujan cukup deras. Tak berapa lama kemudian, mobil yang kami naiki memasuki area hotel. Sejak memasuki area hotel, kemegahan perayaan Hari Keputraan sangat terasa. Puluhan karangan bunga berukuran besar dari para pejabat pemerintah Provinsi Sumatra Utara, Bupati dan walikota se Sumatra Utara, perusahan-perusahaan, dan tokoh masyarakat yang berisi ucapan selamat dan doa kepada Tuanku Luckman berjejar rapi sejak dari pintu masuk hingga ruang lobi hotel.</p>
<p>Memasuki lobi hotel, kemegahan itu kian terasa. Umbul-umbul kebesaran Kesultanan Serdang yang didominasi warna kuning berpadu dengan lalu lalang orang-orang berpakaian khas Melayu Serdang. Bang MAM sebagai salah satu penerima Anugrah Adat juga memakai pakaian adat khas Kesultanan Serdang: berbaju Teluk Belanga warna hitam yang dipadu dengan tanjak dan selempang berwarna kuning, serta keris Melayu terselip di bagian depan. Melihat tampilan Bang MAM saat itu, nampaknya tak berlebihan jika sahabat-sahabatnya menyebutnya ”Sultan Melayu Virtual”. Hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Sumatra Utara, H. Syamsul Arifin, bupati dan walikota se Sumatra Utara, anggota DPRD tingkat I dan II, para pemangku adat, kerabat dan keluarga Kesultanan Serdang, perwakilan ormas se Sumatra Utara, dan masyarakat umum.</p>
<p>Memasuki ruang acara, lagi-lagi kami dibuat kagum. Walaupun dilaksanakan dalam ruang convention hotel, tapi suasana kesultanan agung sangat terasa. Di garis lurus jalan masuk ruangan, terdapat Singgasana Sultan yang dipadu dengan kain-kain berwarna kuning yang disulam dengan benang emas. Di bagian belakang singgasana, terdapat logo kesultanan bertuliskan Kesultanan Serdang. Jadilah, Convention Hall Hotel Tiara Medan berubah menjadi balairung Kesultanan Serdang.</p>
<p>Setelah para undangan menyantap hidangan yang disediakan, sekitar pukul 20.00 wib Sultan Serdang memasuki ruangan acara. Didahului oleh para pengawal yang memeragakan jurus-jurus silat, Tuanku Luckman dengan memakai pakaian kebesaran Kesultanan Serdang melangkah tegap menuju singgasana yang telah disediakan. Tatkala Tuanku Luckman telah duduk di Singgasananya, enam orang gadis cantik berpakaian adat membawakan tarian sakral ”Menjunjung Duli”. Tarian ini bercerita tentang ucapan terimakasih dan penghormatan rakyat kepada sultannya.</p>
<p><strong><em>To read the rest article click <a href="http://melayuonline.com/opinion/?a=a1JSL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&amp;l=tamasya-budaya-di-sumatra-utara" target="_blank">here</a></em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=261&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/17.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">17</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamasya Budaya di Sumatra Utara (Bagian I)</title>
		<link>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-i/</link>
		<comments>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 06:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Salehudin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://asalehudin.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Medan: Sebuah “Kota Tua” Sejak Senin, 27 Juli sampai Kamis, 30 Juli 2009, Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., (Pemangku BKPBM), Yuhastina Sinaro, S.STPar. (Humas BKPBM), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog Universitas Gadjah Mada dan Konsultan Melayuonline.com), Ahmad Salehudin, MA., (redaktur Melayuonline.com), dan Aam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=255&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Medan: Sebuah “Kota Tua”</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="6" src="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/6.jpg?w=460" alt="6"   /></p>
<p>Sejak Senin, 27 Juli sampai Kamis, 30 Juli 2009, Tim Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta yang terdiri dari Mahyudin Al Mudra, SH. MM., (Pemangku BKPBM), Yuhastina Sinaro, S.STPar. (Humas BKPBM), Dr. Aris Arif Mundayat (Antropolog Universitas Gadjah Mada dan Konsultan <strong><em>Melayuonline.com</em></strong>), Ahmad Salehudin, MA., (redaktur <strong><em>Melayuonline.com</em></strong>), dan Aam Ito Tistomo (Fotografer) melakukan muhibah budaya di Sumatra Utara (Medan, Langkat, dan Serdang Bedagai). Muhibah ini bertujuan untuk menyusuri jejak kejayaan Melayu di Sumatra Utara dan merangkainya menjadi permadani kebudayaan sehingga dapat dijadikan sarana untuk belajar, dikembangkan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah, dan didayagunakan untuk menopang kesejahteraan masyarakat. Aktivitas Tim BKPBM di Sumatra Utara akan dilaporkan dalam beberapa tulisan bersambung.</p>
<p>Jarum jam menunjukkan pukul 13.15 wib, ketika pesawat yang ditumpangi tim BKPBM  mendarat di Bandara Polonia Medan, Senin, 27 Juli 2009. Setelah mengurus barang bawaan, kami bergegas menuju pintu ke luar dan menemui Bang Aris yang mendapat tugas dari Tengku Mira Sinar (Putri Bungsu Sultan Serdang) untuk menemani dan mengantar kami melakukan ziarah kebudayaan di Sumatra Utara.<span id="more-255"></span></p>
<p>Keluar dari kawasan Bandara Polonia dan memasuki kota medan kami disambut oleh arus lalu lintas yang agak macet. Namun, kemacetan itu tidak terasa menjemukan karena mata kami dimanjakan oleh bangunan-bangunan kuno peninggalan abad XIX menjulang tinggi di kanan dan kiri jalan-jalan yang kami lalui. Menyusuri jalan-jalan di kota Medan membuat perasaan seolah-olah terbang jauh menuju abad XIX. Inilah awal perjalanan kami melakukan ziarah budaya di ”kota tua” Medan.</p>
<p>Selain keberadaan Istana Maimoon, Masjid Raya Al Mashun, stasiun kereta api, dan menara air peninggalan Belanda yang kini dimiliki Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi, identitas Medan sebagai “kota tua” juga diperkuat oleh puluhan gedung tua yang menyebar rata di sudut kota. Gedung-gedung tersebut saat ini sebagian masih difungsikan, namun ada juga yang dibiarkan tak terurus, bahkan tidak sedikit yang dihancurkan dan diganti dengan bangunan baru.</p>
<p>Gedung-gedung kuno bersejarah itu tidak saja menghadirkan suasana “kuno”, tetapi juga kegemilangan Medan di masa lalu. Gedung-gedung itu seolah-olah bercerita tentang suatu masa di mana Medan meraih kejayaannya. Selain itu, gedung-gedung kuno itu juga menjadi jembatan penghubung antargenerasi kota medan. Oleh karena itulah, keberadaan gedung-gedung kuno tersebut mutlak untuk dilestarikan. Para <em>stakeholder</em> (pemerintah, pihak swasta, pemangku adat, dan pemangku kepentingan lainnya) harus bersama-sama menjaga agar bangunan-bangunan kuno tersebut tidak ditelan arus modernisme dan kerakusan kapitalisme.</p>
<p>Berdasarkan laporan beberapa media massa, tidak sedikit bangunan-bangunan berumur di atas lima puluh dan ratusan tahun di kota Medan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dihancurkan. Alasan klasik yang diajukan dalam proses penghancuran itu, yaitu untuk modernisasi kota Medan. Semua aktivitas yang dilakukan guna menyokong modernisasi, seperti pelebaran jalan, pendirian pusat-pusat perdagangan, gedung-gedung baru atas nama dinamika perputaran ekonomi, tidak jarang harus mengorbankan gedung-gedung lama yang dianggap sebagai penghambat pembangunan.</p>
<p>Banyak gedung-gedung tua yang menandai proses perjalanan sejarah kota Medan kini hanya dapat disaksikan dalam bingkai foto bisu. Foto-foto itu bertutur tentang kejayaan masa lalu, bercerita tentang sebuah masa di mana kota Medan menjadi pusat modernisasi di Sumatra. Gedung-gedung tua yang kini hanya dapat ditemui dalam catatan sejarah di antaranya adalah Gedung PT Mega Eltra, bekas Kantor Bupati Deli Serdang, Gedung South East Asia Bank, Kantor Dinas Pekerjaan Umum Medan, bangunan bersejarah Balai Kerapatan Adat, bekas kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD), dan gedung eks Bank Modern.</p>
<p>Gedung-gedung kuno yang telah dihancurkan tersebut memiliki nilai sejarah yang cukup penting, tidak saja bagi perkembangan kota Medan, tetapi juga bangsa Indonesia. Gedung BKD misalnya, berfungsi cukup penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indoensia.  Tempat ini digunakan oleh Mohammad Hasan dari Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Sumatra Utara (Sumut), untuk mengabarkan adanya proklamasi kemerdekaan RI kepada para raja dan sultan di daerah Sumut.</p>
<p>Kami seolah-olah tersadar dan kembali dari berziarah ke masa lalu ketika mobil yang kami tumpangi memasuki halaman rumah kediaman Sultan Serdang yang juga sejarawan Melayu, Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II. Di depan pintu rumah, Tuanku Luckman yang masih kelihatan gagah diusia 76 tahun nampak berdiri bersama beberapa anggota keluarga. Beliau mempersilahkan kami memasuki ruang tamu.</p>
<p>Secara khusus, Tuanku Luckman mengajak Mahyudin ke ruang dalam. Rupanya, Tuanku Luckman menyampaikan hal-hal khusus yang harus dipersiapkan terkait rencana pemberian Gelar Adat Kesultanan Serdang kepada Mahyudin yang akan dilakukan pada malam harinya. Setelah dirasa cukup, kami mohon diri untuk segera ke hotel yang telah disediakan dan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan dalam Perhelatan Agung II dan Anugerah Adat Kesultanan Serdang, yang akan dilaksanakan pukul 20.00 wib.</p>
<p><strong>To read the rest article click <a href="http://melayuonline.com/opinion/?a=RmlzL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&amp;l=tamasya-budaya-di-sumatra-utara" target="_blank">here</a></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/asalehudin.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/asalehudin.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/asalehudin.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/asalehudin.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/asalehudin.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/asalehudin.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/asalehudin.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/asalehudin.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/asalehudin.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/asalehudin.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/asalehudin.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/asalehudin.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/asalehudin.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/asalehudin.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=asalehudin.wordpress.com&amp;blog=3952904&amp;post=255&amp;subd=asalehudin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://asalehudin.wordpress.com/2009/08/18/tamasya-budaya-di-sumatra-utara-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Udin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asalehudin.files.wordpress.com/2009/08/6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">6</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
