Merarik : Upacara Pernikahan Khas Sasak, Nusa Tenggara Barat

October 10, 2008

A. Asal-usul

“Saya tidak ingin menikah dengan seorang laki-laki yang tidak berani mengambil resiko melarikan diri dengan saya. Dia akan kelihatan lemah, baik di mata saya maupun orang lain dari desa saya bila dia meminta izin kepada ayah saya. Sebenarnya ayah saya akan melemparnya ke luar rumah bila dia mencoba melakukan hal itu” (Bartholomen, 2001: 204).

Membicarakan pernikahan Sasak, tidak bisa tidak membicarakan merarik, yaitu melarikan anak gadis untuk dijadikan istri. Merarik sebagai ritual memulai perkawinan merupakan fenomena yang sangat unik, dan mungkin hanya dapat ditemui di masyarakat Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Begitu mendarah dagingnya tradisi ini dalam masyarakat, sehingga apabila ada orang yang ingin mengetahui status pernikahan seseorang, orang tersebut cukup bertanya apakah yang bersangkutan telah merarik atau belum. Tulisan Bartholomen di atas secara jelas menunjukkan bahwa merarik merupakan hal yang sangat penting dalam perkawinan Sasak. Bahkan, meminta anak perempuan secara langsung kepada ayahnya untuk dinikahi tidak ada bedanya dengan meminta seekor ayam (Bartholomen, 2001: 195).

Menurut Judith Ecklund (1977: 96), pada tahun 1970-an merarik secara kultural dilakukan oleh sekitar 95 % masyarakat Sasak untuk memulai perkawinan. Tradisi ini bagi masyarakat Sasak seringkali dianggap sebagai kawin lari, sehingga mas kawin yang dibayarkan disebut hadiah kawin lari (sajikrama). Selain itu, walaupun sebenarnya mengadopsi tradisi orang-orang Bali, pelarian diri seolah-olah merupakan inti sari dari praktek perkawinan Sasak,.

Walaupun merarik merupakan tradisi impor dari Bali, dalam perkembangannya tradisi ini menjadi cara paling terhormat bagi laki-laki Sasak untuk menikahi seorang perempuan. Alasannya, merarik memberikan kesempatan kepada para pemuda, yang hendak beristri, untuk menunjukkan kejantanannya (Bartholomen, 2001: 203). Sifat jantan merupakan simbolisasi sosok suami yang bertanggungjawab dalam segala kondisi terhadap keberlangsungan keluarganya. Orang laki-laki yang melakukan merarik telah membuktikan dirinya sebagai seorang pemberani. Hal ini karena pelaku merarik, sebagaimana diatur dalam ketentuan adat Sasak, harus menghadapi bahaya dibunuh apabila tertangkap. Sedangkan bagi mereka yang tidak melakukan merarik dianggap lemah dan tidak pantas menjadi seorang suami sebagaimana kutipan pada awal tulisan ini.

Untuk meminimalisir bahaya yang harus ditanggung pelaku merarik, maka segala cara digunakan agar pada saat melakukan merarik tidak tertangkap oleh masyarakat, misalnya dengan menggunakan kekuatan magis. Dengan menggunakan kekuatan magis, seorang lelaki dapat memanggil gadis pujaannya secara gaib dari tempat yang cukup jauh. Cara ini meminimalisir bahaya merarik.

“…satu malam ketika dia sedang dudu-duduk di rumahnya memikirkan mengenai menu makan malam, sebuah perasaan aneh datang kepadanya. Tiba-tiba, dia merasa dipaksa berjalan ke sawah dipinggiran desanya. Dalam keadaan linglung dan melayang, dia berjalan tanpa tujuan di sepanjang jalanan sepi hingga bertemu dengan seorang yang berdiri di depan tempat berdirinya…..” (Bartholomen, 2001: 194)

Seiring perkembangan zaman, jumlah orang yang melakukan merarik semakin sedikit (Bartholomen, 2001: 202). Bahkan, merarik yang dilakukan terkadang hanya bersifat simbolis belaka, yaitu dengan ”sepengetahuan” kedua orang tua si gadis. Perkelahian yang mungkin timbul akibat dari tertangkapnya orang yang melakukan merarik juga dilakukan hanya untuk menggugurkan ketentuan adat. Misalnya, walau orang yang melakukan merarik dikeroyok oleh puluhan warga, pada akhirya dia mampu membebaskan diri.

Terlepas dari semakin tidak populernya merarik sebagai ritual awal perkawinan Sasak, ritual ini telah melahirkan sebuah perkawinan yang khas masyarakat Sasak. Mas kawin yang harus diserahkan oleh pihak laki-laki, misalnya, disebut sajikrama (hadiah kawin lari). Barang yang digunakan sebagai sajikrama merupakan sanksi yang dibebankan kepada mempelai laki-laki karena melarikan anak gadis orang. Oleh karenanya, besarnya sajikrama dihitung berdasarkan pelanggaran yang mungkin saja terjadi sebelum, selama, dan sesudah penculikan. Kemungkinan denda yang harus dibayarkan antara lain (Budiwanti, 2000: 252-254): pertama, ngampah-ngampah ilen pati. Denda ini dijatuhkan karena orang tua mempelai wanita merasa bahwa sebelum, selama, dan sesudah melarikan si gadis, mempelai pria telah mempermalukan anak mereka, misalnya sebelum acara merarik si pria mengunjungi si gadis terlebih dahulu. Padahal menurut adat Sasak, seorang pemuda tidak boleh menyambangi atau mengunjungi gadis yang hendak dia curi.

Kedua, terlambat salabar, yaitu denda yang harus dibayar oleh mempelai laki-laki apabila orangtua mempelai perempuan menganggap keluarga mempelai pria terlambat mengabarkan penculikan anak gadis mereka. Menurut adat Sasak, waktu toleransi untuk memberikan kabar penculikan adalah tiga hari. Lebih dari tiga hari, maka pihak pengantin laki-laki harus membayar denda terlambat salabar. Bahkan, adakalanya juga harus membayar ngampah-ngampah ilen pati karena telah membikin malu keluarga pengantin perempuan.

Ketiga, dosan jeruman. Denda ini harus dibayarkan oleh mempelai laki-laki karena dia menggunakan perantara dalam melakukan pelarian diri anak gadis orang. Keempat, lain keliang. Denda yang dibayarkan karena mempelai pria berasal dari tempat yang berbeda, misalnya si gadis berasal dari Sasak, sedangkan mempelai prianya berasal dari Jawa. Kelima, ajin gubug. Denda ini dibayarkan atas permintaan komunitas tempat mempelai wanita tinggal. Keenam, turunan bangsa. Denda ini dibebankan kepada pengantin pria yang mempunyai status sosial lebih rendah daripada pengantin perempuan. Oleh karena perkawinan model ini menyebabkan status sosial perempuan menjadi turun, maka pembayaran turunan bangsa pada hakekatnya adalah konpensasi kehilangan status sosial tersebut. Semakin tinggi status sosial perempuan, semakin besar pula denda turunan bangsa yang harus dibayarkan oleh pihak mempelai laki-laki. Dan ketujuh, lain-lain. Sajikrama ini dibayarkan untuk pengembangan sarana publik, seperti pembangunan dusun, madrasah, masjid, dan lain sebagainya.

Beragam denda yang mengikuti merarik, menjadikan biaya yang harus ditanggung pengantin laki-laki sangat besar. Kondisi ini, tidak saja memberatkan mempelai laki-laki tetapi juga meletakkan perempuan pada posisi dilematis. Aturan-aturan tersebut menyebabkan perempuan tidak bebas memilih pasangan hidupnya, karena harus menunggu orang yang mampu membayar sajikrama. Salah seorang responden, misalnya, mengatakan bahwa banyak orang tidak menggunakan adat Sasak dalam perkawinannya karena biaya yang harus dikeluarkan sangat besar. Kondisi ini menyebabkan sejumlah perempuan Sasak, khususnya golongan bangsawan, tidak menikah (Budiwanti, 2000, 261). Fenomena ini, dengan mengutip salah satu anggota masyarakat Sasak, digambarkan oleh Budiwanti sebagai berikut:

”…para bangsawan … punya kekuatan besar untuk menentukan harga mempelai wanita. Apabila mempelai pria berasal dari status yang lebih rendah dari mempelai wanitanya, maka permintaan mereka akan harga mempelai wanita bukan alang kepalang besarnya dan di luar kesanggupan untuk membayarnya. Tidak mengherankan jika tuntutan ini menjadi bumerang bagi kaum bangsawan itu sendiri. Siapa orangnya yang berani mengawini putri mereka, kalau mempelai pria harus membayar 11 ekor sapi…… Permintaan harga mempelai wanita itu telah mengganjal langkah orang-orang kebanyakan untuk kawin lari dengan putri-putri mereka” (Budiwanti, 2000: 261).

To read a complete article click here

About these ads

8 Responses to “Merarik : Upacara Pernikahan Khas Sasak, Nusa Tenggara Barat”

  1. Menarik mengenal adat perkawinan daerah lain, khususnya adat sasak.

  2. [...] Merarik : Upacara Pernikahan Khas Sasak, Nusa Tenggara Barat [...]

  3. eRu said

    Saya adalah salah satu reporter stasiun tv swasta di jakarta tanggal 11-15 Mei rencananya akan melakukan peliputan disana. Kira-kira bisa kasih informasi ga,nara sumber yang bisa diwawancarai, yang pernah melakukan tradisi Merarik ini? terima kasih

    • tya said

      langsung aja ke bagian lembaga kebudayan lombokm di sana, atau bisanya setiap hari minggu di daearh sana past ada orang yang nyongkolan. atau langsung aja wawancaranya ma kakak aye.,,, hehe,,

  4. ayu said

    minta daftar pustakanya donk,saya lagi nulis tentang kebudayaan sasak juga ni tapi saya ndak nemu – nemu bukunya.. klu berniat kirim aja k almt e-mail sy “mbah_chantik@yahoo.com” ato hub saya di no 085937031417, makasi sebelumnya..

  5. nuninuninu said

    hwaa. makasi banyaaaaakk
    banyaaaak semeton. ini pencerahan awal buat tugas PLB saya..

    dari kmaren gak nemu2.. makasi makasi..

    asak plecing maeh

    • Ahmad Salehudin said

      Secara umum, rumah adat antara kepri dan riau sama, yang membedakan pada pucuk atasnya. Riau menggunakan simbol silang, sedangan Kepri tunggal menjulang…

  6. Hudan Linnas said

    Saya Sangat tertarik dengan Budaya sasak terutama tradisi merarik…
    biasanya masalah kawin lari sangat tdk etis bagi adat daerah lain, sprt adat bugis yg memberi hukuman adat dibunuh bagi pelaku kawin lari…
    Sungguh adat di indonesia ini variatif, saya tertarik utk mengambil sbg referensi penelitian skripsi,,, desa mana yah yg masih kental melaksanakan adat itu?
    dan tolong kirimkan judul buku tentang adat merarik di email saya
    hudanlinnas@ymail.com
    thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: